Dari Barat Kita Akan Bicara Perang

SHARE:

Islam adalah ideologi yang hidup bersama rakyat.Berangsur tumbuh menjadi gerakan. Berakhir sebagai sebuah keberanian untuk membela prinsip kemanusiaan

Baca Juga :

Jangan puji keyakinan Anda sendiri dengan cara yang sedemikian eksklusif sehingga Anda tidak memercayai keyakinan-keyakinan lainnya (Ibn Al-‘Arabi: W.1240)

Mesa Selimovic, novelis Bosnia pertengahan abad ke-20 muncul sebagai pemersatu dan pengarus utamaan dari konflik Bosnia pasca-Kemerdekaan. Dari penggalannya, dia mengatakan:

Putra-putra Adam! Aku tidak akan berkhutbah. Sekalipun ingin, aku bisa. Namun aku percaya bahwa kalian akan menyalahkanku, jika aku tak berbicara mengenai diriku sekarang, pada saat ini, saat paling gelap dalam hidupku. Yang aku katakan ini tak pernah lebih penting bagiku, tetapi aku tidak ingin memperoleh apapun. Tidak ada, kecuali welas asih di mata kalian. Aku tidak ingin menyebut kalian saudara-saudaraku—sekalian kalian memang saudara-saudaraku, terlebih lagi saat ini—tetapi memanggil kalian sebagai putra-putra Adam, untuk mengingatkan kesamaan kita semua. Kejahatan ini menyangkut kalian juga, sebab kalian mengenal ayat dalam kitab suci, bahwa siapapun yang membunuh orang yang tidak bersalah, ibarat dia telah membunuh seluruh umat manusia. Mereka telah membunuh kita semua berkali-kali, tidak terhitung banyaknya saudaraku telah dibunuh, tetapi kita merasa ngeri ketika mereka menyerang orang-orang yang paling kita cintai. Mungkin aku harus membenci mereka, tetapi aku tidak bisa; aku tidak memiliki dua hati—satu untuk kebencian dan satu untuk cinta. Hati yang kumiliki saat ini hanya mengenal duka. 

Aku seperti Qabil, yang kepadanya Allah mengirimkan burung gagak yang mengais tanah, untuk mengajarkan kepadanya bagaimana mengubur jasad saudaranya yang telah meninggal. Aku, Qabil yang malang, lebih malang dari pada seekor gagak hitam. Aku tidak menyelamatkannya saat dia masih hidup; aku tidak melihatnya saat dia meninggal. Kini aku tidak memiliki siapa pun, kecuali diriku, Tuhanku, dan kesedihanku. Berilah aku kekuatan, agar aku berputus asa karena kesedihan persaudaraan dan manusiawi, atau meracuniku dengan kebenciaan. Aku ulangi kata-kata Nabi Nuh: pisahkan aku dari mereka, lalu putuskanlah urusan di antara kami. 

Dan kini pulanglah, tinggalkan aku sendiri dengan kemalanganku. Beban kini terasa lebih ringan setelah kuceritakan kepada kalian. 

Kutipan Selimovic adalah fenomena tragis. Berbicara soal penumpasan berdarah-darah. Soal peperangan dan pembalasan dendam yang tidak kunjung surut. Terus menerus. Sampai akhirnya, darah adalah harga mati yang tidak bisa dikompromi. Dia menggambarkan kemanusiaan telah mengambil haknya sendiri untuk dibela. Kemanusiaan dihargai darah dan dibeli dengan darah pula. Darah diklaim sebagai drama untuk menemui keadilan setelah sengketa pembunuhan terus terjadi. 

