Punahnya 11 Bahasa Daerah di Indonesia Dalam Perspektif Bahasa Sebagai Identitas Budaya

SHARE:

Harga diri seseorang dari perkataannya, harga diri badan dari pakaiannya, dan harga diri bangsa dari budayanya.

Baca Juga :

Banyak pandangan ketika mendengar kata antropologi. Ada yang berpandangan bahwa antropologi merupakan ilmu yang mempelajari proses evolusi manusia, dari manusia primitif menuju ke manusia modern saat ini. Ada yang beranggapan bahwa antropologi mempelajari keragaman manusia secara fisik. Secara etimologi, antropologi berasal dari bahasa Yunani anthropos yang berarti manusia atau orang dan logos yang berarti ilmu atau pengetahuan. Jadi, antropologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang manusia. Dalam antropologi, manusia dipandang sebagai sesuatu yang kompleks dari segi fisik, emosi, sosial, dan kebudayaannya. Antropologi mengkaji manusia dalam kedudukannya sebagai individu, masyarakat, suku bangsa, perilaku, dan kebudayaannya. Fokus kajian antropologi adalah manusia dan budaya yang dihasilkannya. Ruang lingkup antropologi sangatlah luas, hingga pada akhirnya melahirkan cabang-cabang keilmuan dalam antropologi. Cabang-cabang tersebut pada akhirnya dibagi menjadi 2 cabang besar yakni, Antropologi Fisik/Biologi dan Antropologi Budaya. Menurut Koentjaraningrat ilmu antropologi fisik/biologi dan antropologi budaya dapat dibagi lagi. Antropologi fisik/biologi dapat dibagi dalam Paleo-antropologi dan Antropologi Fisik, sedangkan antropologi budaya dibagi dalam etnolinguistik, prehistori, dan etnologi. Pada kali ini, penulis tertarik untuk mendalami materi seputar antropologi budaya, khususnya mengenai fenomena punahnya 11 bahasa daerah di Indonesia menurut pandangan bahasa sebagai identitas budaya. Fenomena ini penulis dapatkan dari sumber berita utama surat kabar Kompas (Selasa, 29 Oktober 2019). Judul berita tersebut ialah Cegah Kematian Bahasa. Dalam tulisan ini, penulis mencoba menghubungkan fenomena punahnya 11 bahasa daerah di Indonesia dengan bahasa sebagai identitas budaya. Sebenarnya apa itu kebudayaan atau budaya? Apa pengertian budaya menurut antropologi? Apa itu bahasa? Apa saja fungsi-fungsi dari bahasa? Seberapa pentingnya bahasa bagi pembentukan identitas budaya? Mengapa suatu bahasa bisa punah dari penggunanya? Bagaimana pandangan ilmu antropologi tentang bahasa sebagai identitas budaya melihat fenomena punahnya 11 bahasa daerah di Indonesia?

Kasus yang Tengah Terjadi

Surat kabar Kompas (Selasa, 29 Oktober 2019) merilis sebuah berita dengan judul Cegah Kematian Bahasa. Berita ini menyoroti perihal punahnya 11 bahasa daerah yang ada di Indonesia. Punahnya bahasa daerah bisa berarti matinya sistem kebudayaan yang mendukung satu tatanan nilai dalam sebuah masyarakat. Data tersebut menunjukkan 11 bahasa daerah yang tersebar di wilayah Indonesia telah punah, sedangkan 22 bahasa terancam punah, 4 bahasa dalam kondisi kritis, dan 16 bahasa stabil tetapi terancam punah, 2 bahasa mengalami kemunduran, dan hanya 19 bahasa pada kategori aman. Menurut pemetaan yang dibuat Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sejak 1991 menyebut bahwa Indonesia memiliki 718 bahasa daerah dan baru 74 bahasa daerah yang terkaji vitalitasnya. Terdapat 32 bahasa daerah yang sudah terkonversi, 27 bahasa terevitalisasi, dan 312 bahasa teregistrasi. Jika bahasa daerah, berarti sistem kognitif dan nilai-nilai dari satu komunitas atau budaya penuturnya akan punah pula. Apabila bahasa daerah punah, maka mengartikan bahwa nilai-nilai khazanah dan toleransi yang pernah ditanamkan oleh leluhur melalui bahasa akan punah pula. Kebudayaan merupakan pilar dan jati diri bangsa. Sebuah budaya terbentuk atas dasar bahasa yang sangat berperan penting untuk menghubungkan manusia satu dengan manusia. Bahasa berperan penting sebagai alat komunikasi satu dengan yang lain. Namun bagaimana jadinya kalau bahasa yang menghubungkan komunikasi satu dengan yang lain dan sebagai pembentuk kebudayaan itu punah. Apakah dapat diartikan kebudayaan sebuah daerah atau bangsa tersebut juga akan punah dan runtuh?

