Kerinduan Sastra

SHARE:

Sebuah cerita pendek karya Gabriel Kristiawan Suhasstya yang berjudul kerinduan sastra

Baca Juga :

Aku menatap sendiri dalam temaram malam hari yang kian sepi. Menatap kejauhan keluar dalam gelapnya malam, yang ada hanyalah belantara hutan sunyi dan belum pernah kususuri. Rumah ini sangat sepi, hanya tinggal aku seorang diri. Kerinduanku semakin mendalam di tanah perantauan. Sekian purnama tak kujumpainya yang sangat aku cinta. Kesedihanku semakin lebat layaknya dahan-dahan di pepohonan dan belantara hutan depan rumahku. Kesedihan semakin membiru.

Ingin sekali aku mengobati segala rindu membatu, waktu demi waktu. Namun, segala situasi sangat tak menentu untuk sekadar bertemu. Perlahan demi perlahan aku keluar rumah. Menapaki jalanan setapak di tanah rantau, penuh dengan kabut dan burung-burung masih berkicau. Dalam situasi seperti ini, yang ada dalam kepalaku hanyalah pikiran-pikiran yang selalu meracau. Pertanyaan demi pertanyaan terus datang menghujam,

“Bagaimana kalau aku tak bisa berjumpa dengannya?”

Sedikit demi sedikit, aku lawan dengan penghiburan dan harapan. Semoga segala rindu yang terpelihara saban hari akan berakhir temu dengan bahagia hati. Tak berselang lama berjalan di jalanan setapak ini, aku temukan ada yang bulat namun bukan tekad, melainkan rinai hujan yang berderai lekat, yang telah jatuh dari angkasa raya seakan ingin turut memadamkan kelesuanku yang kian membara.

Pada perjalanan pulang setelah usai menyusuri setapak jalan, aku pandang serambi-serambi malam. Serambi malam itu telah berhasil mengangkat kecemasan sementaraku yang melingkupi hati yang dipenuhi rindu. Ketika aku duduk termenung di kursi kesayanganku di rumah, aku selalu membayangkan wajah mereka, Bapak dan Ibu di belahan buana. Kondisi dan situasi seperti inilah yang membuatku terus merindukannya. Sebab aku tak bisa pulang untuk melepas kerinduan. Kerinduan ini bagaikan pandemi saat ini yang terasa berat dan nyeri sekali. Kerinduan yang memisahkan raga, hati, dan pusa antara aku dan kedua orang tua di sana. Keadaan yang terus seperti ini membentangkan jarak bagiku dan Bapak Ibu. 

Aku semakin merindu kala teringat perkataan Bapak,

“Bapak dan Ibu menamaimu Sastra. Sebab suatu saat, ketika kau telah tiada dan digerogoti waktu nan usia, namamu akan tetap abadi di bumi dan di Surga.”

Aku masih duduk termenung membayangkan mereka. Seperti halnya bintang yang mulia bertengger di bumantara, bertemu dengan Bapak dan Ibu memberikan pijar-pijar cahaya yang sempurna, pada dunia yang gemerlap bagaikan di Surapada. Namun yang saat ini aku rasakan adalah pendar-pendar kerinduan yang semakin nanar, banal, dan tak kunjung padam.

Aku terus memikirkan mereka. Ingin rasanya aku beristirahat dalam lelapku, namun tak bisa karena pikiran yang dipenuhi kerinduan untuk Bapak Ibu.

“Pak, Bu, kapan kita akan bertemu, Sastra sangat merindukanmu. Masih ada banyak kasih yang ingin aku kisahkan. Masih ada banyak pertanyaan yang ingin aku sampaikan. Dan masih ada banyak cerita yang belum sempat aku dengar dari bibir manis dan nasihat sucimu.”

