Semalam Ke Rumahmu

SHARE:

Sebuah Cerita Pendek Romantis bejudul "Semalam ke Rumahmu" karya Abdul Manan

Baca Juga :

Riyani, bersediakah engkau jadi kawan dalam hidup sampai matiku? Izinkan aku mencium sebutir debu yang melekat pada ujung kakimu sebagai tanda tulusnya perasaan ini padamu.”

Itu adalah kalimat terakhir yang kuucapkan-kungkapkan kepada Riyani. Perempuan yang kukagumi. Perempuan yang dengan hadirnya menjadikanku mau berlama-lama hanya untuk sekadar memandangi cantik pada rupanya. Bunga suci Kampung Kerapuh yang terkenal akan baik pada budinya. Namun, sekian lama pengungkapan itu dinyatakan dan belum sekali pun kabar dari dirinya memberikan jawaban atas ungkapanku itu.

Begitu terdengarkan olehnya, tiada kudapati sepatah kata pun dari mulutnya. Tiada pertanda menanggapi pada sorot matanya. Hanya nampak raga yang balik kanan dan melangkah cepat untuk pergi. Meninggalkan aku seorang diri. Terduduk pada bumi dengan bunga kenanga masih tergenggam tanganku yang semakin layu meninggalkan keindahannya. Sebuah sore yang membuatku jadi orang dengan penuh tanda tanya. Menantikan jawaban di setiap waktunya. Berharap ada angin segar membawa kabar baik dari Riyani. Oh, Riyani, pujaan hatiku. Kutunggui jawabmu.

Malam pada Kerapuh saat ini begitu gelap. Baru sekali ini aku melintasi kampung Riyani tinggal setelah satu bulan yang lalu. Pada rumah-rumahnya tiada menggunakan lampu bernyala putih. Semuanya menggunakan lampu bohlam bernyala kuning. Kata orang setempat lampu bernyala putih hanya boleh digunakan untuk tempat-tempat yang dianggap suci. Seperti masjid, makam, dan tempat-tempat yang menjadi peninggalan sejarah pada kampung itu. Nyala putih adalah lambang kesucian. Sedang nyala kuning melambangkan manusia yang tak selamanya bersih, selalu ada baik-buruk menyertai. Begitu yang kudengar.

Aku melintasi Kampung Kerapuh ini berkendara motor bututku. Terang jalanan menggunakan lampu bernyala kuning. Sebuah kampung yang sejuk sebagaimana kampung-kampung di dekat pegunungan atau dipenunhi pepohonan yang rindang.

Riyani, belum sekali ini aku mengunjungi rumahmu sejak satu bulan yang lalu. Waktu kau mengenalkan aku pada orang tuamu sebagai kawan belajar sekaligus kawan mengajimu satu malam. Dan malam ini ingin aku mampir kembali sebagai kawan pula. Kawan yang ingin membersamaimu hingga maut menjemput. Kawan yang sedang menanti jawaban atas pengungkapanku kala itu.

Aku ucapkan salam di depan pintu setelah kuparkirkan motor bututku pada halaman rumahmu. Belum ada jawaban pula. Aku ucapkan salam yang kali kedua. Dan baru dengan salam yang ketiga kudapati jawaban di sisi lain pintu itu sebelum akhirnya menyerah pergi sebagaimana Burhanuddin al-Islam Al-Zarnuji dalam Talimul Al-Muta’alim ajarkan. Dibukanya pintu rumahmu dan aku dipersilakan masuk. Itu ibumu.

“Saya minta maaf, Bu. Berkunjung tanpa membawa suatu apapun.”

Tidak mengapa. Kehadiranmu pun sudah membuat Ibu senang. Nanti saja kau bawa apa yang ingin kau bawa, juga sekalian ibu dan bapakmu kau ajak ke sini. Mau bertemu Riyani?

Aku hanya tersenyum. Dia seakan tahu saja maksud kedatanganku, bersahut-sahutan dengan keheranan yang merasuk. Apa maksudnya ibu dan bapakku sekalian kubawa? Kuajak kemari? Kucium tangan ibumu dan dipersilakannya aku duduk.

Dia melangkah meninggalkanku seorang diri. Sepertinya hendak memanggilmu. Setelah beberapa lama, aku menyadari sepertinya kau belum mau, atau barangkali belum siap menemuiku. Lebih buruk lagi tidak lagi mau menemuiku. Apalagi setelah yang sudah kuungkapkan kepadamu, barangkali. Cepat-cepat kubuang prasangka itu. Mungkin kau sedang bersiap-siap.

