Pantaskah Fanatisme Agama Disebut Sebagai Kejahatan Terburuk?

SHARE:

anatisme agama adalah sebuah kecendrungan di mana seseorang berkeyakinan yang sangat kuat,energik, bersemangat dan tidak simpatik terhadapa agama lain

Baca Juga :
Ilustrasi berdoa
Ilustrasi berdoa sebagai salah satu ciri orang beragama. Photo by Ric Rodrigues, via pexels.com
Iklim toleransi di Indonesia yang sudah mentradisi, saat ini dan di sini seolah-olah raib dengan maraknya kekerasan atas nama agama. Ada pelbagai aksi intoleransi yang terus menjalar di bumi Nusantara ini. Hasil riset Setara Institut menunjukan bahwa jenis pelanggaran atas kebebasan beragama dan berkeyakinan yang paling banyak terjadi pada tahun 2020 adalah tindakan intoleransi (Kompas.com, 06/04/2021). Setara Institut mencatat ada 65 kasus Intoleransi yang terjadi yang dilakukan oleh individu, kelompok warga, ormas agama hingga Majelis Ulama Indonesia. Ada aneka aksi intoleransi yakni, pelarangan ibadah bagi agama tertentu, pengrusakan rumah ibadah, pelarangan pembangunan rumah ibadah dan lain-lain.

Pelbagai aksi intoleransi ini, menunjukan bahwa semboyan Bhineka Tunggal Ika tak lebih dari sebuah mantra kosong minus efek sosial. Masyarakat begitu gampang terprovokasi dengan hasutan kecil di media sosial dan tak segan-segan mengancam atau menghabisi nyawa sesamanya demi “membela” agamanya (Oto Gusti Madung: 2017, 46). Ironisnya, pelbagai aksi intoleransi ini mengatasnamakan agama. Ada justifikasi religius demi membela kesucian agama. Pada titik ini, Swami Vivekananda, filsuf dari India menegaskan bahwa sesungguhnya aksi masyarakat ini terjebak dalam fanatisme Agama. Baginya fanatisme agama merupakan tantangan terbesar bagi dunia saat ini (Desh Raj Sirswal (ed.): 2016, 20).

Agama: Proses Realisasi Diri

Agama merupakan pengalaman paling khas dan eksistensial dalam kehidupan manusia. Sebagai pengalaman batin atau lazim dikenal dengan sebagai instansi internal, agama tersembul dari kedalaman hakiki diri manusia dalam kaitannya dengan Yang Ilahi (Dominikus Saku: 2007, 25). Pada titik ini, setiap manusia, apapun latar belakangnya, akan menciptakan agama. Agama menjadi gejala universal peradaban tanpa kecuali, dengan bentuk ekspresi yang berbeda antara satu agama dengan agama yang lain.

Bagi Swami Vivekananda, agama menjadi locus perealisasian diri bagi para penganutnya. Baginya religion is not talking and believing but it is being and becoming. Hal ini tereksplisit melalui pengalaman hidup sehari-hari. Konkritisasi dari perealisasian diri ini terkristal dalam sikap toleran, simpati, keterbukaan terhadapa sesama yang berbeda dan kritis (Desh Raj Sirswal (ed.), Op. Cit, 20). Hal ini tentunya berlaku dalam setiap agama. Tak ada satu agama pun yang mengajarakan hal-hal yang bertentangan dengan nilai-nilai yang dikemukakan oleh Swami Vivekananda melainkan sebaliknya selalu menjunjung tinggi semua nilai itu. Agama yang tertutup, intoleran dan tidak kritis (seruan profetis) sesungguhnya adalah sebuah penyangkalan akan hakikat dari agama itu sendiri.

Swami Vivekananda menegaskan juga bahwa agama bukanlah soal analisis teori kebenaran, realitas dan dunia melainkan sebuah realisasi akan kebenaran. Perealisasian inilah yang menjadi the way of salvation bagi setiap individu dan basis sosial dalam kehidupan masyarakat of Dengan demikian agama menjadi manifestasi Ilahi di dalam diri manusia (Ibid., 19).

Fanatisme Agama: Kejahatan Terburuk

Fanatisme agama merupakan gejala universal dan kompleks. Bagi Swami Vivekananda Fanatisme agama bersifat destruktif dan ingin selalu membawa perubahan mendadak. Lebih lanjut ia menegaskan fanatisme agama adalah sebuah kecendrungan di mana seseorang berkeyakinan yang sangat kuat, energik, bersemangat dan tidak simpatik terhadapa agama lain (Ibid., 20). Keyakinan yang sangat kuat, energik dan bersemangat ini membuat seseorang lupa membuka mata akan fakta pluralitas agama. Hal inilah mengerucut pada sikap eksklusif.

