Gerilya Kemandirian Bangsa dalam Pagar Pendidikan Wilayah 3T (Terdepan,Terluar,Tertinggal)

SHARE:

Sudah saatnya kekurangan infrastruktur pendidikan yang dimiliki daerah 3T tidak dipandang sebelah mata. buatlah kekurangan itu menjadi potensi

Baca Juga :
Sungguh miris, melihat nusantara tercinta lari begitu kencang untuk bisa menyamai negara-negara yang menempati posisi tertinggi di tingkatan global. Tahta yang menggiurkan, dibuntuti pula dengan harta yang bergelimpangan. Maka tak heran jika engkau temui Indonesia kegirangan dan tidak mau diam. Melaju terus tanpa kenal rambu lalu lintas, sampai-sampai enggan untuk mengerem sebentar – sekedar menengok! Bahwa, ternyata masih terdapat lubang yang lupa ditambal. Bocor, tiada henti.

Adalah pendidikan di wilayah 3T (Terdepan,Terluar, Tertinggal), yang dimaksud bagian berlubang itu. Bagian dari pendidikan kita, yang sesungguhnya turut berpengaruh besar dalam menempatkan Indonesia di posisi tertinggi global. Yang nahas, sebab keengganan kita, mutu pendidikan kian terseok saban detik berganti. Sehingga, mau tak mau, permasalahan ini terus jebol, tidak kunjung reda mengguyur, lantaran belum diselesaikan juga itu masalah.

Barangkali engkau emoh mengiyakan opiniku. Baiklah, akan kupertontonkan beberapa fakta pendidikan di daerah 3T – yang menahun. Aku berani mengutip pendapat Sutrisno (2020), yang menyebutkan bahwa pendidikan daerah 3T memiliki kekurangan dalam jumlah tenaga pendidik, kompetensi dan kualifikasi sumber daya manusia (SDM), distribusi, akses internet, serta sarana dan prasarana. Dalam hal tenaga pendidik, misalnya, lantaran kepandiran tenaga pendidik dalam menggunakan media pembelajaran, pembelajaran di daerah 3T membikin tidak efektif.

Mengapa bisa pendidikan daerah 3T menjadi tidak efektif, tanyamu? Jika kau tahu, pendidikan membutuhkan harga yang tidak murah dalam tempo pembelajarannya, mengingat membangun infrastruktur yang menunjang membutuhkan cukup banyak biaya. Menurut Ragnedda (2019), wilayah 3T jika dibandingkan dengan daerah Jawa – memiliki kekurangan dalam infrastruktur pendidikan. Hal ini dikarenakan letak geografis, pendapatan, pekerjaan, usia, level pendidikan, aspek etnis, gender, dan latar belakang keluarga – yang kurang mendukung.

Dengan demikian, bukankah wajar jika kusimpulkan bahwa pendidikan di daerah 3T dalam kondisi gawat darurat? Yang membuatnya mustahil jika dipaksakan ikut berlari kencang – sebagaimana yang didambakan Indonesia – untuk bisa bersaing di era globalisasi?

Kondisi yang memprihatinkan seperti itu, alih-alih membuat negara sadar, malah membikin mereka semakin dipertanyakan perangainya. Sudah tahu wilayah 3T kekurangan dalam kesediaan infrastruktur pendidikan, negara malah mencoba menjerat daerah itu untuk berada di tali yang sama dengan Jawa. Yakni ikatan yang mengisyaratkan bahwa pendidikan harus disamakan dengan yang dilakoni daerah Jawa.

Pada beberapa tahun terakhir, misalnya, pemerintah getol mengupayakan banyak terbangunnya fasilitas sinyal 3G dan 4G di daerah 3T. Seolah-olah ingin mendorong wilayah itu untuk menggunakan blended learning (metode pembelajaran yang menggabungkan gaya pembelajaran konvensional dengan teknologi digital) – yang sekarang marak dijalankan daerah Jawa. Padahal, menurut Pohan (2016), blended learning di wilayah 3T adalah perkara yang mustahil untuk dilakukan.

Dengan demikian, mencontek model pendidikan di jawa sama saja dengan menggali lubang kubur sendiri. Ya, jika menggunakan gaya pembelajaran serupa, daerah 3T tidak dapat bersaing. Boro-boro bersaing, menuntut kemajuan pendidikan dengan memakai perspektif daerah jawa saja terbilang mustahil!