Adapun krisis definisi di dalam Islam sendiri, sedang dimaknai sebagai agama yang sangat agresif. Ia begitu beringas berhadapan dengan musuh. Tanpa ampun melawan semua ketidaksepahaman di sekitarnya. Di jalanan, Islam akan bangga kalau-kalau tergeletak banyak mayat. Bangga kalau di depan pos-pos perumahan dibanjiri darah. 11 September 2001 ketika serangan teroris Al-Qaeda menghantam Amerika Serikat dikomandoi oleh  Osamah bin Laden, menimbulkan 2.966 orang tewas dan lebih dari 6.000 orang terluka. Empat pesawat terbang dibajak teroris: dua pesawat menabrak dua gedung pencakar langit (gedung kembar WTC) di New York City, satu pesawat ditabrakkan ke markas Pentagon (Departemen Pertahanan AS), sedangkan satu pesawat lagi direncanakan menghantam Washington, DC, tetapi digagalkan para penumpangnya sehingga jatuh di sebuah lapangan Pennyslavania, membuat pengertian Islam terkesan sangat brutal, anarkis, konfrontatif, dan begitu mengerikan. 

Islam dijarah secara sepihak dengan mengklaim bahwa kerusuhan-kerusuhan yang ditimbulkan oleh teroris, berakar pada ajaran dogmatis Islam itu sendiri. Dari garis-garis inilah, pelaku ekstremis (baca: teroris) semakin berulah fatal dengan menggunakan dalil-dalil agresi dari al-Qur’an—dengan kutipan dan pemahaman sepotong-sepotong bahkan dangkal. Sebagaimana pelaku teror menjajakan ayat-ayat al-Qur’an—untuk melegitimasi praktik kolonialisnya—dengan mengutip soal jihad surat At-Taubah ayat 38-39.

Teroris mengubah dalil kekerasan, menjadi keimanan. Mengubah darah, menjadi kesalehan. Mengubah pembunuhan, menjadi ketaqwaan. Seruan mereka dikatalisasi dengan menggunakan kanal, “bunuhlah mereka (musuh) dimana saja kamu menemui mereka!” (QS Al-Nisa’ [4]: 89), supaya kesan kekerasan yang mereka lakukan, adalah wujud Islam yang tidak mengenal kompromi jika berhadapan dengan orang-orang kafir. Pastinya, mereka akan semakin mengangkat bahu, menambah keberanian, dan mengobarkan nafsu untuk terus hidup dalam lingkaran pertemuran. 

Umpama kolektif ekstremis punya misi, memperluas dan memperlebar kekuasaan Islam, maka itu adalah kesalahan besar. Islam melarang pemaksaan, Tidak ada paksaan dalam urusan agama (QS. Al-Baqarah [2]: 256).   

Islam tidak candu perang. Islam adalah agama yang ramah. Islam tidak akrab dengan pisau, pedang, bedil, bahkan bom. Islam lebih identik dengan perdamaian dan toleransi (QS. Al-Fushilat [41]: 34). Tapi, kenapa orang-orang lebih banyak menerima klaim Islam sebagai agama agresi? Lebih percaya label-label teroris? Padahal akar ajarannya adalah soal kemanusiaan dan toleransi beragama. 

Barat dan Islam Sepanjang Sejarah

Hubungan Barat-Islam bisa dilacak sepanjang sejarah, dimulai pada Tahun 732 M, Dinasti Umayyah berhasil menguasai Andalusia. 1453 M, Dinasti Utsmaniyyah berhasil menguasai negeri Romawi Timur Kristen bahkan mencoba menyerang sampai Austria pada 1683. Pun akar kesejarahan dan tendensi blok Timur dan Barat, terus melekat sampai hari ini, sehingga pertautan ajaran dan definisi Islam harus ditinjau dari Barat—yang dipandang sebagai wilayah berkemajuan dan berperadaban.  

Kebaruan doktrin Barat adalah sebuah faktor yang menyerang, tetapi bukan satu-satunya. Kita membutuhkan penafsiran lanjut, yang lebih deskriptif dan komprehensif. Kita bisa mendeteksi dan mendiagnosis jiwa-jiwa propagandais yang menyebabkan orang mudah terpapar nilai ekstremis. Alih-alih menunjukkan bukti bahwa Barat bukan segala-galanya yang pantas dijadikan kiblat terhadap soal apapun. 