Pengertian Budaya

Kata kebudayaan berasal dari kata Sanskerta budhayah, yaitu bentuk jamak dari kata buddhi yang berarti “budi” atau “akal”. Kebudayaan berarti hal-hal yang bersangkutan dengan akal. Maka dari itu budaya adalah penggaungan dari kata “budi” dan “daya” yang berarti cipta, karsa, dan rasa. Istilah kebudayaan atau culture (dalam bahasa Inggris) berasal dari kata kerja bahasa Latin yakni colere yang berarti bercocok tanam atau cultivation. Cultivation atau kultivasi yang berarti pemeliharaan ternak, hasil bumi, dan upacara-upacara religius yang darinya diturunkan istilah cultus atau cult.

Pengertian kebudayaan paling awal diutarakan oleh Edward B. Tylor pada tahun 1871. Menurutnya kebudayaan ialah keseluruhan yang kompleks meliputi pengetahuan, kepercayaan, kesenian, hukum, moral, adat, dan berbagai kemampuan serta kebiasaan yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat. Menurut J.W.M. Bakker istilah “budaya” berasal dari bahasa Sanskerta dari abhyudaya. Kata tersebut mengandung arti hasil baik, kemajuan, kemakmuran, yang serba lengkap sebagaimana dipakai dalam Kitab Dharmasutra dan dalam kitab-kitab agama Buddha untuk menunjukkan kemakmuran, kebahagiaan, kesejahteraan moral dan rohani, maupun material dan jasmani, sebagai kebalikan dari Nirvana atau penghapusan segala musibah untuk mencapai kebahagiaan di dunia. Menurut ilmu antropologi, “kebudayaan” adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam kehidupan masyarakat yang dijadikan milik manusia dengan cara belajar. Menurut para ahli antropologi seperti halnya, C. Wissler, C. Kluckhohn, A. Davis, atau A. Hoebel, kebudayaan atau tindakan kebudayaan adalah segala tindakan yang harus dibiasakan oleh manusia dengan belajar (learned behavior). Proses belajar inilah yang mendasari perilaku dan sikap manusia bahwa bukan hidup untuk belajar, melainkan belajar untuk hidup. Lebih jauh lagi, kebudayaan juga dapat digunakan sebagai cerminan diri dan karakter manusia dalam proses realisasi di kehidupan bermasyarakat. Kebudayaan juga mewadahi keseluruhan perilaku dan karya yang dihasilkan oleh manusia. Hal inilah yang menjadi dasar bahwasanya kebudayaan bersifat dinamis, karena senantiasa berkembang mengikuti perkembangan zaman dan perkembangan sejarah manusia.

