Rasina dan Dekonstruksi Stigma Pelacurku

SHARE:

Cerita Pendek Berjudul Rasina dan Dekonstruksi Stigma Pelacurku karya Randy Malinan

Baca Juga :

 “Aku hanya melacurkan diri, tidak dengan hatiku”. Kalimat datar yang terdengar serius ini ia ucapkan setelah dengan romantis kecupan hangat aku berikan pada keningnya, saat kami tengah berpelukan dalam satu selimut.

Untuk kesekian kalinya aku tidur dengannya. Rasina, perempuan cantik ini adalah langgananku soal hubungan seks. Aku tidak mengenal Rasina sebelumnya begitu dekat, hubungan kami sebatas jasa seks. Perkenalan kami melalui salah satu  media sosial. Saat itu aku dengan temanku iseng melakukan pencarian dengan tagar open-bo area kota yang kami tempati – dan munculah berbagai postingan dan akun yang didominasi para PSK, kami seperti tengah menyusuri lokaliasi prostitusi, namun ini di dunia maya. Satu demi satu postingan dan akun yang muncul aku perhatikan, namun dari kesemua itu, ada satu akun yang  membuatku penasaran, akun dengan nama Kartika Sari, pada gambar sampul profilnya seorang gadis cantik ini mengenakan kerudung. 

Masih dengan penasaran aku menyusuri profil akun tersebut, tidak banyak foto yang terpampang pada dinding akunnya, hanya dua gambar yang ia posting. Lewat foto tersebut itu juga, ia memperkenalkan dirinya. Ditulisnya, nama Kartika Sari, Umur 20 tahun, dan ia adalah seorang mahasiswa, juga tertera nomornya. Tidak ada alasan bagiku untuk menyalin nomor tersebut pada kontakku.

Empat hari setelahnya, untuk pertama kali aku memberanikan diri untuk mengirim pesan pendek pada nomor yang telah kusimpan atas nama Kartika Sari, tidak butuh waktu lama menunggu, balasan pesan muncul, dengan detil penjelasan yang kubaca seperti mendapatkan sebuah promo jasa, pada balasan pesan itu pula Kartika Sari mengirim alamat lengkapnya melalui fitur google maps. Setelah kuklik lokasi yang ia bagikan, keberadaannya di sebuah hotel yang tidak jauh dari tempatku. Tidak banyak basa-basi, aku menyanggupi semua syarat yang ia sisipkan pada penjelasan yang terlihat seperti sebuah promo dari perusahan jasa itu. Aku menancapkan sepeda motorku ke hotel tersebut. Kamar 107 kuketuk, tak lama ia membuka pintunya, sikapnya ramah, juga komunikatif, tidak seperti yang kubayangkan ketika berkirim pesan dengannya. 

Masih dengan tampilan berbusana muslimah, ia terlihat begitu anggun, persis seperti pada foto di akun medianya. Pada bibirnya yang tipis itu kemerahan tanpa gincu, matanya berkedip harmonis bersamaan senyum yang mengahanyutkan pandanganku. Kecantikannya tidak sedikitpun memperlihatkan identitas jasa seksualnya. Mula-mula ia yang duduk berjarak dua meter mendekatiku, “siapa namamu, Mas?” tanyanya lembut, “Badai, seperti yang kusampaikan sebelumnya” suaraku agak gemetaran, entah apa penyebabnya. “Aku tidak pernah menyembunyikan identitas” lanjut bibirku berucap untuk memastikan aku tidak begitu gugup dibuatnya. “Oh baik. Namaku Rasina, aku sering memakai nama samaran”. “Mas Badai, gak buru-buru?” Tanyanya lanjut, “Untuk sekarang aku gak ada urusan penting” jawabku sekenanya. Kami saling mendekat dan memandang...

***

Pertemuan pertama dengan Rasina membuatku sering melamun -- memikirkannya. Pada sentuhan yang ia berikan mampu mengguncangan benteng imanku.