Padahal, jika kau tahu bung, pendidikan di jawa – yang condong pada industrialisasi dan globalisasi – belum paripurna betul mencetak sumber daya manusia (SDM) yang dapat bersaing di kancah global. Barangkali kau pun tahu – lantaran sudah menjadi konsumsi publik – bahwa pendidikan di Indonesia memiliki rapor merah dalam melahirkan SDM yang berkualitas. Lihat saja, betapa banyaknya angka pengangguran di negeri ini. Sudah menjadi bukti gamblang mengenai kualitas pendidikan kita.

Berkaca dari kasus pendidikan di jawa ataupun se-nasional, maka yang seharusnya diperbaiki dari pendidikan di daerah 3T adalah hakikat dan esensi dari itu sendiri. Bukan malah menatap tajam pelengkapnya yang belum tentu menjadi pokok permasalahan.

Pendidikan seyogyanya produktif; dapat mencerdaskan seluruh warga sehingga tidak ada kemanjaan (Ruslan, 2006). Memabukkan itu tanpa kepalang; mendorong warga-warga agar senantiasa membina dirinya menjadi sebaik-baiknya manusia. Sehingga darinya, mereka tidak pantang menundukkan jisim dan sukma kepada syahwat yang berkeliling. Sebab yang membuat mereka tunduk hanya satu: berani menentukan nasib sendiri dan memenuhi kebutuhan. Hal itu tentunya peserta didik peroleh dari pemahaman atas hakikat pembelajaran (Gawi, 2018).

Oleh karena itu, jika ingin pendidikan daerah 3T mencetak peserta didik yang mandiri dan memiliki wawasan kebangsaan, maka seharusnya pendidikan berorientasi pada pembentukan kepribadian secara sosial budaya. Hal ini mengingat pendapat Ruslan (2006), yang menyebutkan bahwa pendidikan adalah persentuhan antara dunia peserta didik dengan kebudayaan.

Langkah Konkrit

Sudah saatnya kekurangan infrastruktur pendidikan yang dimiliki daerah 3T tidak dipandang sebelah mata; hanya nanahnya saja. Pandanglah nanah itu sebagai madu yang mengalir namun belum dipoles. Dengan kata lain, buatlah kekurangan itu menjadi potensi bahkan kelebihan.

Daerah 3T seharusnya bangga kearifan lokal yang dimilikinya, sebab itulah kekayaan potensi yang tidak terhitung manfaatnya. Dan kearifan lokal itu pun dapat diubah menjadi konsep pendidikan kreatif yang mampu mencetak peserta didik yang mandiri dan mempunyai wawasan kebangsaan. Yakni, dengan menjadikan pendidikan daerah 3T berbasis kearifan lokal.

Teknisnya, peserta didik akan didorong untuk mengeksplorasi berbagai informasi dan pengetahuan di lingkungan lokal. Terkhusus jenjang pendidikan dasar, di suatu sesi pembelajaran, karang taruna akan mengajak kelompok diskusi siswa untuk berkunjung ke orang tua beberapa siswa dan tokoh masyarakat – sebagai pengenalan profesi dan mendapatkan inspirasi. Nantinya, tokoh masyarakat dan orang tua siswa, memberikan penjelasan profesi, kemudian memberikan games studi kasus yang bisa memicu sekelompok diskusi siswa untuk berdiskusi bersama terkait profesi.

Sedangkan pada jenjang menengah pertama, karang taruna mengajak sekelompok diskusi siswa untuk observasi langsung ke lapangan ataupun orang tua dan tokoh masyarakat. Kemudian hasil observasi tersebut dipelajari dan didiskusikan bersama di dalam kelompok. Untuk jenjang pendidikan menengah atas, karang taruna akan memandu siswa untuk mempelajari, memahami, dan mendiskusikan hubungan kearifan lokal dan potensi yang ada di daerahnya, permasalahan-permasalahan dari pemanfaatan kearifan lokal tersebut, dan cara mengoptimalkan potensi atau menyelesaikan masalah yang ada.

Outcome-nya, sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya, adalah rasa bangga peserta didik terhadap potensi lokal tempat tinggal mereka. Dari situ, tidak mustahil jika mereka akan mandiri – menjadi entrepreneur lokal – yang tak segan memperkenalkan budaya lokal, sekaligus menjajakan kekayaan mereka.

