Mental Illness pada Millenial: Seputar QLC, Teori Psikologi Adler, dan Filosofi Stoisisme

“Wah, lu gendutan ya sekarang!” “IP gausah tinggi-tinggi kali, ntar pas kerja juga yang diliat skill, bukan IP.” “Lihat tuh si dia udah ker...


“Wah, lu gendutan ya sekarang!”
“IP gausah tinggi-tinggi kali, ntar pas kerja juga yang diliat skill, bukan IP.”
“Lihat tuh si dia udah kerja, kamu ngapain? Nyusahin keluarga aja sampe sekarang ga ada kerjaan.”


Beberapa statement seperti itu mungkin bukan hal yang asing lagi, terutama bagi sebagian besar remaja dan pemuda yang sekarang lebih dikenal sebagai generasi millennial dan generasi Z. Hari-hari ini, tidak sedikit dari mereka yang akhirnya merasa tidak memiliki tujuan yang jelas dalam hidup lantaran ujaran-ujaran demikian yang datang dari sekeliling mereka. Oleh sebab itu, sebelum beranjak pada tema besar seperti pendidikan, sosial budaya, dan politik, maupun ekonomi, kiranya bukan tindakan yang salah untuk mula-mula memperhatikan internal diri sendiri terlebih dahulu sebab untuk menciptakan sesuatu yang besar tentu harus dimulai dari hal kecil dan dari diri sendiri terlebih dahulu.

Mental Illness pada millenial. Sedih, Galau, Stress
Ilustrasi Mental Illness pada Millenial Via Pexels.com
Dalam kajian psikologi, perasaan yang kemudian muncul dan akhirnya memberi dampak negatif dalam kepribadian kita seperti insecure, anxiety, mental illness, dan lain sebagainya ini diistilahkan sebagai Quarter Life Crisis (QLC). Masih dalam kajian psikologi, rupanya, QLC sendiri adalah kondisi atau gejala psikologi normal yang dialami oleh setiap manusia pada kisaran umur 20-an. Akan ada banyak sebab yang melatarbelakangi munculnya QLC ini, akan tetapi, yang menjadi faktor utamanya adalah karena pada usia tersebut, manusia mengalami transisi besar-besaran dari usia anak-anak ke usia dewasa. Dengan adanya perubahan tersebut, tentu saja adalah hal yang alamiah jika kemudian di usia tersebut, kita merasa menjadi pribadi yang berbeda dan harus menyesuaikan diri dengan kenyataan dan harapan masyarakat.

Sebagian besar generasi milenial dan gen-z terkadang menganggap QLC ini sebagai musuh terberat karena dapat mengakibatkan stres dalam diri. Bagaimana tidak, masa kanak-kanak kita yang dipenuhi dengan idealisme tinggi yang tak terbatas seketika memasuki usia dewasa decekoki dengan realitas yang tidak sebanding dengan apa yang kita harapkan dahulu. Idealisme kanak-kanak yang super imajinatif dan ambisius seperti ingin menjadi siswa teladan di sekolah ternyata dihajar dengan realitas banyaknya ujaran keiriian dan persaingan yang ketat dari lingkungan sekolah. Idealisme untuk menjadi pintar saat kuliah justru dipukul dengan realitas banyaknya nyinyiran bahwa IP atau indeks prestasi tidak menjadi tolak ukur kesuksesan sehingga menurunkan semangat. Idealisme ingin menjadi pribadi yang bersahabat dan menyenangkan serta percaya diri kemudian dihancurkan dengan rundungan dan body-shaming. Idealisme untuk membahagiakan orangtua dan keluarga malah pupus lantaran perbandingan kualitas diri dengan orang lain yang akhirnya memupuskan asa dan cita-cita.

Kemudian, lahirlah pertanyaan-pertanyaan berikut: apakah sukses ada kaitannya dengan QLC? Apakah kesuksesan di masa mendatang akan menghilangkan QLC yang kita alami? Atau apakah justru berdamai dengan diri sendiri akan menimbulkan kesuksesan? Dari pertanyaan-pertanyaan tersebut, dapatlah rasanya disederhanakan menjadi pola rumus demikian: 1. Sukses → Bahagia atau 2. Bahagia → Sukses?