Aku pergi menelisik kamar tidurku, hendak merebahkan raga yang telah penat sebab rindu yang kian lebat. Menjelma angin topan yang ahwala, bukan tidur lelap yang aku dapat, tetapi tangisan dan kegelisahan yang semakin hebat. Dalam rebahku, tangisan serta kegelisahan tentang pikiran negatif semakin menggerogoti sukma, menilik raga yang membisu terpenjara. Aku pun bersenandika sebab aku tak bisa mengatupkan mata jua. 

Aku kembali duduk termenung di atas tempat tidurku. Malam yang dulu selalu syahdu sebab adanya kehadiran Bapak dan Ibu, sekarang sisakan temaram yang sendu, kelu, nan pilu. Catatan harian telah kupegang, pena telah hinggap di tangan, jarum jam terus berdetik dan berdentang. Aku tak berhenti menuliskan sajak-sajak kerinduan dan kesedihan dengan sejumput kata, yang tak kunjung sampai ekornya.

Tengah malam, mataku masih bersinar terang. Aku kembali membayangkan bahwasanya, laksana pelangi yang menghiasi langit senja bersama bulan dan surya, wajah mereka binar-binar membayang pada layar kaca. Wajah mereka masih tersimpan nyata di galeri gawai sedari fajar, siang, senja, dan malam. Sinyal yang tak menentu membuatku tak bisa menghubungi mereka setiap waktu. Foto-foto yang tersimpan di album dan gawai adalah satu-satunya obat kerinduan yang mendalam. 

Ragaku terus bergetar karena kerinduan. Getaran kerinduan kepada Bapak Ibu semakin merajam meninggalkan kepedihan dan seribu kenangan yang tak terkatakan, dalam ucap dan selayang pandang. Seribu bulan dan bintang seakan turut merutuki kerinduan yang berduri, sakit sekali. Sebab kerinduan yang terpelihara saban hari semakin tajam menembus jantungku ini.

Tak berselang lama, aku meletakkan catatan harian dan penaku di meja samping tempat tidurku. Merapalkan doa mungkin menjadi obat pereda rindu yang kian membabi buta. Rapalan doa yang kupinta ialah pertemuan, namun yang mendekap kini ialah kerinduan yang semakin gamang. Purnama beserta bintang yang gilang gemilang bertebaran di cakrawala selalu menemani malam demi malam. Namun kerinduan ini masih tetap bertahan beserta rinai hujan yang tak berhenti merenyai dari mataku pada malam ini. Sewaktu aku merapalkan segala pinta dan doa, terbersit dalam ingatanku tentang pertanyaan dari Ibu,

 “Sastra, kelak ketika engkau sudah beranjak dewasa, cita-cita apa yang selalu kau impikan setiap malam nak?”  

“Aku ingin menjadi seniman kata Bu. Karena hidup ini dipenuhi dengan segala keindahan seni. Dan kata-kata adalah jalan yang selalu mewarnai dunia ini. Sastra ingin abadi Bu, seperti Eyang Sapardi.”


“Sastra anakku, ora et labora, berdoalah dan berkaryalah selalu ya nak, sebab yang harus ada dari seorang seniman ialah karyanya. Itulah yang membuat seniman abadi, seperti Eyang Sapardi. Bertekunlah ya nak, semua ada waktunya, omnia tempus habent. Mintalah maka Tuhan akan berikan padamu. Carilah maka kau pun akan mendapat dan ketuklah pintu maka Tuhan pun akan bukakan untukmu.” 

Setelah teringat nasihat Ibu, aku pun dapat tertidur pulas, pergi mengarungi samudra mimpi sembari mengatupkan tangan di dada ini. Aku tak berhenti berharap dalam bayang, Ibu memeluk erat serta mengecup manis di kening dan Bapak datang membawa sejuntai rindu nan kenang. Dalam mimpiku aku meniti pelabuhan imajinasi sunyi. Dan ternyata yang aku lihat adalah Bapak yang ingin merangkul kuat seperti ombak. Ketika aku menapak kaki di belantara bumi ternyata yang aku ingat adalah kasih dan kaki Ibu, yang selalu suci murni seperti Nirwana sepanjang waktu.