Di Indonesia, para Ulama telah mencatat titik kesamaan yang kuat antara jenis Puritanisme Saudi yang baru-baru ini diekspor ke negeri tersebut, dengan ideologi doctrinal dari beberapa kelompok radikal dalam negeri yang paling keras pendiriannya, termasuk yang paling terkenal: Laskar Jihad (Abdal Hakim Murad, sebuah kuliah yang disampaikan di St Martin-in-the-Fields, London, 2 November 2015). 

Indonesia Bicara Ketentraman? 

Semangat muslim (baca: pemuda) adalah sisa untuk berkomitmen pasang badan, melawan segala bentuk penindasan—dengan penerjemahan bedil, regulasi, sistem, atau apapun. Kekuatan ini didedikasikan semata-mata untuk menghormati program dan nilai kemanusiaan—agar tidak direnggut dan diinjak semena-mena. 

Penerapan arus perjuangan semacam nalar aktivisme, yang sengaja diorbitkan untuk menjaga dan mengawasi praktik kolonialis yang menindas, memeras, menghisap, merampas, dan bahkan membunuh prinsip serta nilai kemanusiaan itu sendiri, seyogyanya dirawat dan dijaga. Betapa kemewahan terakhir di tubuh pemuda—bagi Tan Malaka—adalah idealisme. 

Kaum muda berhak memangkas sistem—dan perangkat saudaranya—kalau-kalau suatu saat mengancam keberadaan bangsanya. Naiknya angka-angka perampasan lahan di sudut-sudut daerah, potensi korupsi yang terus menjalar, tingginya sistem tiranik di rezim ini, dsb, menuntut kaum muda menyelamatkan sarana kemanusiaan, untuk berangkat dari lajur masjid menuju jalur perjuangan di jalanan. 

Keterdesakan mustadl’afin menerima perlakuan negara otoritatif, rakyat yang dipaksa melepaskan lahan tinggal dan nafkahnya, serta pelbagai praktik-praktik kolonialis lainnya, semakin menambah kekuatan untuk tetap berada di garis terdepan melawan segala bentuk kemunkaran dengan membersamai kaum mustadl’afin—sebagai kolektif yang terpinggirkan. 

Tidak ada yang berhak menginjak dan mengusir paksa prinsip kolektif—yang semestinya kelar dalam musyawarah. Praktik apapun bila ujungnya mengkerdilkan konsolidasi, menggeser metanarasi kolektif, dan atau menindak habis kontradiksi-kontradiksi, maka bisa jadi ia semangat individualisme. 

Model Dakwah 

Pemusnahan kemanusiaan itu sendirilah yang merupakan sasaran perang jihad yang seharusnya tidak dilakukan dengan kekafiran menjadi keberimanan. Percaya pada Tuhan dan wahyu-Nya adalah basis fundamental bagi promosi aksi-aksi kemanusiaan. Hal ini berarti bahwa Al-Qur’an bukanlah referensi kekerasan atau peperangan atas nama Tuhan dan agama-Nya. Ironisnya, Tuhan dan agama-Nya justru seringkali dipakai mereka yang menyatakan diri beriman sebagai alasan kehalalan menindas, membunuh, dan berlaku tidak adil (Abdul Munir Mulkhan, 2002). 

Jika si miskin ditindas, yang lemah dieksploitasi, atau lembaga-lembaga negara menjadi korup, umat Muslim diwajibkan mengupayakan segala hal untuk mengembalikan masyarakat ke jalur yang benar (Karen Armstrong, 2018).

Ilmu dakwah tidak hanya bisa dibangun dari sumber normatif kenabian dan kerisalahan Muhammad SAW dan sumber normatif teks suci Al-Qur’an. Teks dakwah bukan hanya menjadikan kisah kenabian dan kerasulan Muhammad SAW sebagai tipe ideal norma dasar. Lebih penting jika proses sosial-budaya di dalam teks dan kisah suci itu dikaji sebagai sumber material kegiatan dan ilmu dakwah. Demikian pula halnya dengan banyak kisah konversi keagamaan di dalam seluruh era sejarah, baik di dalam teks Al-Qur’an dan Sunnah, atau pun di dalam sejarah kemanusiaan (Abdul Munir Mulkhan, 2002). 