Fungsi Bahasa

Dalam praktiknya bahasa memiliki 4 fungsi. Pertama ialah bahasa sebagai alat untuk mengungkapkan perasaan atau mengekspresikan diri. Maksudnya ialah bahasa mampu untuk mengungkapkan gambaran, maksud, gagasan, dan perasaan. Melalui bahasa, manusia dapat menyatakan secara terbuka segala sesuatu yang tersirat di dalam hati dan pikirannya. Kedua bahasa sebagai alat komunikasi. Bahasa merupakan saluran maksud seseorang yang melahirkan perasaan dan memungkinkan masyarakat untuk bekerja sama. Bahasa yang dikatakan komunikatif karena bersifat umum. Selaku makhluk sosial yang memerlukan orang lain sebagai mitra berkomunikasi, manusia memakai dua cara berkomunikasi, yaitu secara verbal dan non verbal. Ketiga bahasa sebagai alat berintegrasi dan beradaptasi sosial. Pada saat beradaptasi di lingkungan sosial, seseorang akan memilih bahasa yang digunakan tergantung situasi dan kondisi yang dihadapi. Seseorang akan menggunakan bahasa informal ketika bergaul dengan teman-temannya dan bahasa formal ketika berbicara dengan orang tua atau saat kegiatan-kegiatan resmi. Dengan menguasai bahasa suatu bangsa, memudahkan seseorang untuk berbaur dan menyesuaikan diri dengan bangsa. Keempat, bahasa sebagai alat kontrol sosial. Bahasa memengaruhi sikap, tingkah laku, serta tutur kata seseorang. Kontrol sosial dapat diterapkan pada diri sendiri dan masyarakat. Lambang bahasa dalam tanda lalu lintas dan sebagainya menjadi alat yang efektif bagi kontrol sosial.

Bahasa sebagai Identitas Budaya

Bahasa bukan sekadar cara memberi kode untuk proses menyuarakan gagasan dan kebutuhan manusia, tetapi lebih merupakan suatu pengaruh pembentuk, dengan menyediakan ungkapan yang mapan yang menyebabkan orang melihat dunia dengan cara-cara tertentu mengarahkan pikiran dan perilaku masyarakat. Bahasa berasal dari hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat, sehingga bahasa adalah salah satu dari kebudayaan. Tanpa sebuah bahasa tidak dapat disebut kebudayaan. Tanpa bahasa sebuah kebudayaan tidak dapat diidentifikasikan atau tidak dapat dikenal. Dapat dikatakan bahwa bahasa dan kebudayan saling terhubung dan berkaitan satu sama lain. Bahasa digunakan oleh manusia yang menjadi anggota masyarakat tertentu, yang masing-masing memiliki kebudayaan yang khas. Variabel-variabel sosial seperti kelas dan status sosial orang yang berbicara juga mempengaruhi cara menggunakan bahasa. Cara seseorang menggunakan bahasa mempengaruhi dan dipengaruhi oleh kebudayaannya. Perbedaan bahasa tersebut terjadi akibat perbedaan dasar dalam pandangan dunia. Hal ini menyebabkan seseorang yang sering bersentuhan dengan budaya lain di luar kelompoknya akan memiliki perbendaharaan kata yang banyak dibandingkan orang yang hanya hidup dari dalam kelompoknya saja.

Punahnya 11 Bahasa Daerah di Indonesia dalam Perspektif Bahasa sebagai Indentitas Budaya