Tentu saja akan ada banyak definisi kebahagiaan dan kesuksesan, bergantung pada dari sudut pandang apa kita memandang sebuah kesuksesan ataupun kebahagiaan itu sendiri. Dalam bukunya, Tasawwuf Modern, Prof. Dr. Hamka atau lebih populer dengan sebutan Buya Hamka mengatakan bahwa orang miskin akan berpendapat bahwa kebahagiaan adalah ketika ia menjadi kaya sehingga dapat membagikan hartanya kepada mereka yang tidak punya. 

Adapun orang yang merindu mendefinisikan bahagia ketika bertemu dengan apa yang ia rindukan. Orang sakit akan menyatakan bahagia adalah hidup sehat. Mungkin dari sebab inilah muncul istilah rumput tetangga akan selalu lebih hijau dari rumput sendiri. Akan tetapi, dari sekian banyak pendapat yang mencoba mendefinisikan apa itu kesuksesan dan kebahagiaan, rasanya bersyukur dan bersabar adalah fondasi utama atas segala apa yang kita terima sebagai anugerah terbaik.

Pola sukses → bahagia ataupun bahagia → sukses boleh digunakan siapa saja dan tidak ada yang benar-benar salah ketika mereka memilihnya. Dengan fakta bahwa lebih kurang 35.000 orang pertahun melakukan bunuh diri di Jepang yang notabenenya adalah negara Asia termaju dengan kualitas penduduk yang sukses secara finansial, bukan berarti harta benda akan menjamin kebahagiaan. Model-model yang bersusah payah memanipulasi fisik agar nampak lebih cantik atau ganteng ternyata tidak sedikit yang depresi. Pejabat negara yang bergelar dan berpangkat tinggi rupanya juga terlibat dalam kasus narkotika membuktikan pangkat bukanlah sumber bahagia, Intinya adalah bahwa kebahagiaan tidak dapat diukur dari hal-hal eksternal seperti finansial, pangkat atau jabatan, status atau semacamnya. Lalu, bagaimana bahagia dan sukses diukur? Bagaimana menyelesaikan problematika QLC dalam diri kita?

Dalam upaya mencari jawaban dari pertanyaan tersebut, tidak ada salahnya kemudian kita melihat sedikit pendapat seorang ahli psikologi Jerman terkemuka, Adler, dalam pembahasannya tentang psikologi individu. Adler dalam buku Psikologi kepribadian karangan Sumadi Suryabrata berpendapat bahwa dalam diri manusia terdapat dua dorongan pokok, yaitu ichhaftigkeit (dorongan keakuan) dan sachlichkeit (dorongan kekitaan). Kaitan antara dua dorongan tersebut ia nyatakan saling berbanding terbalik. Artinya semakin besar seseorang mengejar ichhaft-nya, semakin kecil sachlich-nya. Sederhananya, semakin besar egoisitas seseorang, semakin kecil kepeduliannya pada masyarakat. Begitupula sebaliknya.

Selain itu, Adler juga memperkenalkan termometer penilaian diri yang mengaitkan antara dua dorongan pokok tersebut dengan usaha memegahkan diri (usaha untuk menjadi superior) dan perasaan rendah diri (perasaan inferior). Kaitan antara usaha untuk menjadi superior pun digambarkan berbanding terbalik dengan perasaan inferior. Jadi, makin besar atau dalam perasaan inferior seseorang, maka akan makin besar pula usahanya untuk menjadi superior. Begitupula sebaliknya. Hal tersebut dilakukan oleh seseorang untuk memenuhi rasa kekurangan yang ada dalam dirinya. Oleh sebab itu, ketika misalnya seseorang merasa kurang pada kecantikannya, ia akan berusaha kuat untuk menutupi kekurangcantikannya itu sebesar perasaan inferioritasnya itu.