Di sisi lain, kaum fanatik berpendirian bahwa agama merekalah satu-satunya agama yang benar. Ruang ketertutupa pun tercipta. Lebih Jauh dari itu, terjadinya absen pengakuan eksistensi dari agama atau kelompok atau keyakinan lain. Oleh karena itu, agama atau keyakinan yang berbeda dari mereka harus dijauhi bahkan harus dilenyapkan dari kehidupan bersama. Pada umumnya cara-cara yang digunakan oleh kaum fanatik agama adalah tindakan diskriminasi, presekusi, kekerasan bahkan pembunuhan.

Dalam kerangka ini, Swami Vivekananda tidak hanya mengomentari tetapi juga memberikan kritikan keras terhadap fanatisme agama sebagai salah satu kejahatan terburuk. Hal ini karena, fanatisme agama merupakan ideologi sepihak yang ortodoks dan bersifat kekerasan. (Ibid., 19). Fanatisme agama juga sesungguhnya merupakan sebuah bentuk penyangkalan akan hakikat agama itu sendiri. Agama yang sungguh menjunjung tinggi toleransi, dialog dan menghargai kehidupan justru dipermiskin dengan sikap fanatisme yang dangkal. Di samping itu, aksi-aksi dari kaum fanatis agama justru tidak menghargai nilai kehidupan.

Jalan Keluar Dari Fanatisme Agama

Swami Vivekananda tidak hanya mengomentari dan memberikan kritikan yang keras bagi fanatisme agama tetapi juga memberikan beberapa solusi untuk keluar dari cangkang fanatisme. Pertama, setiap agama harus menanamkan dalam diri setiap penganutnya budaya toleransi dan penerimaan. Bagi Swami Vivekananda agama sesungguhnya sistem terbuka (Ibid., 21). Oleh karena itu aka selalu terbuka, mengakui eksistensi agama atau keyakinan lain dan membangun dialog. Dengan demikian sikap fanatisme yang destruktif dapat di atasi.

Kedua, Keterbukaan berlandaskan cinta. Ada berbagai cara untuk menciptakan harmoni namun hanya dalam, dengan dan melalui cinta, keharmonisan dalam kehidupan bersama akan menjadi lebih kuat (Ibid). Agama-agama di dunia merupakan fakta yang tak bisa disangkal melainkan harus diterima. Dan penerimaan yang harus dikembangkan adalah penerimaan yang berspiritkan cinta. Oleh karena itu, setiap penganut agama harus selalu memiliki sikap keterbukaan tetapi bukan hanya sekedar keterbukaan apa adanya melainkan keterbukaan yang selalu bernafaskan cinta.

Ketiga, bagi Swami Vivekananda salah satu penyebab terjadinya fanatisme agama adalah gangguan psikologi. Hal ini karena dalam dalam temuan medis, fanatisme merupakan salah satu ganguan mental. Psikolog Robert Lifton Jay mengafirmasi hal ini, di mana fanatisme meruapakan sebuah gangguan psikologi yang disebut dengan functional megalomania. Oleh karena itu, fanatisme tidak hanya membutuhkan perawatan moral dan spiritual tetapi juga perawatan psikologi (Ibid., 22).

Akhir Kata

Fanatisme agama di Indonesia sampai saat ini masih terus menjalar dalam pelbagai lini kehidupan. Fanatisme ini mengerucut pada aksi intoleransi. Pada titik ini semboyan bhineka Tunggal Ika pun tinggal slogan yang indah. Dalam kerangka yang sama, nampaknya iklim Indonesia begitu bersahabat sehingga mata rantai fanatisme agama ini tidak dapat diputuskan. Negara sepertinya ompong giginya ketika berhadapan dengan kelompok-kelompok fanatik. Namun lebih jauh dari itu, bukan hanyalah negara yang bertugas memberantas fanatisme agama di tanah air ini melainkan semua elemen masyarakat yakni agama, keluarga, sekolah dan lain-lain. Langkah solutif yang diutarakan oleh Swami Vivekananda, kira menjadi salah satu pedoman bagi semua elemen masyarakat dalam memberantas fanatisme agama di tanah air ini.