Yang sering muncul dalam hatiku “apa iya, aku jatuh hati pada seorang pelacur?”. Aku kebingungan dengan apa yang sedang kurasakan, pikiran berkecamuk, gelisah tentu membawaku pada keputusan untuk kembali menghubunginya. Tanpa memikirkan panjang lebar, aku mengirim pesan pada Rasina, jawabannya berbeda seperti awal mula aku menghubunginya, kali ini tidak ada penjelasan seperti iklan jasa promo. Hanya Rasina masih mengingangatkan bahwa syaratnya masih seperti biasanya. Aku sudah memikirkannya dan tentu kusanggupi.

Aku terbuai dibuatnya, Rasina bagiku bukanlah sebatas langgganku soal seks, jauh dari pada itu aku telah menaruh perasaan padanya. Aku kerap dihantui rasa cemas dan cemburu akan kerjaannya sebagai seorang pelacur. Aku telah berbicara jujur padanya, namun sayang, bagi Rasina, kejujuranku itu, hanya sebatas gombalan dan modus untuk mendapatkan tidur gratis dengannya. Tidak salah jika apa yang Rasina pikirkan tentangku seperti itu. Sebab ia tumbuh dengan dunia yang berbeda dari perempuan lainnya.

Suatu kali, aku berusaha untuk mengajaknya berbicara serius tentang kehidupan masing-masing, aku memancingnya dengan menceritakan tentang kehidupanku. Rasina pun terpancing, ia menceritakan pengalaman dan kehidupannya. Memang aku sengaja untuk mengajaknya, bukan hanya berbagi cerita, namun juga untuk mengetahui bagaimana jalannya hingga ia terjerumus melakoni kehidupannya sekarang ini.

Matanya berkedip, menarik nafas dalam-dalam, menghembuskannya. Tepat di sampingku, perempuan cantik yang telah membuatku jatuh hati ini memandang langit-langit kamar “ini untuk pertama kalinya aku menceritakannya pada orang, Mas”, suaranya terbata-bata, seakan ada kejadian pahit yang ingin ia ceritakan, “terima kasih, aku merasa dipercayai” sambutku.

“Aku semata wayang, juga yatim piatu. Sepuluh tahun yang lalu orang tuaku meninggal dalam kecelakaan pesawat menuju Sumatera. Saat itu umurku 8 tahun. Sebelum keberangkatan Bapak dan Ibuku, aku dititipkan pada Paman dan Tanteku. Kata Bapakku ‘lagi urusan mendadak’, dan  aku diminta untuk menumpang di Pamanku. Setelahnya Bapak dan Ibu akan balik dan menjemputku. 

Dua hari telah berlalu, Bapak dan Ibuku belum juga menjemputku, pun tidak ada kabar. Satu minggu, dua minggu hingga berbulan-bulan, tak ada sediktpun kabar yang kudapatkan dari orang tuaku. Kata Tante, orang-tuaku masih banyak urusan” Rasina mendehem, ia merubah posisi menghadap ke arahku, bersamaan tanggan mungilnya ia ayunkan ke atas dadaku. “Mas, masih mau dengar, kan?... “Aku sedang menyimaknya” jawabku.

Kedua bola matanya berkaca-kaca, “entalah, mas. Aku mau melanjutkan ceritaku seperti apa. Intinya, suatu ketika memasuki 15 tahun, aku baru diberitahu oleh Tanteku bahwa, Ibu dan Bapakku telah lama meninggal dunia. Jujur aku begitu terpukul, penantianku selama ini terbilang sia-sia. Pohon rindu yang aku tanam seperti ditebang – dicabut berserta akar-akarnya. Kronologi dengan detil diceritakan oleh Tanteku. Meski begitu, Mas, di lain sisi aku sepertinya sudah terbiasa dengan ketidakhadiran Ibu dan Bapak. Paman dan Tante sudah kuanggap sebagai orang tua kandung. Cuma meraka keluargaku satu-satunya. Mas Badai, bolehkah aku jujur? Dari semua kisah hidupku, inilah yang begitu pahit kurasakan. Aku ingin saja bunuh diri”. Aku beranjak dari peraduan, kuambil air yang berada di atas sebuah meja mungil dekat ranjang, kusodorkan airnya, “Minumlah. Lanjutkan ceritamu, percayalah, aku turut merasakannya, aku bersamamu”, Rasina memberikan lagi gelas yang sudah kosong, kutaruh kembali gelas itu pada posisinya semula.