* * * * *

Fajar menyingsinglah sudah. Aku pun terhenyak dari tidurku dan disambut oleh mentari, serta kawanan burung-burung yang berkicau riang setiap pagi. Aku pun pergi keluar di pelataran rumah. Selasar fajar di cakrawala dan bunga-bunga di pekarangan rumah tersenyum merekah. Sekalipun rinduku pada Bapak dan Ibu tetap di hati. Sekalipun melulu perihal duka purba merindu, meluruh waktu yang semu.

Aku pergi berjalan keliling rumah, sembari merapalkan doa untuk Bapak dan Ibu di kampong halaman. Syukurlah pagi ini cerah sekali, sehingga sinyal sampai ke tempatku dan aku dapat menghubungi Bapak dan Ibu. Sayang seribu sayang, gawai mereka tidak aktif dan aku tak bisa menghubungi mereka. Aku melanjutkan untuk menikmati bunga-bunga di tempatku, bagaikan Nirwana yang hadir di nusantara negeriku. Setelah selesai bercengkerama dengan alam di halaman, aku masuk ke rumah untuk sarapan, sembari meneguk secangkir kopi dan menonton layar kaca televisi.

“Braaaak ……..”

Aku tak kuasa menahan secangkir kopi yang aku pegang ketika mengetahui kabar di televisi. Terdengar berita virtual pada dunia digital bahwa Bapak dan Ibu telah merayakan perjamuan pada kesunyian temaram. Ia telah pergi pada dunia abadi sebab pandemi yang menggerogoti seisi raga mereka yang telah ringkih dimakan usia. Ingatanku langsung melayang pada pertanyaanku kemarin malam,

“Bagaimana kalau aku tak bisa berjumpa dengannya?”

Aku mencoba untuk tegar, nyatanya tangisan kerinduan ini kian teramat kuat dalam bermuara. Hal ini membuatku semakin sepi kala teringat kenangan sebelum Bapak dan Ibu pergi ke perjamuan sunyi yang abadi. Bapak pernah memberikan petuah untukku,

“Sastra, dunia ini penuh dengan ketidakpastian. Sebab kepastian yang paling pasti ialah ketidakpastian itu sendiri. Segala rancanganmu bukanlah, rancangan-Nya dan segala jalanmu bukanlah jalan-Nya. Hidup ini adalah melulu perihal rindu dan menunggu untuk tempat tidur, yang penuh dengan rayap dan debu di liang kubur.”

Seandainya aku boleh merapalkan kembali tentang rindu abadi. Akan terus kurapalkan segala ratap, kelu, nan pilu, menjadi sehasta renjana Nirwana rindu. Sebab kerinduan ini telah menjelma bidadari yang sangat piawai membuat jiwa semakin subur. Layaknya keabadian yang menyatu dengan Bapak dan Ibu di rimpuh kubur.

Penulis : Gabriel Kristiawan Suhassatya

Cerita Pendek Berjudul Kerinduan Sastra
Kerinduan. Photo by Robert Butts via pexels.com

Fianosa.com merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi generasi muda menulis tentang apa pun. Submit tulisanmu secara mandiri lewat link ini ya.
Nama