Berapa banyak kisah dalam teks-teks nash al-Qur’an dan Sunnah tidak bisa hanya dipandang sebagai nilai normative belaka. Ia harus hidup dalam tataran kerja-kerja progresif demi berlangsungnya sistem hidup berasaskan nilai kemanusiaan. Dalam perintah nash, muslim harus berani hadir dalam konflik-konflik membela kemanusiaan—sebagaimana upaya Nabi Muhammad SAW membentuk piagam Madinah. 

Masjid sebagai rumah ibadah perlu diredefinisi. Sikap peribadahan di dalam Masjid itu sendiri harus diterjemahkan sebagai batu loncatan menyoal isu-isu kemanusiaan yang sedang porak-poranda. Ketercapaian muslim lewat identifikasi pandangan kiri itu sendiri, harus berwujud sebagai kehadiran muslim di tengah-tengah public. Muslim tidak boleh lemah berhadapan dengan sikap konfrontatif. Ia harus berjuang melengkapi gerakan kemanusiaan. 

Relasi masjid dan jalanan harus seiring dan seirama. Kampanye dogmatis dari sifatnya yang ritus, mesti berakhir pada aksi. Anjuran Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin, merupakan fungsi dan akses pendukung, agar kemaslahatan itu bukan mimpi, melainkan netralitas dan toleransi yang menyanggupi Islam sebagai ideologi gerakan. Artinya, Islam harus dijadikan doktrin dan nilai aktivisme, demi memperbahrui teks-teks al-Qur’an dan Sunnah yang banyak dipandang kaku dan sreligius.

Islam adalah ideologi yang hidup bersama rakyat. Berangsur-angsur tumbuh menjadi gerakan. Berakhir sebagai sebuah keberanian untuk membela prinsip kemanusiaan. Maka kewajiban besar muslimin-muslimat, untuk aktif dalam tema-tema gerakan progresif guna menunjang nilai kemanusiaan demi berlangsungnya penghidupan sejahtera. Masjid harus benar-benar bisa menjadi ruang interaksi apapun. Termasuk juga menjadi basis lahirnya Gerakan kemanusiaan di jalan.

Penulis : Ahmad Deni Rofiqi [Mahasiswa Hukum Tata Negara UIN Jember, dan Koordinator Amnesty Internasional Indonesia (Amnesty Jember)]
Masjid harus benar-benar bisa menjadi ruang interaksi apapun. Termasuk juga menjadi basis lahirnya Gerakan kemanusiaan di jalan
Masjid harus benar-benar bisa menjadi ruang interaksi apapun. Termasuk juga menjadi basis lahirnya Gerakan kemanusiaan di jalan. Photo via wallup.net
Fianosa.com merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi generasi muda menulis tentang apa pun. Submit tulisanmu secara mandiri lewat link ini ya.
Nama