“Mas...” kedua telapak tangannya ia tutupi wajahnya, tak terkira, perempuan cantik nan anggun ini telah meneteskan air mata dan terkekeh di pelukanku. Pelukan kuberikan dengan erat dan hangat, bersamaan kubisikan lagi kembali kata-kataku, “tenanglah.. aku bersamamu”.

“Orang yang sudah kuanggap Bapakku itu mas..” Kembali Rasina terdiam.

“Jika kisahmu itu berat untuk diceritakan. Tak apa. Mungkin nanti di lain waktu” Bujukku.

“Mas... Sore itu. Kamis, 12 Mei 2016, Pukul 14.0an. Aku sedang tertidur pulas di kamarku. Aku jarang mengunci kamarku dari dalam saat tidur, hanya menutupnya. Tiba-tiba aku merasa ada yang menyentuh ku. Saat aku membuka mataku, sontak kekagetanku. Seorang dengan tubuh besar dengan mata tajam menatapku penuh berapi-api. Aku dengan lemas cepat-cepat berupaya bangkit untuk melarikan  diri. Aku berteriak begitu kencangnya. Alih-alih kuperhatikan, tertanya lelaki tersebut adalah Pamanku. ‘Apa yang Bapak lakukan? Mau apa?’ pertanyaan bertubi-tubi kuluncurkan padanya. Ia hanya terdiam tanpa kata. Langka kakinya mengarah padaku yang tengah terpojok di sudut kamarku. Upayaku melarikan  diri terbilang sia-sia. Dengan kekuatan ia manarikku dengan paksa. Melemparkanku terkapar kembali di ranjangku. Ia bahkan memukulku dengan begitu kejamnya.”

Air mata bercucuran membasahi dadaku, masih dalam pelukanku -- aku tak mampu menciptakan kata-kata untuk menanggapi cerita dari Rasina. Yang kutahu kini hanyalah tetap memeluknya.

“Mas...Orang tua siapa yang kejam seperti Pamanku itu?” Aku masih tetap terdiam. Aku berupaya mencari kata yang tepat untuk menjawabnya. Entalah. “Aku akan selalu bersamamu” tanpa persiapan kalimat tersebut mengalir begitu saja dariku.

“Aku akan berusaha dan kerja keras, kamu akan kubayar setiap harinya. Agar tak satu pun lelaki yang boleh membayarmu. Maukah kau berjanji? Aku menyayangimu, Rasina. Aku ingin hidup bersamamu. Dan tak ingin lagi seorangpun yang boleh menyentuhmu”

“Mas, aku memang pelacur. Aku telah lama melacurkan diriku. Namun tidak dengan Hatiku! Aku keluar dari rumah neraka itu dan memulai hidup sendiri tanpa satupun orang yang membantuku. Suatu ketika, entah apa yang telah membawaku hingga memilih jalan seperti ini. Aku melacurkan diri untuk mendapatkan uang. Agar hidup dan sekolahku tetap berlanjut” Rasina sepertinya tidak terima dengan apa yang aku ucapkan, apa yang aku inginkan.

“Mas. Aku pernah mencintai seseorang. Ya, dia begitu baik padaku, hari-hariku kembali ceria bersamanya. Namun, ia pergi begitu saja ketika kuberikan apa yang dia inginkan. Meniduriku tanpa ikatan perkawainan dan begitu tahu bahwa aku tak perawan, dia marah, memaki,  bahwa aku adalah seorang lonte yang telah memberikan tubuhku begitu saja pada lelaki. Mas tanpa menikahiku lalu meniduriku begitu saja – lalu apa bedanya ia dengan kamu, Mas? Jawablah, Mas”

“Apa maksudmu?” aku mencoba memahami pertanyaannya yang membandingkanku dengan mantan pacarnya.

“Oke, maaf, Mas. Bagini saja” Rasina beranjak dari pelukanku, mengambil posisi duduk. Aku tak mengikutinya. Sepertinya ia ingin mengajakku berdiskusi. Aku mengambil posisi menyandarkan badan beralaskan bantal yang menumpuk.