Dari ilustrasi di atas, tentu kita menjadi paham bahwa menjadi pribadi yang terlalu ichhaftigkeit bukanlah hal yang baik, tetapi menjadi personal yang over dalam sachlichkeit pun bukan pilihan paling bijak. Istilah “hidup sewajarnya” akhirnya muncul sebagai solusi terbaik ketika menyadari akan pentingnya ichhaftigkeit, sachlichkeit, inferioritas, dan superioritas dalam diri masing-masing individu. Maka, tidak heran jika pada bagian pembahasan mengenai solusi yang Adler sarankan, ia mengemukakan perubahan besar atau perubahan radikal dalam diri manusia adalah faktor penentu terbentuknya kepribadian yang ideal.

Berbicara mengenai perubahan, ada baiknya kita juga beralih pada salah satu karya lain inspiratif yang juga merupakan karya international best seller asal Jepang, Berani Tidak Disukai (terjemahan dari Kirawareru Yuki) karangan Ichiro Kishimi dan Fumitake Kuga yang memperbincangkan seputar psikologi dan filosofi bahagia. Pandangan dan gagasan filosofis Adler yang disajikan dalam bentuk dialog antara seorang filsuf dengan seorang pemuda dalam buku tersebut menyajikan teori dan filsafat yang melihat cara pandang kita terhadap realitas sebagai faktor keberhasilan terjadinya suatu perubahan dalam diri. Biasanya, penyebab seseorang tidak mau berubah adalah karena pola pikirnya yang masih dirasuki oleh ketakutan lantaran tidak ada kejelasan dan jaminan kebahagiaan baginya di masa depan. Oleh sebab itu, cara pandang harus dibarengi pula dengan keberanian yang cukup untuk mendukung kesuksesan seseorang dalam menyambut perubahan ke arah yang lebih baik.

Contoh kecil, ketika seseorang introvert merasa dirinya kurang dalam hal interaksi kepada sesama dan mengingingkan suatu perubahan, maka perubahan yang mesti ia lakukan adalah mulai untuk membuka diri dalam berkomunikasi. Tentu saja bagi seorang introvert, terbuka untuk dapat saling berbagi bersama adalah hal yang tidak mudah dan pasti menimbulkan banyak keraguan, seperti apakah ia akan berhasil, apakah menjadi orang yang terbuka akan membuatnya menjadi lebih baik, apakah dengan berubah ia menjadi sasaran pembicaraan orang lain atau tidak, dan berbagai macam kegelisahan lainnya. Dalam konteks ini, dikarenakan sudah ada niatan untuk merubah diri menjadi lebih baik (yang menurutnya adalah untuk bisa berbaur dan berinteraksi dengan sesama), maka perlu disematkan keberanian atas tekad yang sudah ia tancapkan itu disertai cara pandang yang positif dan optimis, tentunya.

Upaya terakhir yang juga merupakan pelengkap agar kita dapat meminimalisasi QLC yang ada dalam diri kita adalah dengan menerapkan filosofi stoisisme dalam mengambil sebuah keputusan. Filosofi ini mengajarkan kepada kita untuk berfokus pada hal-hal yang dapat kita ubah. Dengan kata lain, filosofi tua ini memberitahu kita how to controll our mindset to the controllable situations around us. Tentu sebelum menerapkannya, kita harus terlebih dahulu mengidentifikasi manakah hal-hal yang tidak dan dapat dikendalikan oleh diri kita. Salah satu buku yang mengajarkan pentingnya filosofi stoisisme ajaran Zeno, yang telah berumur 2000 tahun lebih ini adalah buku Filosofi Teras karya Henry Manampiring.