Dari pintu yang kumasuki sebelumnya kudapati ayahmu yang baru pulang dari musola. Aku berdiri dan kujabatkan tanganku seraya mengucap salam kepadanya. Dia persilakan aku duduk kembali dan kami mengobrol bersama. Berhadap-hadapan dipisahkan meja kayu dari pangkal pohon jati yang terukir dan terpoles menjadi sedemikian rupa.

Kami saling bertanya kabar. Saling bertanya aktivitas keseharian dan, di sela percakapan itu ibumu datang menyuguhkan minuman. Teh yang hangat. Pas sekali dengan dinginnya malam ini. Aku pandangi lebih dalam ke ruangan yang lain dan kau belum juga keluar.

Melihatku mengintip ke dalam, ayahmu juga melakukannya sebentar. Kemudian memandangi aku.

Bagaimana dengan usaha sayuran hidroponikmu?” tanya Ayahmu melanjutkan perbincangan.

Alhamdulillah baik, Pak. Dan sekarang sudah stabil.” Meskipun aku mengobrol dengan ayahmu, dalam benakku masih juga menyimpan tanda tanya. Mengapa engkau belum juga keluar? Adakah engkau malu menemuiku? Ah, pikiran itu datang lagi.

“Keluarga Bapak itu sederhana, Mas. Kami tidak muluk-muluk untuk suatu hal yang tidak terlalu penting. Setidaknya penghidupan setiap hari ada. Apa yang kami pakai menutupi aurat kami, pun menjadikan kami sebagai orang yang sopan dan patut dpandangi. Apa yang kami makan setidaknya mampu mengenyangkan kami setiap harinya. Dan apa yang kami tinggali setidaknya mampu melindungi kami, memberikan rasa aman, dan membuat kami bisa beristirahat sebelum akhirnya beraktivitas kembali,” ayahmu menjelaskan.

Aku hanya mengangguk kemudian menunduk. Keheranan bertambah pula dalam diriku. Muncul pertanyaan lain. Mengapa ayahmu menceritakan perihal hidupnya dan keluarganya? Sedang tiada sepatah kalimat tanya kusampaikan pada dirinya. Sedang kau yang kunanti belum keluar juga. Oh, Riyani. Lama sekali kau. Ayahmu menambahkan lagi:

Pada akhirnya, beristikamahlah kamu dalam beribadah kepada yang memberi hidup. Lakukan hal-hal yang baik. Jadikan setiap yang kamu lakukan bernilai pahala. Niscaya Allah memberikan kemudahan. Berusahalah. Berusahalah semampumu. Jangan lupa untuk bersyukur. Hari-hari yang dilanda wabah ini bisa kau jadikan kesempatan untuk lebih mendekatkan diri kepadaNya.”

Insyaallah, Pak. Insyaallah. Doakan saya,” jawabku singkat. Dan keherananku pun semakin menjadi-jadi. Kuminum kembali teh yang sudah mulai mendingin sembari kupandangi dinding rumah yang tergantung foto-foto keluargamu. Aku membayangkan suatu hari nanti foto kita bersama keluargamu dan keluargaku dapat berdampingan di atas sana. 

Hari sudah semakin malam. Dan pada akhirnya kau pun tak juga keluar. Aku sangat menyayangkan. Habis sudah tehku. Aku pamit. Aku berdiri. Kuucapkan terima kasih. Ibumu turut menghampiri. Pada akhirnya aku tak bisa menemui kamu. Dan keheranan ini akan terus bersarang pada diriku tanpa sekali pun kudapati pencerahan. Mengapa, Riyani? Aku minta diri. Kujabat dan kucium tangan ayah-ibumu. Kusampaikan maafku telah merepotkan mereka. Dan mereka mengantarkan aku keluar rumahmu.

Di depan pintu, ayahmu mendekatiku. Keheranan itu kembali menghantui pikiranku. Sempat ingin kutanyakan. Namun, tak ada keberanian pada diriku. Ayahmu berbisik:

Riyani suka kamu. Dia sudah cerita. Dan aku merestuimu.”

Masyaallah. Alangkah kagetnya aku. Seketika keheranan itu hilang dari pikiranku. Aku tersenyum bahagia. Kupandangi ayahmu dan ibumu yang juga tersenyum bahagia. Kujabat dan kucium kembali tangan mereka sebagai tanda hormatku setinggi-tingginya. Terima kasih kuucapkan kembali kepada mereka. Aku akan pamit membawa pengharapan. Tanpa keheranan, tanpa tanda tanya. Di depan rumahmu aku bersujud syukur. Lama kupejamkan mataku sembari tersenyum bahagia. Cukup lama hingga seseorang membangunkanku. Dan baru kutahu itu semua hanya mimpi dalam tidurku.

