Terpenjara Oleh Pemahaman Yang Sempit (Problematika Makna Belajar dan Cerdas)

SHARE:

Tulisan ini dibuat untuk dibaca oleh orangtua, dan guru. Jangan malu untuk share tulisan ini ke teman, orangtua, dan guru.

Baca Juga :
Bahasa kesatuan kita masih terbilang "muda" jika dibandingkan dengan bahasa Inggris. Sehingga kosakata yang kita miliki pun tidak terlalu banyak. Bahasa Indonesia hanya memiliki sekitar 127 ribu kosakata, sedangkan bahasa Inggris lebih dari 1 juta kosakata. Dengan minimnya kosakata dalam bahasa kita, menyebabkan satu kata dalam bahasa indonesia memiliki makna yang luas. Jadi wajar jika satu kata memiliki beberapa makna.

Tetapi terkadang masyarakat menafsirkan kata dalam bahasa Indonesia secara sempit. Saya akan membahas dua kata yang di tafsirkan secara sempit oleh sebagian masyarakat yang sangat berpengaruh dalam pembentukan paradigma pada anak indonesia khususnya pelajar. Paradigma inilah yang mempegaruhi dalam berpikir, bersikap, dan bertingkah laku. Dua kata itu adalah belajar dan cerdas.

Bahasa Indonesia hanya mengenal belajar sebagai satu kata, belajar. Dan belajar selalu diidentikkan dengan sesuatu yang berbau instansi pendidikan, sekolah dan kuliah. Sedangkan dalam bahasa Inggris, kita semua mengenal belajar dalam dua arti dan makna yang berbeda, yaitu learn dan study. Memang, keduanya memiliki arti yang sama, tapi, makna dari kedua kata tersebut berbeda.

Study adalah mempelajari, misalnya mempelajari sejarah, menghafal rumus matematika, menghafal angka, mempelajari biologi, dan lain-lain, dan ini bisa kita dapatkan memang di bangku sekolah. Sementara itu, learn bukan sekedar mempelajari, learn adalah aktivitas untuk mendapatkan kemampuan. Ini artinya belajar tidak harus di sekolah, bisa belajar kapan pun dan di mana pun. Secara teori atau teknik, didampingi guru ataupun tidak. Misalnya belajar bermain alat musik, belajar bersosialisasi , dan lain-lain. Jika melakukan sesuatu dengan tujuan untuk mendapatkan dan mengembangkan kemampuan, itu artinya sedang belajar.

Pemahaman sebagaian masyarakat menafsirkan kata belajar hanya sebatas study saja, artinya belajar selalu di kaitkan dengan sekolah atau instansi pendidikan formal. Ini merupakan reduksi (pengurangan) makna yang sempit untuk sebuah esensi yang luas. Pemahaman masyarakat yang seperti inilah yang menurut saya berbahaya, karena pemahaman seperti ini akan menjadi sumber informasi untuk anak-anak Indonesia, yang akan membentuk paradigma keliru. Apalagi pemahaman itu didapat dari instansi pendidikan atau dari orangtua, akan lebih mudah untuk membentuk paradigma yang keliru.

Penafsiran kata "belajar" yang selalu diidentikkan dengan instansi pendidikan formal, sebenarnya sudah keluar dari konsep belajar yang sesungguhnya yaitu life long learning atau dalam islam, kita kenal satu hadist yang berbunyi, "athlubul 'ilma Minal Mahdi ila lahdi" (Tuntutlah ilmu sejak dari buaian hingga liang lahat).

Yang mana seharusnya belajar tidak boleh ada batasan, kapanpun, dimanapun, apapun, dengan siapa pun dan usia berapa pun harus tetap belajar, jadi jelas keliru ketika penafsiran belajar hanya sebatas instansi formal saja.

Menurut saya, seharunya sekolah terlebih dahulu menanamkan hal-hal yang bersifat fundamental atau mendasar seperti konsep belajar yang sesungguhnya seperti ini. Belajar pun harus berdasarkan motivasi intrinsik, bukan hanya sekedar tuntutan administratif semata. Dan disinilah sekolah seharusnya berperan dalam menuntun siswa-siswi nya untuk bisa mencapai pada motivasi intrinsik. Karena untuk mendapatkan puncak performa dan pengalaman terbaik dalam melakukan sesuatu, seseorang harus punya motivasi yang berkualitas tinggi (motivasi intrinsik).

"Yang buta huruf di abad ke-21 bukanlah mereka yang tidak bisa baca dan tulis, melainkan mereka yang tidak bisa : belajar, belajar meninggalkan, dan belajar kembali." -Herbert Gerjouy

"Semua orang jenius. Tapi jika Anda menilai ikan dengan kemampuannya memanjat pohon, ia akan menjalani hidupnya dengan percaya bahwa itu bodoh." - Albert Einstein 


Kalo bicara soal belajar pasti erat kaitannya dengan kata cerdas. Ini juga yang menurut saya dipahami secara sempit oleh sebagian masyarakat

Ada teman saya Fuadi namanya, dia curhat di story WhatApps, "percuma kalo ada kelebihan dibidang seni lukis, musik, tari, kalo matematika nya gak pinter mah orang gak akan menganggap diri anda cerdas". Hal seperti ini bukan hanya dirasakan oleh fuadi saja, mungkin ada banyak orang yang merasakan hal yang sama. Ketika seseorang tidak memenuhi standar kecerdasan yang ada, maka orang itu dianggap bodoh.