Punahnya 11 bahasa daerah yang ada di Indonesia memberikan suatu keprihatinan sendiri bagi bangsa Indonesia. Bahasa berasal dari sebuah hasil karya, rasa, dan mengarahkan perilaku dan sikap masyarakat. Apabila bahasa tersebut punah maka dapat dikatakan bahwa perilaku dan sikap yang telah diwariskan turun-temurun melalui bahasa juga punah dan tak terarah. Kebudayaan merupakan sebuah sistem dan karya manusia untuk terus-menerus belajar. Kebudayaan lahir atas dasar bahasa yang terus-menerus diutarakan. Tanpa adanya bahasa tiada kebudayaan yang lahir. Di Indonesia sudah terdapat 11 bahasa yang punah dan ada puluhan bahasa yang mengalami kemunduran dan terancam punah. Maka dapat diartikan bahwa sedikit demi sedikit kebudayaan yang telah diwariskan oleh leluhur bangsa perlahan akan punah. Tak hanya itu, nilai-nilai yang telah ditanamkan oleh para leluhur bangsa di setiap daerah dengan rupa bahasa dan kearifan lokal juga turut hilang di telan bumi. Seseorang dalam berbahasa dipengaruhi dan mempengaruhi kebudayaannya, karena bahasa mencerminkan identitas budaya setempat. Namun bagaimana jadinya kalau 11 bahasa daerah yang ada di Indonesia tersebut sudah punah dan tak pernah digunakan oleh warganya. Hal ini tentu akan mempengaruhi kebudayaan di tempat tersebut. Apabila tiada tindak lanjut untuk kembali memelajari bahasa tersebut, maka akan selamanya menjadi sebuah kenangan. Tak hanya itu apabila sebuah bahasa sudah punah dan ditinggalkan oleh penggunanya, maka hal tersebut akan berdampak pada bahasa daerah di sekitarnya, terlebih dalam kasus yang terjadi di Indonesia mengenai punahnya 11 bahasa daerah.

Apabila pelestarian bahasa tidak terus-menerus ditekankan oleh masyarakat, maka yang terjadi bahasa-bahasa daerah lainnya akan turut punah. Hal ini tentu disebabkan kurangnya upaya masyarakat untuk melestarikan budayanya masing-masing. Kurangnya upaya pelestarian budaya ini tentu dipengaruhi oleh 4 faktor. Pertama, masyarakat memandang bahwa bahasa daerah sudah kuno dan tidak relevan. Kedua, masyarakat lebih memilih menggunakan bahasa indonesia karena lebih mudah untuk dipelajari dan diucapkan terlebih bahasa indonesia sebagai perantara bahasa nasional. Ketiga, masyarakat lebih memilih menggunakan bahasa asing terutama bahasa inggris dengan keminggris-nya yang dinilai lebih modern dan lebih keren daripada bahasa daerah. Keempat, generasi pendahulu yang lebih tua kurang mewariskan dalam penggunaan bahasa daerah kepada generasi selanjutnya, sehingga bahsa daerah hanya berhenti pada generasi tua. Faktor-faktor tersebut tentu mempengaruhi kemunduruan penggunaan bahasa daerah di Indonesia. Tak hanya itu, pelbagai faktor tersebut juga mempengaruhi kebudayaan lokal masyarakat Indonesia yang beranekaragam. Berdasarkan data Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tahun 1991 bahasa daerah di Indonesia mencapai 718 bahasa daerah. Apabila 1 bahasa mewakili 1 kebudayaan dalam masyarakat lokal, maka dapat dikatakan bahwasanya ada 718 kebudayaan daerah di Indonesia. Kebudayaan tersebut baru dipandang dari sudut pandang bahasa belum lagi dari warisan budaya lainnya. Sungguh betapa kayanya jagad bumi nusantara, Indonesia. Segenap masyarakat Indonesia baik pemerintah maupun masyarakat perlu untuk mengambil langkah konkret demi melestarikan bahasa daerah dan kebudayaan lokal. Terdapat empat tindakan yang penulis tawarkan guna dilakukan oleh segenap masyarakat Indonesia. Pertama, Pemerintah perlu membuat kebijakan yang mengatur perihal kewajiban menggunakan bahasa daerah bagi sesama warga masyarakat setempat. Beberapa waktu lalu, Presiden telah menerbitkan perpres yang mengatur tentang kewajiban menggunakan bahasa indonesia dengan benar di lingkungan masyarakat di manapun mereka berada, maka tentu pemerintah dapat membuat kebijakan yang mengatur tentang kewajiban melestarikan bahasa daerah. Kedua, pemerintah khususnya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan juga perlu merancang kurikulum atau kebijakan dalam sekolah yang mewajibkan setiap sekolah untuk mengajarkan bahasa daerah dalam setiap jenjang. Hal ini berlaku untuk bahasa daerah masing-masing yang sering digunakan oleh masyarakat setempat.