Barang tentu nantinya, apabila daerah 3T sudah memiliki banyak entrepreneur lokal yang berwawasan kebangsaan – akan tercipta banyak lapangan pekerjaan, sehingga dapat mengurangi angka pengangguran. Di masa yang akan datang, Indonesia dapat bersaing di era global, dengan mengekspor komoditi lokal misalnya. Kemandirian bangsa semakin kokoh, bangsa pun semakin maju. (HA) 

Penulis : Habibah Auni
Potret Pendidikan di Wilayah 3T
Potret Pendidikan di Wilayah 3T. Photo via Seword.com

Fianosa.com merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi generasi muda menulis tentang apa pun. Submit tulisanmu secara mandiri lewat link ini ya.
Nama

Agama,4,Agent Of Change,1,Akreditasi,1,All England,1,Amin Rais,1,Anak Jalanan,1,Anti Korupsi,2,Anugerah Pesona Indonesia,1,Aplikasi,1,Aplikasi SehatQ,1,Argentina,1,Atambua,13,Baby Boomer,1,Badan Kurus,1,Badminton,1,Bali,1,Banjir,1,Banyuwangi,1,Bawaslu,2,Belajar,2,Bencana,1,Bermanfaat Untuk Lingkungan,1,Bisnis,4,Boba,1,BUCIN,1,Budak CInta,1,Budaya,10,Bulutangkis,1,Bupati Nganjuk,1,BWF,1,Cafe Amor Dualaus,1,Catur,2,Cerita,16,Cerita Pendek,15,CIASTECH 2020,1,Cinta,1,Cipta Kerja,1,Coding,1,Copa America 2021,1,Covid-19,22,Crowdfunding,1,Damai,1,Dana Desa,1,Daniel Osckardo,7,Debat Pilkada,1,Demokrasi,2,Desa,1,Desember,1,Diego Maradona,1,Digital,1,Direktori Penyakit,1,Dokumen,1,Drama Hukum,1,Drama Korea,1,Drama Korea Tentang Hukum,1,Edhy Prabowo,1,Ekonomi,13,Empat Agenda Seorang Pemulung,1,English Corner,4,English Poem,1,Euro 2020,1,Fabio Carvalho,1,Fanatisme,1,Film Cinta Bete,1,Film Hukum,1,Filosofi Stoisisme,1,Fourth Industry Revolution,1,Fresh Graduate,1,Fulan Fehan,3,Fulham,1,Gabriel Kristiawan Suhassatya,9,Ganja,1,Gemerlap Kota,1,Generasi Alpha,1,Generasi Muda,1,Generasi Z,2,Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia,1,Ghetto,1,Gilbert Ryle,1,GMNI,1,google classroom,1,Guru,2,Gus Mus,1,Hakordia,1,Hari Anti Korupsi Sedunia,1,Hari Bumi,2,Hari Guru,4,Hari Kartini,1,Hari Kebangkitan Nasional,1,Hari Kesehatan Dunia,1,Hari Lingkungan Hidup Sedunia,1,Hari Persaudaraan Manusia Internasional,2,Home Education,1,Hubungan,1,Hujan,1,Hujan Untuk Kita,1,Hukum,19,Hukum Film,2,Ide Kreatif,1,IKADAR Bali,1,Ikawiga,1,Indonesia,5,Influencer,1,Inggris,2,Internasional,2,Ir. Soekarno,1,Isak Tangis,1,Islam,3,Islam Kejawen,1,Jhoni Lae,3,Jodoh,1,John Rawls,1,Juliari Batubara,1,Kaboax,1,Karir,4,Keadilan Sosial,1,Kemenangan,1,Kesehatan,1,Kesejahteraan Masyarakat,1,Komunikasi,2,Komunitas,1,Koperasi,1,Korupsi,2,KPK,1,KRI Nanggala 402,1,Kuliah Kerja Nyata,1,Kupang,1,Leadership,1,Lelaki Berkumis Tipis,1,Liburan Kuliah,1,Liga 3,1,Lokastithi Giribadra,1,Lomba,4,Lomba Karya Tulis Ilmiah,2,Lomba Menulis,2,Long life learning,1,Longsor,1,Lowongan kerja,1,Mafia Tanah,1,Mahasiswa,6,Malang,2,Malang United,2,Mama,1,Maret,1,Matematika,1,Media Sosial,1,Membaca,1,Membangun Setting Lokasi,1,Membuat SKCK,1,Memperpanjang SKCK,1,Meningkatkan Fokus,1,Menteri Sosial,2,Menyenangkan,1,Messi,1,Michael Focault,1,MICIN,1,Milenial,15,Millenial,9,Minuman boba,1,Miskin Cinta,1,Motivasi,15,MTQ Nasional 28,1,Muhamad Sulaeman,2,Nadiem Anwar Makarim,1,Nasib Negeri Kanibal,1,Nasional,5,Neo Ghetto,1,New