“Mas, kenapa selalu pelacur dianggap sampah masyarakat? Bukankah kami hanya mencari uang? Mas banyak kenalanku yang juga terjerumus dalam dunia seperti ini. Semuanya memiliki cerita tragis dan trauma masing-masing”

“Ya, aku memahaminya” sambutku

“Kita ini hanya melacurkan diri, Mas. Tapi tidak cinta... Itu kenapa aku gak suka jika cintamu kusambut dengan bayaran, seperti yang mas sampaikan tadi”

“Aku tak bermaksud seperti itu. Aku hanya ingin...”

“Ya, aku mengerti Mas. Aku yakin Mas Badai orang baik. Tapi ini aku hanya sedikit mencurahkan isi hatiku, Mas, boleh, kan?”

“Silahkan” Sambutku

“Mas. Kenapa selalu label pelacur itu diberikan pada kami? Sedang banyak juga yang melacurkan diri. Bedanya hanya soal nilai tukarnya” Rasina menyetel posisi duduknya. Ia terlihat begitu serius ingin berbincang denganku. 

“Gini Mas. Kami, Pelacur atau PSK ini, nilai tukarnya adalah uang. Kami melakukan relasi seksual tersebut dengan dan tujuan uang. Lalu pada sebagian besar yang lainnya melakukan hubungan tersebut dengan nilai tukar dan tujuannya adalah cinta. Ada pula pada sebagian generasi muda melakukan hal tersebut untuk gaya-gayaan. Mas, aku meski seorang pelacur, namun aku mendapat kesempatan sekolah juga bergaul. Maka itu aku tahu banyak pengalaman teman-temanku dalam melakukan hubungan intim dengan lawan jenis. Mas, kami para pelacur ini, mau pelacur karena uang, cinta maupun gaya, sama-sama punya hubungan (relasi seksual) yang sama, bedanya ya, tadi itu, pada soal nilai tukar atau tujuannya saja.” Rasina kelihatan berapi-api kali ini. Mungkin hal yang ia sampaikan ini sudah lama dipendamnya.

Suhu kamar terlalu dingin, mataku mengarah pada remot ac yang tergeletak pada meja mungil yang kutaruh gelas air, aku meminta Rasina untuk menurunkan volume ac-nya. Rasina kembali kurangkul. Kami berpelukan. Bersamaan, aku meretapi bagaimana seorang perempuan yang dikaruniai kecantikan ini memiliki kisah yang begitu tragis. 

Kini aku memahami bagaimana Rasina bisa terjerumus dalam jalan hidup yang ia sendiri pun tak sudi ini. Dan, ada pula pelajaran yang kini kumahfumi bahwa salah besarlah orang-orang di luar sana yang terus membangun stigma terhadap para pelacur. Sebab, bukankah pada dasarnya semuanya adalah pelacur? Melacurkan diri karena dan untuk cinta? Uang? Atau gaya-gayaan? Sama saja! Sama-sama melakukan relasi seksual.

Aku menarik dan menghembuskan nafas dalam-dalam. Kupandangi wajah Rasina. “Biarkan aku mencintaimu”. Bisikku pelan. “Aku hanya melacurkan diri, tidak hati” Rasina mengelak.

“Ya, aku mengerti. Tapi, jangan membohongi diri. Aku tahu, kita saling mencintai”. Rasina mengeratkan pelukannya, kecupan mesra pada pipiku kali terasa berbeda. Aku pun menyimpulkan itu adalah jawabannya. Kita saling mencintai.

Penulis : Randy Malinan

Wanita Bersedih
Ilustrasi Wanita Tuna Susila. Photo via Pexels.com

Fianosa.com merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi generasi muda menulis tentang apa pun. Submit tulisanmu secara mandiri lewat link ini ya.
Nama