Ketiga, segenap media surat kabar, radio, dan televisi di daerah perlu menyisipkan bahasa daerah tempat media tersebut berada. Hal ini guna menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk menggunakan bahasa daerah. Tak hanya itu, hal ini juga berguna untuk mengenalkan masyarakat perihal bahasa daerah di daerah tersebut atau bahkan bahasa daerah lainnya yang ada di Indonesia. Keempat. Masyarakat juga perlu turut serta menggunakan bahasa daerahnya masing-masing dalam berkomunikasi sosial guna memelihara dan mewariskan bahasa daerah tersebut. Penulis rasa munculnya kanal-kanal YouTube dan akun-akun instagram, facebook, dan media sosial lainnya, dengan menggunakan bahasa daerah yang lucu dan menarik juga turut serta membantu mengenalkan dan mewariskan bahasa daerah bagi masyarakat luas. Hal ini tentu dapat menjangkau masyarakat lebih luas lagi. Bukan hanya di daerah tempat bahasa daerah tersebut digunakan, namun juga di daerah lainnya, lingkup nasional, bahkan internasional dengan hanya mengakses di gawai.

Kesimpulan

Kebudayaan merupakan cerminan diri dan karakter manusia dalam kehidupan bermasyarakat. Kebudayaan dapat mewadahi keseluruhan perilaku dan karya yang dihasilkan oleh manusia. Kebudayaan merupakan warisan turun-temurun umat manusia berdasarkan kebiasaan yang selalu dilakukan sedari dulu. Dengan pelbagai hal penjelasan mengenai pentingnya bahasa bagi identitas budaya, sebab-sebab punahnya bahasa daerah, pandangan bahasa sebagai identitas budaya dengan fenomena punahnya 11 bahasa daerah di Indonesia, dapat diambil kesimpulan bahwa betapa pentingnya bahasa, khususnya bahasa daerah bagi pembentukan identitas bangsa. Bahasa melahirkan kebudayaan, kebudayaan menghasilkan suatu identitas, dan pada akhirnya terbentuklah ciri khas yang menggambarkan suatu kebudayaan dan bangsa itu sendiri. Kebudayaan merupakan sistem gagasan dan tindakan yang menjadi milik manusia yang diperoleh dengan cara belajar. Hal ini tak senada dengan realita masyarakat dewasa ini. Kebudayaan akan senantiasa lestari apabila dipelajari, lalu bagaimana kalau masyarakat dewasa ini kurang tertarik untuk mempelajari kebudayaan daerah dan bahasa daerahnya.  

Kebudayaan merupakan pondasi bangsa. Seperti halnya ajaran budaya Jawa, ajining diri saka lati, ajining raga saka busana, ajining bangsa saka budaya yang berarti harga diri seseorang dari perkataannya, harga diri badan dari pakaiannya, dan harga diri bangsa dari budayanya. Maka dari itu, sangatlah penting untuk senantiasa mewariskan bahasa daerah kepada anak cucu, serta tak jemu-jemu untuk mempromosikan dan melestarikannya kepada khalayak ramai dewasa ini dan yang akan datang.

Penulis : Gabriel Kristiawan Suhassatya
Budaya Indonesia. Photo by Artem Beliaikin via pexels.com
Fianosa.com merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi generasi muda menulis tentang apa pun. Submit tulisanmu secara mandiri lewat link ini ya.
Nama