Agama,4,Agent Of Change,1,Akreditasi,1,All England,1,Amin Rais,1,Anak Jalanan,1,Anti Korupsi,2,Anugerah Pesona Indonesia,1,Aplikasi,1,Argentina,1,Atambua,12,Baby Boomer,1,Badminton,1,Banjir,1,Bank Indonesia,1,Banyuwangi,1,Bawaslu,3,Beasiswa,5,Beasiswa Jadi PNS,1,Beasiswa Pemuda Mendunia,1,Beasiswa SejutaCita,1,Belajar,2,Bencana,1,Bencana Siklon Seroja,1,Bisnis,4,BUCIN,1,Budak CInta,1,Budaya,9,Bulutangkis,1,Bupati Nganjuk,1,BWF,1,Cafe Amor Dualaus,1,Catur,2,Cerita,13,Cerita Pendek,12,CIASTECH 2020,1,Cinta,1,Cipta Kerja,1,Coding,1,Copa America 2021,1,Covid-19,20,CPNS,3,Crowdfunding,1,Damai,1,Dana Desa,1,Daniel Osckardo,7,Debat Pilkada,1,Demokrasi,1,Desa,1,Desember,1,Diego Maradona,1,Digital,1,Dokumen,1,Drama Hukum,1,Drama Korea,1,Drama Korea Tentang Hukum,1,Edhy Prabowo,1,Ekonomi,13,Empat Agenda Seorang Pemulung,1,English Corner,4,English Poem,1,Euro 2020,1,Event,2,Fabio Carvalho,1,Fanatisme,1,Features,1,Film Hukum,1,Filosofi Stoisisme,1,Fourth Industry Revolution,1,Fresh Graduate,1,Fulan Fehan,2,Fulham,1,Gabriel Kristiawan Suhassatya,9,Ganja,1,Gemerlap Kota,1,Generasi Alpha,1,Generasi Muda,1,Generasi Z,2,Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia,1,Ghetto,1,Gilbert Ryle,1,GMNI,1,google classroom,1,Guru,2,Gus Mus,1,Hakordia,1,Hari Anti Korupsi Sedunia,1,Hari Bumi,2,Hari Guru,4,Hari Kartini,1,Hari Kebangkitan Nasional,1,Hari Kesehatan Dunia,1,Hari Lingkungan Hidup Sedunia,1,Hari Persaudaraan Manusia Internasional,2,Himpunan Mahasiswa Islam,1,HMI,1,Home Education,1,Hubungan,1,Hujan,1,Hujan Untuk Kita,1,Hukum,21,Hukum Film,2,Ide Kreatif,1,IKADAR Bali,1,Indonesia,6,Influencer,1,Inggris,2,Internasional,2,Isak Tangis,1,Islam,3,Islam Kejawen,1,Jhoni Lae,3,Jodoh,1,John Rawls,1,Juliari Batubara,1,Kaboax,1,Karir,16,Keadilan Sosial,1,Kejaksaan,1,Kemenangan,1,Kesehatan,1,Kesejahteraan Masyarakat,1,Komunikasi,2,Komunitas,1,Koperasi,1,Korupsi,2,KPK,1,KRI Nanggala 402,1,Kuliah Kerja Nyata,1,Kupang,1,Leadership,1,Lelaki Berkumis Tipis,1,Liburan Kuliah,1,Lokastithi Giribadra,1,Lomba,4,Lomba Karya Tulis Ilmiah,2,Lomba Menulis,2,Long life learning,1,Longsor,1,Lowongan kerja,8,Mafia Tanah,1,Mahasiswa,6,Malang,1,Mama,1,Maret,1,Matematika,1,Media Sosial,1,Membaca,1,Membuat SKCK,1,Memperpanjang SKCK,1,Mena,1,Meningkatkan Fokus,1,Menteri Sosial,2,Menyenangkan,1,Messi,1,Michael Focault,1,MICIN,1,Milenial,15,Millenial,9,Miskin Cinta,1,Motivasi,15,MTQ Nasional 28,1,Muhamad Sulaeman,3,Nadiem Anwar Makarim,1,Nasib Negeri Kanibal,1,Nasional,4,Neo Ghetto,1,New Normal,1,News,7,NTT,4,Nusa Tenggara Timur,9,Olahraga,11,Omnibus Law,2,Opini,198,Opinion,3,Orleans Masters 2021,1,Pahlawan Tanpa Nama,1,Pahlawan Tanpa Tanda Jasa,1,Pana Mone Hill