Penulis : Abdul Manan

Siluet Wanita Berjilbab
Siluet wanita berjilbab. Photo by Idina Risk via pexels.com

Fianosa.com merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi generasi muda menulis tentang apa pun. Submit tulisanmu secara mandiri lewat link ini ya.
Nama

Agama,4,Agent Of Change,1,Akreditasi,1,All England,1,Amin Rais,1,Anak Jalanan,1,Anti Korupsi,2,Anugerah Pesona Indonesia,1,Aplikasi,1,Aplikasi SehatQ,1,Argentina,1,Atambua,12,Baby Boomer,1,Badan Kurus,1,Badminton,1,Bali,1,Banjir,1,Bank Indonesia,1,Banyuwangi,1,Bawaslu,3,Beasiswa,4,Beasiswa Jadi PNS,1,Beasiswa Pemuda Mendunia,1,Beasiswa SejutaCita,1,Belajar,2,Bencana,1,Bencana Siklon Seroja,1,Bisnis,4,Boba,1,BUCIN,1,Budak CInta,1,Budaya,9,Bulutangkis,1,Bupati Nganjuk,1,BWF,1,Cafe Amor Dualaus,1,Catur,2,Cerita,13,Cerita Pendek,12,Cianjur Foundation,1,CIASTECH 2020,1,Cinta,1,Cipta Kerja,1,Coding,1,Copa America 2021,1,Covid-19,22,CPNS,3,Crowdfunding,1,Damai,1,Dana Desa,1,Daniel Osckardo,7,Debat Pilkada,1,Demokrasi,2,Desa,1,Desember,1,Diego Maradona,1,Digital,1,Direktori Penyakit,1,Dokumen,1,Drama Hukum,1,Drama Korea,1,Drama Korea Tentang Hukum,1,Edhy Prabowo,1,Ekonomi,13,Empat Agenda Seorang Pemulung,1,English Corner,4,English Poem,1,Euro 2020,1,Fabio Carvalho,1,Fanatisme,1,Features,1,Film Hukum,1,Filosofi Stoisisme,1,Fourth Industry Revolution,1,Fresh Graduate,1,Fulan Fehan,2,Fulham,1,Gabriel Kristiawan Suhassatya,9,Ganja,1,Gemerlap Kota,1,Generasi Alpha,1,Generasi Muda,1,Generasi Z,2,Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia,1,Ghetto,1,Gilbert Ryle,1,GMNI,1,google classroom,1,Guru,2,Gus Mus,1,Hakordia,1,Hari Anti Korupsi Sedunia,1,Hari Bumi,2,Hari Guru,4,Hari Kartini,1,Hari Kebangkitan Nasional,1,Hari Kesehatan Dunia,1,Hari Lingkungan Hidup Sedunia,1,Hari Persaudaraan Manusia Internasional,2,Himpunan Mahasiswa Islam,1,HMI,1,Home Education,1,Hubungan,1,Hujan,1,Hujan Untuk Kita,1,Hukum,20,Hukum Film,2,Ide Kreatif,1,IKADAR Bali,1,Ikawiga,1,Indonesia,6,Influencer,1,Inggris,2,Internasional,2,Ir. Soekarno,1,Isak Tangis,1,Islam,3,Islam Kejawen,1,Jhoni Lae,3,Jodoh,1,John Rawls,1,Juliari Batubara,1,Kaboax,1,Karir,16,Keadilan Sosial,1,Kejaksaan,1,Kemenangan,1,Kesehatan,1,Kesejahteraan Masyarakat,1,Komunikasi,2,Komunitas,1,Koperasi,1,Korupsi,2,KPK,1,KRI Nanggala 402,1,Kuliah Kerja Nyata,1,Kupang,1,Leadership,1,Lelaki Berkumis Tipis,1,Liburan Kuliah,1,Lokastithi Giribadra,1,Lomba,4,Lomba Karya Tulis Ilmiah,2,Lomba Menulis,2,Long life learning,1,Longsor,1,Lowongan kerja,8,Mafia Tanah,1,Mahasiswa,6,Malang,1,Malang United,1,Mama,1,Maret,1,Matematika,1,Media Sosial,1,Membaca,1,Membuat SKCK,1,Memperpanjang SKCK,1,Mena,1,Meningkatkan Fokus,1,Menteri Sosial,2,Menyenangkan,1,Messi,1,Michael Focault,1,MICIN,1,Milenial,15,Millenial,9,Minuman boba,1,Miskin Cinta,1,Motivasi,15,MTQ Nasional 28,1,Muhamad Sulaeman,3,Nadiem Anwar Makarim,1,Nasib Negeri Kanibal,1,Nasional,5,Neo Ghetto,1,New Normal,1,News,11,NTT,4,Nusa