Penulis : Paskalis Suba (Mahasiswa Fakutas Filsafar-UNWIRA KUPANG)
Fianosa.com merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi generasi muda menulis tentang apa pun. Submit tulisanmu secara mandiri lewat link ini ya.
Nama

Agama,4,Agent Of Change,1,Akreditasi,1,All England,1,Amin Rais,1,Anak Jalanan,1,Anti Korupsi,2,Anugerah Pesona Indonesia,1,Aplikasi,1,Aplikasi SehatQ,1,Argentina,1,Atambua,13,Baby Boomer,1,Badan Kurus,1,Badminton,1,Bali,1,Banjir,1,Banyuwangi,1,Bawaslu,2,Belajar,2,Bencana,1,Bermanfaat Untuk Lingkungan,1,Bisnis,4,Boba,1,BUCIN,1,Budak CInta,1,Budaya,10,Bulutangkis,1,Bupati Nganjuk,1,BWF,1,Cafe Amor Dualaus,1,Catur,2,Cerita,16,Cerita Pendek,15,CIASTECH 2020,1,Cinta,1,Cipta Kerja,1,Coding,1,Copa America 2021,1,Covid-19,22,Crowdfunding,1,Damai,1,Dana Desa,1,Daniel Osckardo,7,Debat Pilkada,1,Demokrasi,2,Desa,1,Desember,1,Diego Maradona,1,Digital,1,Direktori Penyakit,1,Dokumen,1,Drama Hukum,1,Drama Korea,1,Drama Korea Tentang Hukum,1,Edhy Prabowo,1,Ekonomi,13,Empat Agenda Seorang Pemulung,1,English Corner,4,English Poem,1,Euro 2020,1,Fabio Carvalho,1,Fanatisme,1,Film Cinta Bete,1,Film Hukum,1,Filosofi Stoisisme,1,Fourth Industry Revolution,1,Fresh Graduate,1,Fulan Fehan,3,Fulham,1,Gabriel Kristiawan Suhassatya,9,Ganja,1,Gemerlap Kota,1,Generasi Alpha,1,Generasi Muda,1,Generasi Z,2,Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia,1,Ghetto,1,Gilbert Ryle,1,GMNI,1,google classroom,1,Guru,2,Gus Mus,1,Hakordia,1,Hari Anti Korupsi Sedunia,1,Hari Bumi,2,Hari Guru,4,Hari Kartini,1,Hari Kebangkitan Nasional,1,Hari Kesehatan Dunia,1,Hari Lingkungan Hidup Sedunia,1,Hari Persaudaraan Manusia Internasional,2,Home Education,1,Hubungan,1,Hujan,1,Hujan Untuk Kita,1,Hukum,19,Hukum Film,2,Ide Kreatif,1,IKADAR Bali,1,Ikawiga,1,Indonesia,5,Influencer,1,Inggris,2,Internasional,2,Ir. Soekarno,1,Isak Tangis,1,Islam,3,Islam Kejawen,1,Jhoni Lae,3,Jodoh,1,John Rawls,1,Juliari Batubara,1,Kaboax,1,Karir,4,Keadilan Sosial,1,Kemenangan,1,Kesehatan,1,Kesejahteraan Masyarakat,1,Komunikasi,2,Komunitas,1,Koperasi,1,Korupsi,2,KPK,1,KRI Nanggala 402,1,Kuliah Kerja Nyata,1,Kupang,1,Leadership,1,Lelaki Berkumis Tipis,1,Liburan Kuliah,1,Liga 3,1,Lokastithi Giribadra,1,Lomba,4,Lomba Karya Tulis Ilmiah,2,Lomba Menulis,2,Long life learning,1,Longsor,1,Lowongan kerja,1,Mafia Tanah,1,Mahasiswa,6,Malang,2,Malang United,2,Mama,1,Maret,1,Matematika,1,Media Sosial,1,Membaca,1,Membangun Setting Lokasi,1,Membuat SKCK,1,Memperpanjang SKCK,1,Meningkatkan Fokus,1,Menteri Sosial,2,Menyenangkan,1,Messi,1,Michael Focault,1,MICIN,1,Milenial,15,Millenial,9,Minuman boba,1,Miskin Cinta,1,Motivasi,15,MTQ Nasional 28,1,Muhamad Sulaeman,2,Nadiem Anwar Makarim,1,Nasib Negeri Kanibal,1,Nasional,5,Neo Ghetto,1,New Normal,1,News,9,NTT,4,Nusa Tenggara Timur,10,Olahraga,11,Omnibus Law,2,Opini,207,Opinion,3,Pahlawan Tanpa Nama,1,Pahlawan Tanpa Tanda Jasa,1,Pana Mone Hill Stone,1,Pancasila,2,Pandemi