Agama,1,Agent Of Change,1,Akreditasi,1,All England,1,Anak Jalanan,1,Anti Korupsi,2,Aplikasi,1,Aplikasi Resep Masakan,1,Atambua,11,Baby Boomer,1,Badminton,1,Banjir,1,Banyuwangi,1,Bawaslu,2,Beasiswa,6,Beasiswa Jadi PNS,1,Beasiswa Pemuda Mendunia,1,Beasiswa SejutaCita,1,Belajar,2,Bencana,1,Bisnis,4,BUCIN,1,Budak CInta,1,Budaya,9,Bulutangkis,1,Bupati Nganjuk,1,BWF,1,Catur,1,Cerita,10,Cerita Pendek,5,CIASTECH 2020,1,Cinta,1,Cipta Kerja,1,Coding,1,Covid-19,15,CPNS,1,Crowdfunding,1,Damai,1,Dana Desa,1,Daniel Osckardo,6,Debat Pilkada,1,Demokrasi,1,Desa,1,Desember,1,Diego Maradona,1,Digital,1,Edhy Prabowo,1,Ekonomi,14,Empat Agenda Seorang Pemulung,1,English Corner,4,English Poem,1,Event,4,Event Hunter Indonesia,1,Fabio Carvalho,1,Featured,3,Features,1,Filosofi Stoisisme,1,Fourth Industry Revolution,1,Fulan Fehan,1,Fulham,1,Gabriel Kristiawan Suhassatya,9,Ganja,1,Gemerlap Kota,1,Generasi Alpha,1,Generasi Muda,1,Generasi Z,2,Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia,1,Gilbert Ryle,1,GMNI,1,google classroom,1,Gunung Ile Lewotolok,1,Gunung Meletus,1,Guru,2,Gus Mus,1,Hakordia,1,Hari Anti Korupsi Sedunia,1,Hari Bumi,2,Hari Guru,4,Hari Kartini,1,Hari Kebangkitan Nasional,1,Hari Kesehatan Dunia,1,Hari Lingkungan Hidup Sedunia,1,Hari Persaudaraan Manusia Internasional,2,Hidroponik,1,Himpunan Mahasiswa Islam,2,HMI,2,Home Education,1,Hubungan,1,Hujan,1,Hujan Untuk Kita,1,Hukum,23,Hukum Film,1,Ide Kreatif,1,Indonesia,6,Influencer,1,Inggris,1,Internasional,1,Isak Tangis,1,Islam,3,Islam Kejawen,1,Jhoni Lae,3,Jodoh,1,John Rawls,1,Juliari Batubara,1,Kaboax,1,Karir,14,Keadilan Sosial,1,Kemenangan,1,Kesehatan,1,Kesejahteraan Masyarakat,1,Komunikasi,1,Komunitas,2,Koperasi,1,Korupsi,2,KPK,1,KRI Nanggala 402,1,Kuliah Kerja Nyata,1,Kupang,1,Leadership,1,Lelaki Berkumis Tipis,1,Lembata,1,Liburan Kuliah,1,Lomba,4,Lomba Karya Tulis Ilmiah,2,Lomba Menulis,2,Long life learning,1,Longsor,1,Lowongan kerja,7,Mafia Tanah,1,Mahasiswa,7,Malang,1,Mama,1,Mandiri Tunas FInance,1,Maret,1,Matematika,1,Membaca,1,Meningkatkan Fokus,1,Menteri Sosial,2,Menyenangkan,1,MICIN,1,Milenial,16,Millenial,6,Miskin Cinta,1,Motivasi,14,MTQ Nasional 28,1,Muhamad Sulaeman,3,Muslimah,1,Nadiem Anwar Makarim,1,Nasional,3,New Normal,1,News,2,NTT,5,Nusa Tenggara Timur,1,Olahraga,5,Omnibus Law,2,Opini,201,Opinion,3,Orleans Masters 2021,1,Pahlawan Tanpa Nama,1,Pahlawan Tanpa Tanda Jasa,1,Pancasila,1,Pandemi Covid-19,2,Pantai Pasir Putih Atambua,1,Paskah,2,Paulo Freire,1,Paus Fransiskus,2,Pemilihan Umum,1,Pemilu,1,Pemimpin,1,Pemulihan Ekonomi,4,Pendaftaran Siswa Baru,2,Pendidikan,38,Pendidikan