Tenggara Timur,10,Olahraga,12,Omnibus Law,2,Opini,201,Opinion,3,Orleans Masters 2021,1,Pahlawan Tanpa Nama,1,Pahlawan Tanpa Tanda Jasa,1,Pana Mone Hill Stone,1,Pancasila,2,Pandemi Covid-19,11,Pantai Pasir Putih Atambua,1,Paskah,2,Paulo Freire,1,Paus Fransiskus,2,PCPM 36,1,Pemilihan Umum,1,Pemilu,1,Pemimpin,1,Pemulihan Ekonomi,5,Pendaftaran Siswa Baru,2,Pendidikan,40,Pendidikan Keluarga,1,Pendidikan Politik,1,Penguatan Bawaslu,1,Perkawinan,1,Petuah Sukma,1,Piala Kemenpora,1,Pikabo,1,Pilihan Redaksi,24,Pilkada,1,Politik,7,Politik Uang,1,Pompa ASI,1,Posko Babarsari Yogyakarta,1,Potensi Diri,1,PPPK,1,Pray For NTT,1,Print Uang,1,Printing Money,1,Profesi,1,Prostitusi,1,Psikologi,1,Publik Speaking,1,Puisi,47,Puisi Tentang Hujan,1,Puisi Tentang Ibu,1,Purbalingga,1,Quarter Life Crisis,1,Quote,2,Quotes Kata-Kata Bijak,2,R.A Kartini,1,Raiders Salomon Marpaung,4,Ramalan Zodiak,1,Redeskripsi Sastra,1,Regional,6,Revolusi Industri,4,Ronaldo Filipus Nara,5,Ruang Rindu,1,Sabut Kelapa,1,sastra,30,SehatQ,1,Sei,1,Sejuta,1,Semua Berita,20,Senja,1,Senja dan Rindu,1,Sentilan Pagi,1,Senyum Rembulan,1,Sepakbola,4,SKCK,1,SMA,1,SMA 7 September 99 Atambua,4,SMP,1,SMP 7 September 99 Atambua,3,Sobat Cinta,1,SOCIN,1,Sociopreneurship,1,Sosial,71,Sponsored,2,Status Sosial,1,Sumatera Barat,1,Sumba,1,Taekwondo,1,Tahun Baru 2021,1,Tamtama,1,Tanggung Jawab,1,Teknologi,4,Teori Psikologi Adler,1,The Sunrise Of Java,1,Theory Of Justice,1,They Feynman,1,TikTok,1,Timor Leste,3,Tips,22,Tips Kepemimpinan,1,TNI AU,1,Toraja,1,Trash Hero Belu,1,Travel,13,Tuhan Bangkit,1,Ulang Tahun,1,UMKM,2,Universitas Timor,1,Universitas Widyagama,1,Urbanisasi,1,Utilitarianisme,1,Video Game,1,Virus Corona,13,Webinar,1,Website,1,Wirausaha,1,Wisata,2,Yayasan Nusa Timur,7,Youtube,1,Youtuber,1,Zodiak,1,zoom,1,
ltr
item
Fianosa - Website Sumber Informasi Inspiratif: Semalam Ke Rumahmu
Semalam Ke Rumahmu
Sebuah Cerita Pendek Romantis bejudul "Semalam ke Rumahmu" karya Abdul Manan
https://1.bp.blogspot.com/-7qfXEDQE6eM/YJLRy2wLzVI/AAAAAAAABbU/re89pv0rUo0eHIu4gUSOtyEVJr_I8fTnwCLcBGAsYHQ/w640-h426/FOTO%2BFIANOSA%2B%252810%2529.jpg
https://1.bp.blogspot.com/-7qfXEDQE6eM/YJLRy2wLzVI/AAAAAAAABbU/re89pv0rUo0eHIu4gUSOtyEVJr_I8fTnwCLcBGAsYHQ/s72-w640-c-h426/FOTO%2BFIANOSA%2B%252810%2529.jpg
Fianosa - Website Sumber Informasi Inspiratif
https://www.fianosa.com/2021/05/semalam-ke-rumahmu.html
https://www.fianosa.com/
https://www.fianosa.com/
https://www.fianosa.com/2021/05/semalam-ke-rumahmu.html
true
3872901063732751062
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts LIHAT SEMUA Baca Selengkapnya Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All REKOMENDASI UNTUK ANDA Topik Terkait ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Topik Terkait Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share to a social network STEP 2: Click the link on your social network Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy Table of Content