Agama,4,Agent Of Change,1,Akreditasi,1,All England,1,Amin Rais,1,Anak Jalanan,1,Anti Korupsi,2,Anugerah Pesona Indonesia,1,Aplikasi,1,Aplikasi SehatQ,1,Argentina,1,Atambua,12,Baby Boomer,1,Badan Kurus,1,Badminton,1,Bali,1,Banjir,1,Bank Indonesia,1,Banyuwangi,1,Bawaslu,2,Beasiswa,4,Beasiswa Jadi PNS,1,Beasiswa Pemuda Mendunia,1,Beasiswa SejutaCita,1,Belajar,2,Bencana,1,Bencana Siklon Seroja,1,Bisnis,4,Boba,1,BUCIN,1,Budak CInta,1,Budaya,9,Bulutangkis,1,Bupati Nganjuk,1,BWF,1,Cafe Amor Dualaus,1,Catur,2,Cerita,16,Cerita Pendek,15,CIASTECH 2020,1,Cinta,1,Cipta Kerja,1,Coding,1,Copa America 2021,1,Covid-19,22,CPNS,3,Crowdfunding,1,Damai,1,Dana Desa,1,Daniel Osckardo,7,Debat Pilkada,1,Demokrasi,2,Desa,1,Desember,1,Diego Maradona,1,Digital,1,Direktori Penyakit,1,Dokumen,1,Drama Hukum,1,Drama Korea,1,Drama Korea Tentang Hukum,1,Edhy Prabowo,1,Ekonomi,13,Empat Agenda Seorang Pemulung,1,English Corner,4,English Poem,1,Euro 2020,1,Fabio Carvalho,1,Fanatisme,1,Features,1,Film Hukum,1,Filosofi Stoisisme,1,Fourth Industry Revolution,1,Fresh Graduate,1,Fulan Fehan,2,Fulham,1,Gabriel Kristiawan Suhassatya,9,Ganja,1,Gemerlap Kota,1,Generasi Alpha,1,Generasi Muda,1,Generasi Z,2,Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia,1,Ghetto,1,Gilbert Ryle,1,GMNI,1,google classroom,1,Guru,2,Gus Mus,1,Hakordia,1,Hari Anti Korupsi Sedunia,1,Hari Bumi,2,Hari Guru,4,Hari Kartini,1,Hari Kebangkitan Nasional,1,Hari Kesehatan Dunia,1,Hari Lingkungan Hidup Sedunia,1,Hari Persaudaraan Manusia Internasional,2,Home Education,1,Hubungan,1,Hujan,1,Hujan Untuk Kita,1,Hukum,19,Hukum Film,2,Ide Kreatif,1,IKADAR Bali,1,Ikawiga,1,Indonesia,6,Influencer,1,Inggris,2,Internasional,2,Ir. Soekarno,1,Isak Tangis,1,Islam,3,Islam Kejawen,1,Jhoni Lae,3,Jodoh,1,John Rawls,1,Juliari Batubara,1,Kaboax,1,Karir,16,Keadilan Sosial,1,Kejaksaan,1,Kemenangan,1,Kesehatan,1,Kesejahteraan Masyarakat,1,Komunikasi,2,Komunitas,1,Koperasi,1,Korupsi,2,KPK,1,KRI Nanggala 402,1,Kuliah Kerja Nyata,1,Kupang,1,Leadership,1,Lelaki Berkumis Tipis,1,Liburan Kuliah,1,Lokastithi Giribadra,1,Lomba,4,Lomba Karya Tulis Ilmiah,2,Lomba Menulis,2,Long life learning,1,Longsor,1,Lowongan kerja,8,Mafia Tanah,1,Mahasiswa,6,Malang,1,Malang United,1,Mama,1,Maret,1,Matematika,1,Media Sosial,1,Membaca,1,Membangun Setting Lokasi,1,Membuat SKCK,1,Memperpanjang SKCK,1,Mena,1,Meningkatkan Fokus,1,Menteri Sosial,2,Menyenangkan,1,Messi,1,Michael Focault,1,MICIN,1,Milenial,15,Millenial,9,Minuman boba,1,Miskin Cinta,1,Motivasi,15,MTQ Nasional 28,1,Muhamad Sulaeman,2,Nadiem Anwar Makarim,1,Nasib Negeri Kanibal,1,Nasional,5,Neo Ghetto,1,New Normal,1,News,9,NTT,4,Nusa Tenggara Timur,9,Olahraga,12,Omnibus Law,2,Opini,197,Opinion,3,Orleans Masters 2021,1,Pahlawan Tanpa Nama,1,Pahlawan Tanpa Tanda Jasa,1,Pana Mone Hill Stone,1,Pancasila,2,Pandemi Covid-19,11,Pantai Pasir