Agama,1,Agent Of Change,1,Akreditasi,1,All England,1,Anak Jalanan,1,Anti Korupsi,2,Anugerah Pesona Indonesia,1,Aplikasi,1,Atambua,12,Baby Boomer,1,Badminton,1,Banjir,1,Banyuwangi,1,Bawaslu,2,Beasiswa,6,Beasiswa Jadi PNS,1,Beasiswa Pemuda Mendunia,1,Beasiswa SejutaCita,1,Belajar,2,Bencana,1,Bencana Siklon Seroja,1,Bisnis,4,BUCIN,1,Budak CInta,1,Budaya,9,Bulutangkis,1,Bung Karno,1,Bupati Nganjuk,1,BWF,1,Cafe Amor Dualaus,1,Catur,2,Cerita,9,Cerita Pendek,5,CIASTECH 2020,1,Cinta,1,Cipta Kerja,1,Coding,1,Covid-19,14,CPNS,2,Crowdfunding,1,Damai,1,Dana Desa,1,Daniel Osckardo,6,Debat Pilkada,1,Demokrasi,1,Desa,1,Desember,1,Diego Maradona,1,Digital,1,Dokumen,1,Drama Hukum,1,Drama Korea,1,Drama Korea Tentang Hukum,1,Edhy Prabowo,1,Ekonomi,14,Empat Agenda Seorang Pemulung,1,English Corner,4,English Poem,1,Event,4,Event Hunter Indonesia,1,Fabio Carvalho,1,Featured,3,Features,1,Film Hukum,1,Filosofi Stoisisme,1,Fourth Industry Revolution,1,Fresh Graduate,1,Fulan Fehan,2,Fulham,1,Gabriel Kristiawan Suhassatya,9,Ganja,1,Ganjar Pranowo,1,Gemerlap Kota,1,Generasi Alpha,1,Generasi Muda,1,Generasi Z,2,Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia,1,Gilbert Ryle,1,GMNI,1,google classroom,1,Gubernur Jawa Tengah,1,Gunung Ile Lewotolok,1,Gunung Meletus,1,Guru,2,Gus Mus,1,Hakordia,1,Hari Anti Korupsi Sedunia,1,Hari Bumi,2,Hari Guru,4,Hari Kartini,1,Hari Kebangkitan Nasional,1,Hari Kesehatan Dunia,1,Hari Lingkungan Hidup Sedunia,1,Hari Persaudaraan Manusia Internasional,2,Hidroponik,1,Himpunan Mahasiswa Islam,1,HMI,1,Home Education,1,Hubungan,1,Hujan,1,Hujan Untuk Kita,1,Hukum,23,Hukum Film,2,Ide Kreatif,1,Indonesia,6,Influencer,1,Inggris,1,Internasional,2,Isak Tangis,1,Islam,3,Islam Kejawen,1,Jawa Tengah,1,Jhoni Lae,3,Jodoh,1,John Rawls,1,Juliari Batubara,1,Kaboax,1,Karir,16,Keadilan Sosial,1,Kejaksaan,1,Kemenangan,1,Kesehatan,1,Kesejahteraan Masyarakat,1,Komunikasi,2,Komunitas,2,Koperasi,1,Korupsi,2,KPK,1,KRI Nanggala 402,1,Kuliah Kerja Nyata,1,Kupang,1,Leadership,1,Lelaki Berkumis Tipis,1,Lembata,1,Liburan Kuliah,1,Lomba,4,Lomba Karya Tulis Ilmiah,2,Lomba Menulis,2,Long life learning,1,Longsor,1,Lowongan kerja,8,Mafia Tanah,1,Mahasiswa,7,Malang,1,Mama,1,Mandiri Tunas FInance,1,Maret,1,Matematika,1,Media Sosial,1,Membaca,1,Membuat SKCK,1,Memperpanjang SKCK,1,Mena,1,Meningkatkan Fokus,1,Menteri Sosial,2,Menyenangkan,1,MICIN,1,Milenial,16,Millenial,7,Miskin Cinta,1,Motivasi,15,MTQ Nasional 28,1,Muhamad Sulaeman,3,Muslimah,1,Nadiem Anwar Makarim,1,Nasib Negeri Kanibal,1,Nasional,5,New Normal,1,News,3,NTT,5,Nusa Tenggara Timur,8,Olahraga,6,Omnibus Law,2,Opini,199,Opinion,3,Orleans Masters 2021,1,Pahlawan Tanpa Nama,1,Pahlawan Tanpa Tanda Jasa,1,Pana Mone Hill Stone,1,Pancasila,1,Pandemi Covid-19,2,Pantai Pasir Putih