Normal,1,News,9,NTT,4,Nusa Tenggara Timur,10,Olahraga,11,Omnibus Law,2,Opini,207,Opinion,3,Pahlawan Tanpa Nama,1,Pahlawan Tanpa Tanda Jasa,1,Pana Mone Hill Stone,1,Pancasila,2,Pandemi Covid-19,11,Pantai Pasir Putih Atambua,1,Paskah,2,Paulo Freire,1,Paus Fransiskus,2,Pemilihan Umum,1,Pemilu,1,Pemimpin,1,Pemulihan Ekonomi,5,Pendaftaran Siswa Baru,2,Pendidikan,38,Pendidikan Keluarga,1,Pendidikan Politik,1,Penguatan Bawaslu,1,Perkawinan,1,Pesta Demokrasi,1,Petuah Sukma,1,Piala Kemenpora,1,Pikabo,1,Pilihan Redaksi,25,Pilkada,1,Politik,8,Politik Uang,1,Pompa ASI,1,Potensi Diri,1,Pray For NTT,1,Print Uang,1,Printing Money,1,Profesi,1,Prostitusi,1,Psikologi,1,Publik Speaking,1,Puisi,46,Puisi Tentang Hujan,1,Puisi Tentang Ibu,1,Purbalingga,1,Quarter Life Crisis,1,Quote,2,Quotes Kata-Kata Bijak,2,R.A Kartini,1,Raiders Salomon Marpaung,3,Ramalan Zodiak,1,Redeskripsi Sastra,1,Regional,1,Revolusi Industri,4,Ronaldo Filipus Nara,5,Ruang Rindu,1,Sabut Kelapa,1,sastra,30,SehatQ,1,Sei,1,Semua Berita,14,Senja,1,Senja dan Rindu,1,Sentilan Pagi,1,Senyum Rembulan,1,Sepakbola,5,SKCK,1,Skripsi,1,SMA 7 September 99 Atambua,4,SMP 7 September 99 Atambua,3,Sobat Cinta,1,SOCIN,1,Sociopreneurship,1,Sosial,70,Sponsored,3,Status Sosial,1,Suku di Indonesia,1,Sumatera Barat,1,Sumba,1,Taekwondo,1,Tahun Baru 2021,1,Tanggung Jawab,1,Teknologi,4,Teori Psikologi Adler,1,The Sunrise Of Java,1,Theory Of Justice,1,They Feynman,1,TikTok,1,Timor Leste,3,Tips,24,Tips Kepemimpinan,1,Tips Menulis,1,Toraja,1,Tradisi,1,Trash Hero Belu,1,Travel,14,Tuhan Bangkit,1,Ulang Tahun,1,UMKM,2,Universitas Timor,1,Universitas Widyagama,1,Urbanisasi,1,Utilitarianisme,1,Video Game,1,Virus Corona,13,Webinar,1,Website,1,Wirausaha,1,Wisata,2,Yayasan Nusa Timur,7,Youtube,1,Youtuber,1,Zodiak,1,zoom,1,
ltr
item
Fianosa - Website Sumber Informasi Inspiratif: Gerilya Kemandirian Bangsa dalam Pagar Pendidikan Wilayah 3T (Terdepan,Terluar,Tertinggal)
Gerilya Kemandirian Bangsa dalam Pagar Pendidikan Wilayah 3T (Terdepan,Terluar,Tertinggal)
Sudah saatnya kekurangan infrastruktur pendidikan yang dimiliki daerah 3T tidak dipandang sebelah mata. buatlah kekurangan itu menjadi potensi
https://1.bp.blogspot.com/-uxRjUQn8PEI/YCDDb9qC-fI/AAAAAAAABX8/W6448tPffjoAvIsVRCQZkOxyIfWncNOrgCLcBGAsYHQ/w640-h480/zdsFnK2Hsu-feature.jpeg
https://1.bp.blogspot.com/-uxRjUQn8PEI/YCDDb9qC-fI/AAAAAAAABX8/W6448tPffjoAvIsVRCQZkOxyIfWncNOrgCLcBGAsYHQ/s72-w640-c-h480/zdsFnK2Hsu-feature.jpeg
Fianosa - Website Sumber Informasi Inspiratif
https://www.fianosa.com/2021/02/gerilya-kemandirian-bangsa-dalam-pagar.html
https://www.fianosa.com/
https://www.fianosa.com/
https://www.fianosa.com/2021/02/gerilya-kemandirian-bangsa-dalam-pagar.html
true
3872901063732751062
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts LIHAT SEMUA Baca Selengkapnya Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All REKOMENDASI UNTUK ANDA Topik Terkait ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Topik Terkait Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share to a social network STEP 2: Click the link on your social network Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy Table of Content