Putih Atambua,1,Paskah,2,Paulo Freire,1,Paus Fransiskus,2,PCPM 36,1,Pemilihan Umum,1,Pemilu,1,Pemimpin,1,Pemulihan Ekonomi,5,Pendaftaran Siswa Baru,2,Pendidikan,38,Pendidikan Keluarga,1,Pendidikan Politik,1,Penguatan Bawaslu,1,Perkawinan,1,Pesta Demokrasi,1,Petuah Sukma,1,Piala Kemenpora,1,Pikabo,1,Pilihan Redaksi,25,Pilkada,1,Politik,8,Politik Uang,1,Pompa ASI,1,Posko Babarsari Yogyakarta,1,Potensi Diri,1,PPPK,1,Pray For NTT,1,Print Uang,1,Printing Money,1,Profesi,1,Prostitusi,1,Psikologi,1,Publik Speaking,1,Puisi,46,Puisi Tentang Hujan,1,Puisi Tentang Ibu,1,Purbalingga,1,Quarter Life Crisis,1,Quote,2,Quotes Kata-Kata Bijak,2,R.A Kartini,1,Raiders Salomon Marpaung,4,Ramalan Zodiak,1,Redeskripsi Sastra,1,Regional,4,Revolusi Industri,4,Ronaldo Filipus Nara,5,Ruang Rindu,1,Sabut Kelapa,1,sastra,30,SehatQ,1,Sei,1,Sejuta,1,Semua Berita,18,Senja,1,Senja dan Rindu,1,Sentilan Pagi,1,Senyum Rembulan,1,Sepakbola,4,SKCK,1,SMA,1,SMA 7 September 99 Atambua,4,SMP,1,SMP 7 September 99 Atambua,3,Sobat Cinta,1,SOCIN,1,Sociopreneurship,1,Sosial,69,Sponsored,2,Status Sosial,1,Sumatera Barat,1,Sumba,1,Taekwondo,1,Tahun Baru 2021,1,Tamtama,1,Tanggung Jawab,1,Teknologi,4,Teori Psikologi Adler,1,The Sunrise Of Java,1,Theory Of Justice,1,They Feynman,1,TikTok,1,Timor Leste,3,Tips,22,Tips Kepemimpinan,1,Tips Menulis,1,TNI AU,1,Toraja,1,Trash Hero Belu,1,Travel,13,Tuhan Bangkit,1,Ulang Tahun,1,UMKM,2,Universitas Timor,1,Universitas Widyagama,1,Urbanisasi,1,Utilitarianisme,1,Video Game,1,Virus Corona,13,Webinar,1,Website,1,Wirausaha,1,Wisata,2,Yayasan Nusa Timur,7,Youtube,1,Youtuber,1,Zodiak,1,zoom,1,
ltr
item
Fianosa - Website Sumber Informasi Inspiratif: Rasina dan Dekonstruksi Stigma Pelacurku
Rasina dan Dekonstruksi Stigma Pelacurku
Cerita Pendek Berjudul Rasina dan Dekonstruksi Stigma Pelacurku karya Randy Malinan
https://1.bp.blogspot.com/-tKVzxvkXNug/YVV_TjbfPQI/AAAAAAAABow/ZH_4vXJLzc8cPjvLSUzcIzzS-1SiQNXNwCLcBGAsYHQ/w640-h426/Cerita%2BPendek.jpeg
https://1.bp.blogspot.com/-tKVzxvkXNug/YVV_TjbfPQI/AAAAAAAABow/ZH_4vXJLzc8cPjvLSUzcIzzS-1SiQNXNwCLcBGAsYHQ/s72-w640-c-h426/Cerita%2BPendek.jpeg
Fianosa - Website Sumber Informasi Inspiratif
https://www.fianosa.com/2021/09/rasina-dan-dekonstruksi-stigma-pelacurku.html
https://www.fianosa.com/
https://www.fianosa.com/
https://www.fianosa.com/2021/09/rasina-dan-dekonstruksi-stigma-pelacurku.html
true
3872901063732751062
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts LIHAT SEMUA Baca Selengkapnya Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All REKOMENDASI UNTUK ANDA Topik Terkait ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Topik Terkait Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share to a social network STEP 2: Click the link on your social network Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy Table of Content