Agar lebih mudah memahaminya, contoh sederhana berikut mungkin dapat membantu pemahaman kita bersama. X adalah orang yang tidak memiliki keuangan yang memadai untuk membiayai tagihan sekolahnya. Dampaknya, ia sering diremehkan dan dikucilkan serta dicemooh oleh teman-temannya. Jika X mengamini perkataan negatif dari teman-temannya tersebut, maka tidak ada harapan bagi X untuk merubah dirinya sebab ia akan termakan kata-kata tersebut dan benar-benar akan banyak membuang waktu kepada hal yang hampir mustahil untuk dirubah alias tidak berguna. Akan tetapi, karena ia memegang filosofi stoisisme, ia tahu bahwa ia tidak akan bisa merubah atau mengendalikan pikiran orang lain, yang ia bisa ubah adalah pikirannya dan usahanya untuk menuju kearah yang lebih baik. Oleh sebab itu, ia tidak menghiraukan ujaran negatif teman-temannya dan hanya berusaha untuk berfikir positif dan berbuat maksimal menuju kesuksesannya.

Dengan demikian, lengkaplah sudah perbekalan yang kita butuhkan dalam rangka menggempur QLC: powerful mindset, courage, and changes. Tentukan cita-cita, bentuk cara pandang yang positif dan optimis dalam mindset, kemudian berlari sekuat tenaga menuju asa tersebut tanpa harus mendengar negativity dari lingkungan sekitar. Ketika pola pikir seperti itu telah berakar kuat, keras, dan dalam, maka kita hanya perlu memupuknya setiap hari dan lalu memetik buahnya di kemudian hari sambil bernostalgia terhadap usaha-usaha yang telah kita lakukan dengan begitu apiknya.

Singkatnya, milenial dan gen-z di era revolusi industri 4.0 saat ini tak lagi harus khawatir, karena sebenarnya bahagia dan sukses bukanlah tentang penampilan fisik, kekayaan, jabatan, atau hal-hal semacamnya. Kebahagiaan dan kesuksesan ternyata hanyalah soal cara pandang. Sesederhana itu.

“If you live according to what others think, you will never be rich.” – Seneca (Letters).

Penulis : Abdullah Wildan Ulhaq [Mahasiswa Fakultas Komunikasi Bisnis Telkom University]
Name

Aplikasi,1,Aplikasi Resep Masakan,1,Atambua,2,Beasiswa,1,Belajar,1,Bisnis,4,Budaya,6,Cerita,7,Crowdfunding,1,Dari Komunitas,1,Desa,1,Ekonomi,1,Featured,6,Features,1,Fulan Fehan,1,Hukum,13,Internasional,1,Karir,5,Kemenangan,1,Kesehatan,1,Komunitas,1,Leadership,1,Lowongan kerja,4,Menyenangkan,1,Milenial,2,Motivasi,14,Olahraga,1,Opini,111,Pemimpin,1,Pendidikan,16,Pilihan Redaksi,8,Psikologi,1,Publik Speaking,1,Puisi,21,REFLEKSI,2,Review,1,Sosial,28,Teknologi,2,Tips,11,Travel,10,YummyApp,1,
ltr
item
Inspiring Everyone - Fianosa: Mental Illness pada Millenial: Seputar QLC, Teori Psikologi Adler, dan Filosofi Stoisisme
Mental Illness pada Millenial: Seputar QLC, Teori Psikologi Adler, dan Filosofi Stoisisme
https://1.bp.blogspot.com/-udw99ggvlzc/X0XQA9Oy0NI/AAAAAAAAAmA/XkBJ7t0fWf03C77XGHEs7i3AtMe63BcbACLcBGAsYHQ/s640/pexels-photo-236151.jpeg
https://1.bp.blogspot.com/-udw99ggvlzc/X0XQA9Oy0NI/AAAAAAAAAmA/XkBJ7t0fWf03C77XGHEs7i3AtMe63BcbACLcBGAsYHQ/s72-c/pexels-photo-236151.jpeg
Inspiring Everyone - Fianosa
https://www.fianosa.com/2020/08/mental-illness-pada-millenial-seputar.html
https://www.fianosa.com/
https://www.fianosa.com/
https://www.fianosa.com/2020/08/mental-illness-pada-millenial-seputar.html
true
3872901063732751062
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share to a social network STEP 2: Click the link on your social network Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy Table of Content