Keluarga,1,Pendidikan Politik,1,Pengabdian,1,Penguatan Bawaslu,1,Perkawinan,1,Petuah Sukma,1,Piala Kemenpora,1,Pilihan Redaksi,19,Pilkada,1,Politik,7,Potensi Diri,1,PPPK,1,Pray For NTT,1,Print Uang,1,Printing Money,1,Profesi,1,Prostitusi,1,Psikologi,1,Publik Speaking,1,Puisi,46,Puisi Tentang Hujan,1,Puisi Tentang Ibu,1,Quarter Life Crisis,1,Qudwahits Reborn,1,Quote,1,Quotes Kata-Kata Bijak,1,R.A Kartini,1,Raiders Salomon Marpaung,3,Ramalan Zodiak,1,Redeskripsi Sastra,1,REFLEKSI,1,Regional,3,Review,1,Revolusi Industri,4,Ronaldo Filipus Nara,5,Ruang Rindu,1,Sabut Kelapa,1,sastra,30,Sejuta,1,Seminar,1,Semua Berita,7,Senja,1,Senja dan Rindu,1,Sentilan Pagi,1,Senyum Rembulan,1,Sepakbola,1,SJ182,1,SMA,1,SMA 7 September 99 Atambua,4,SMP,1,SMP 7 September 99 Atambua,3,Sobat Cinta,1,SOCIN,1,Sociopreneurship,1,Sosial,72,Sriwijaya Air,1,Status Sosial,1,Sumatera Barat,1,Tahun Baru 2021,1,Tamtama,1,Tanggung Jawab,1,Teknologi,4,Teori Psikologi Adler,1,Teroris,1,Terorisme,1,The Sunrise Of Java,1,Theory Of Justice,1,Timor Leste,2,Tips,14,Tips Kepemimpinan,1,TNI AU,1,Trash Hero Belu,1,Travel,11,Tuhan Bangkit,1,Ulang Tahun,1,UMKM,2,Universitas Muhammadiyah Malang,1,Universitas Timor,1,Urbanisasi,1,Utilitarianisme,1,Vaksin,1,Virus Corona,9,Webinar,4,Website,1,Wirausaha,1,Wisata,2,Yayasan Nusa Timur,7,YummyApp,1,Zodiak,1,zoom,1,
ltr
item
Fianosa - Website Sumber Informasi Inspiratif: Punahnya 11 Bahasa Daerah di Indonesia Dalam Perspektif Bahasa Sebagai Identitas Budaya
Punahnya 11 Bahasa Daerah di Indonesia Dalam Perspektif Bahasa Sebagai Identitas Budaya
Harga diri seseorang dari perkataannya, harga diri badan dari pakaiannya, dan harga diri bangsa dari budayanya.
https://1.bp.blogspot.com/-vPpbRZAOH4k/YIt7k7xybPI/AAAAAAAAGB8/77NqxiDkGhswqCk6G8kzDZkb4Mo5cmvOwCLcBGAsYHQ/w640-h426/pexels-photo-2340452.jpeg
https://1.bp.blogspot.com/-vPpbRZAOH4k/YIt7k7xybPI/AAAAAAAAGB8/77NqxiDkGhswqCk6G8kzDZkb4Mo5cmvOwCLcBGAsYHQ/s72-w640-c-h426/pexels-photo-2340452.jpeg
Fianosa - Website Sumber Informasi Inspiratif
https://www.fianosa.com/2021/04/punahnya-11-bahasa-daerah-di-indonesia.html
https://www.fianosa.com/
https://www.fianosa.com/
https://www.fianosa.com/2021/04/punahnya-11-bahasa-daerah-di-indonesia.html
true
3872901063732751062
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts LIHAT SEMUA Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All REKOMENDASI UNTUK ANDA LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share to a social network STEP 2: Click the link on your social network Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy Table of Content