Stone,1,Pancasila,2,Pandemi Covid-19,9,Pantai Pasir Putih Atambua,1,Paskah,2,Paulo Freire,1,Paus Fransiskus,2,PCPM 36,1,Pemilihan Umum,1,Pemilu,1,Pemimpin,1,Pemulihan Ekonomi,4,Pendaftaran Siswa Baru,2,Pendidikan,39,Pendidikan Keluarga,1,Pendidikan Politik,1,Penguatan Bawaslu,1,Perkawinan,1,Petuah Sukma,1,Piala Kemenpora,1,Pilihan Redaksi,21,Pilkada,1,Politik,7,Pompa ASI,1,Posko Babarsari Yogyakarta,1,Potensi Diri,1,PPPK,1,Pray For NTT,1,Print Uang,1,Printing Money,1,Profesi,1,Prostitusi,1,Psikologi,1,Publik Speaking,1,Puisi,46,Puisi Tentang Hujan,1,Puisi Tentang Ibu,1,Purbalingga,1,Quarter Life Crisis,1,Quote,2,Quotes Kata-Kata Bijak,2,R.A Kartini,1,Raiders Salomon Marpaung,4,Ramalan Zodiak,1,Redeskripsi Sastra,1,Regional,4,Revolusi Industri,4,Ronaldo Filipus Nara,5,Ruang Rindu,1,Sabut Kelapa,1,sastra,29,Sei,1,Sejuta,1,Semua Berita,16,Senja,1,Senja dan Rindu,1,Sentilan Pagi,1,Senyum Rembulan,1,Sepakbola,3,SKCK,1,SMA,1,SMA 7 September 99 Atambua,4,SMP,1,SMP 7 September 99 Atambua,3,Sobat Cinta,1,SOCIN,1,Sociopreneurship,1,Sosial,71,Status Sosial,1,Sumatera Barat,1,Sumba,1,Tahun Baru 2021,1,Tamtama,1,Tanggung Jawab,1,Teknologi,4,Teori Psikologi Adler,1,The Sunrise Of Java,1,Theory Of Justice,1,They Feynman,1,TikTok,1,Timor Leste,3,Tips,22,Tips Kepemimpinan,1,TNI AU,1,Toraja,1,Trash Hero Belu,1,Travel,13,Tuhan Bangkit,1,Ulang Tahun,1,UMKM,2,Universitas Timor,1,Urbanisasi,1,Utilitarianisme,1,Video Game,1,Virus Corona,13,Webinar,3,Website,1,Wirausaha,1,Wisata,2,Yayasan Nusa Timur,7,Youtube,1,Youtuber,1,Zodiak,1,zoom,1,
ltr
item
Fianosa - Website Sumber Informasi Inspiratif: Kerinduan Sastra
Kerinduan Sastra
Sebuah cerita pendek karya Gabriel Kristiawan Suhasstya yang berjudul kerinduan sastra
https://1.bp.blogspot.com/-k0HV3KxSBE4/YAurjGyrnYI/AAAAAAAABVU/NfTJWl-yuLsEbxjRCJ0eAg2jPeGtK232ACLcBGAsYHQ/w640-h426/pexels-photo-1301494.jpeg
https://1.bp.blogspot.com/-k0HV3KxSBE4/YAurjGyrnYI/AAAAAAAABVU/NfTJWl-yuLsEbxjRCJ0eAg2jPeGtK232ACLcBGAsYHQ/s72-w640-c-h426/pexels-photo-1301494.jpeg
Fianosa - Website Sumber Informasi Inspiratif
https://www.fianosa.com/2021/01/kerinduan-sastra.html
https://www.fianosa.com/
https://www.fianosa.com/
https://www.fianosa.com/2021/01/kerinduan-sastra.html
true
3872901063732751062
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts LIHAT SEMUA Baca Selengkapnya Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All REKOMENDASI UNTUK ANDA Topik Terkait ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Topik Terkait Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share to a social network STEP 2: Click the link on your social network Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy Table of Content