Covid-19,11,Pantai Pasir Putih Atambua,1,Paskah,2,Paulo Freire,1,Paus Fransiskus,2,Pemilihan Umum,1,Pemilu,1,Pemimpin,1,Pemulihan Ekonomi,5,Pendaftaran Siswa Baru,2,Pendidikan,38,Pendidikan Keluarga,1,Pendidikan Politik,1,Penguatan Bawaslu,1,Perkawinan,1,Pesta Demokrasi,1,Petuah Sukma,1,Piala Kemenpora,1,Pikabo,1,Pilihan Redaksi,25,Pilkada,1,Politik,8,Politik Uang,1,Pompa ASI,1,Potensi Diri,1,Pray For NTT,1,Print Uang,1,Printing Money,1,Profesi,1,Prostitusi,1,Psikologi,1,Publik Speaking,1,Puisi,46,Puisi Tentang Hujan,1,Puisi Tentang Ibu,1,Purbalingga,1,Quarter Life Crisis,1,Quote,2,Quotes Kata-Kata Bijak,2,R.A Kartini,1,Raiders Salomon Marpaung,3,Ramalan Zodiak,1,Redeskripsi Sastra,1,Regional,1,Revolusi Industri,4,Ronaldo Filipus Nara,5,Ruang Rindu,1,Sabut Kelapa,1,sastra,30,SehatQ,1,Sei,1,Semua Berita,14,Senja,1,Senja dan Rindu,1,Sentilan Pagi,1,Senyum Rembulan,1,Sepakbola,5,SKCK,1,Skripsi,1,SMA 7 September 99 Atambua,4,SMP 7 September 99 Atambua,3,Sobat Cinta,1,SOCIN,1,Sociopreneurship,1,Sosial,70,Sponsored,3,Status Sosial,1,Suku di Indonesia,1,Sumatera Barat,1,Sumba,1,Taekwondo,1,Tahun Baru 2021,1,Tanggung Jawab,1,Teknologi,4,Teori Psikologi Adler,1,The Sunrise Of Java,1,Theory Of Justice,1,They Feynman,1,TikTok,1,Timor Leste,3,Tips,24,Tips Kepemimpinan,1,Tips Menulis,1,Toraja,1,Tradisi,1,Trash Hero Belu,1,Travel,14,Tuhan Bangkit,1,Ulang Tahun,1,UMKM,2,Universitas Timor,1,Universitas Widyagama,1,Urbanisasi,1,Utilitarianisme,1,Video Game,1,Virus Corona,13,Webinar,1,Website,1,Wirausaha,1,Wisata,2,Yayasan Nusa Timur,7,Youtube,1,Youtuber,1,Zodiak,1,zoom,1,
ltr
item
Fianosa - Website Sumber Informasi Inspiratif: Pantaskah Fanatisme Agama Disebut Sebagai Kejahatan Terburuk?
Pantaskah Fanatisme Agama Disebut Sebagai Kejahatan Terburuk?
anatisme agama adalah sebuah kecendrungan di mana seseorang berkeyakinan yang sangat kuat,energik, bersemangat dan tidak simpatik terhadapa agama lain
https://1.bp.blogspot.com/-WnUn1SiLjvg/YNXbHW_1pwI/AAAAAAAAGME/WqVPeOJ6T7Ed4VrS0H62MlI_RFW2kJM4QCLcBGAsYHQ/w640-h426/pexels-ric-rodrigues-1278566.jpg
https://1.bp.blogspot.com/-WnUn1SiLjvg/YNXbHW_1pwI/AAAAAAAAGME/WqVPeOJ6T7Ed4VrS0H62MlI_RFW2kJM4QCLcBGAsYHQ/s72-w640-c-h426/pexels-ric-rodrigues-1278566.jpg
Fianosa - Website Sumber Informasi Inspiratif
https://www.fianosa.com/2021/06/fanatisme-agama-sebagai-kejahatan.html
https://www.fianosa.com/
https://www.fianosa.com/
https://www.fianosa.com/2021/06/fanatisme-agama-sebagai-kejahatan.html
true
3872901063732751062
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts LIHAT SEMUA Baca Selengkapnya Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All REKOMENDASI UNTUK ANDA Topik Terkait ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Topik Terkait Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share to a social network STEP 2: Click the link on your social network Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy Table of Content