Atambua,1,Paskah,2,Paulo Freire,1,Paus Fransiskus,2,Pemilihan Umum,1,Pemilu,1,Pemimpin,1,Pemulihan Ekonomi,4,Pendaftaran Siswa Baru,2,Pendidikan,38,Pendidikan Keluarga,1,Pendidikan Politik,1,Pengabdian,1,Penguatan Bawaslu,1,Perkawinan,1,Petuah Sukma,1,Piala Kemenpora,1,Pilihan Redaksi,19,Pilkada,1,Politik,7,Pompa ASI,1,Posko Babarsari Yogyakarta,1,Potensi Diri,1,PPPK,1,Pray For NTT,1,Print Uang,1,Printing Money,1,Profesi,1,Prostitusi,1,Psikologi,1,Publik Speaking,1,Puisi,47,Puisi Tentang Hujan,1,Puisi Tentang Ibu,1,Quarter Life Crisis,1,Qudwahits Reborn,1,Quote,2,Quotes Kata-Kata Bijak,2,R.A Kartini,1,Raiders Salomon Marpaung,4,Ramalan Zodiak,1,Redeskripsi Sastra,1,REFLEKSI,1,Regional,4,Revolusi Industri,4,Ronaldo Filipus Nara,5,Ruang Rindu,1,Sabut Kelapa,1,sastra,29,Sei,1,Sejuta,1,Seminar,1,Semua Berita,12,Senja,1,Senja dan Rindu,1,Sentilan Pagi,1,Senyum Rembulan,1,Sepakbola,2,SKCK,1,SMA,1,SMA 7 September 99 Atambua,4,SMP,1,SMP 7 September 99 Atambua,3,Sobat Cinta,1,SOCIN,1,Sociopreneurship,1,Soekarno,1,Sosial,71,Status Sosial,1,Sumatera Barat,1,Tahun Baru 2021,1,Tamtama,1,Tanggung Jawab,1,Teknologi,4,Teori Psikologi Adler,1,Teroris,1,Terorisme,1,The Sunrise Of Java,1,Theory Of Justice,1,They Feynman,1,Timor Leste,2,Tips,18,Tips Kepemimpinan,1,TNI AU,1,Toraja,1,Trash Hero Belu,1,Travel,13,Tuhan Bangkit,1,Ulang Tahun,1,UMKM,2,Universitas Muhammadiyah Malang,1,Universitas Timor,1,Urbanisasi,1,Utilitarianisme,1,Vaksin,1,Video Game,1,Virus Corona,8,Webinar,4,Website,1,Wirausaha,1,Wisata,2,Yayasan Nusa Timur,7,Zodiak,1,zoom,1,
ltr
item
Fianosa - Website Sumber Informasi Inspiratif: Dari Barat Kita Akan Bicara Perang
Dari Barat Kita Akan Bicara Perang
Islam adalah ideologi yang hidup bersama rakyat.Berangsur tumbuh menjadi gerakan. Berakhir sebagai sebuah keberanian untuk membela prinsip kemanusiaan
https://1.bp.blogspot.com/-Csd3Ditm6_Y/X_wrTkYNqiI/AAAAAAAABQw/bUNQFt8DDN0cphLMHWXtwrKFwdQUFjtogCLcBGAsYHQ/w640-h480/photography-1610361535606-4264.jpg
https://1.bp.blogspot.com/-Csd3Ditm6_Y/X_wrTkYNqiI/AAAAAAAABQw/bUNQFt8DDN0cphLMHWXtwrKFwdQUFjtogCLcBGAsYHQ/s72-w640-c-h480/photography-1610361535606-4264.jpg
Fianosa - Website Sumber Informasi Inspiratif
https://www.fianosa.com/2021/01/dari-barat-kita-akan-bicara-perang.html
https://www.fianosa.com/
https://www.fianosa.com/
https://www.fianosa.com/2021/01/dari-barat-kita-akan-bicara-perang.html
true
3872901063732751062
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts LIHAT SEMUA Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All REKOMENDASI UNTUK ANDA LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share to a social network STEP 2: Click the link on your social network Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy Table of Content