Seorang ahli pendidikan dari Harvard University bernama Howard Gardner berpendapat bahwa tidak ada manusia yang tidak cerdas. Paradigma ini menentang teori dikotomi cerdas-tidak cerdas. Gardner juga menentang anggapan “cerdas” dari sisi IQ (Intelectual Quotion), yang menurutnya hanya mengacu pada tiga jenis kecerdasan, yakni logika-matematik, linguistik, dan spasial. Howard Gardner kemudian memunculkan istilah multiple intelligences. Istilah ini kemudian dikembangkan menjadi teori melalui penelitian yang rumit, melibatkan antropologi, psikologi kognitif, psikologi perkembangan, psikometri, studi biografi, fisiologi hewan, dan neuroanatomi.

"The theory of multiple intelligencesdifferentiates human intelligence into specific 'modalities', rather than seeing intelligence as dominated by a single general ability"
. Teori Multiple Intelligences melihat anak sebagai individu yang unik. Karna teori ini berpendapat tidak ada anak yang bodoh, setiap anak mempunyai kecerdasan yang berbeda beda, tetapi semuanya sederajat. Dalam pengertian ini, tidak ada kecerdasan yang lebih baik atau lebih penting dari kecerdadan yang lain. Howard Gardner mengelompokkan kecerdasan menjadi sembilan, macam-macam kecerdasan tersebut yaitu:
  1. Kecerdasan linguistik adalah kemampuan untuk menyusun pikiran dengan jelas dan mampu mengungkapkannya melalui kata-kata seperti berbicara, membaca atau menulis.
  2. Kecerdasan matematis-logis adalah kemampuan untuk menangani bilangan dan perhitungan, serta pola pemikiran logis dan ilmiah.
  3. Kecerdasan visual adalah kemampuan melihat suatu objek dengan detail.
  4. Kecerdasan musikal adalah kemampuan untuk mengembangkan, mengekspresikan musik, irama, nada dan suara.
  5. Kecerdasan kinestetik adalah kemampuan menggabungkan gerakan fisik dan pikiran sehingga menghasilkan gerakan yang sempurna.
  6. Kecerdasan interpersonal adalah kemampuan untuk mengerti dan memahami orang lain.
  7. Kecerdasan intrapersonal adalah kemampuan yang berkaitan dengan pengetahuan akan diri sendiri dan bertanggung jawab atas kehidupannya sendiri.
  8. Kecerdasan naturalis adalah kemampuan untuk mengerti alam lingkungan dengan baik, kemampuan untuk memahami dan menikmati alam, dan mengenali berbagai jenis flora fauna dan fenomena alam lainnya.
  9. Kecerdasan spiritual adalah kemampuan untuk merasakan keberagaman atau macam-macam seseorang.
Semua jenis Multiple Intelligences dapat dikembangkan jika mendapat pendidikan dan kondisi lingkungan yang mendukung. Tapi sayang pendidikan dan kondisi lingkungan belum mendukung.

Balik lagi ke curhatan Fuad tadi, masalah yang dialami oleh banyak anak di indonesia adalah didiskriminasi dalam hal apresiasi. Anak-anak yang dianggap bodoh adalah anak-anak yang memiliki kecerdasan namun tidak diapresiasi dan sekolah mengabaikan kecerdasan itu. Artinya tidak semua kecerdasan di dukung oleh lingkungan dan sistem pendidikan kita saat ini. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan dan kondisi lingkungan kita tidak mendukung Multiple Intelligences.

Yang lebih parah lagi adalah dikotomi cerdas-tidak cerdas. Karena ketika seseorang hanya di ukur dari satu kecerdasan saja dan orang itu tidak punya kecerdasan di bidang itu, maka dia akan di cap bodoh di semua bidang. Kecerdasan yang berbeda tidak bisa di ukur dalam parameter yang sama. Ketika kecerdasan hanya di ukur dalam parameter yang sama justru akan membuat anak itu tidak percaya diri dengan kecerdasan yang ada dalam dirinya, akibatnya kecerdasan yang dimiliki tidak bisa berkembang dengan baik, bahkan bisa mematikan kecerdasan tersebut.

Ini berkaitan dengan teori penyimpangan sosial yang dipelopori oleh Lemert dan Interaksionisme simbolik dari Mead, yaitu teori labelling (pemberian cap/ julukan). Simpel nya teori labelling itu seseorang yang diberikan cap atau label dari masyarakat, orang itu akan bertingkah seperti label atau cap yang diberikan. Misalnya, seorang guru mengatakan bodoh kepada muridnya, secara perlahan murid itu akan berubah menjadi bodoh. Mungkin dalam pikiran murid itu "Ngapain belajar, kalo udah belajar pun tetap dibilang bodoh". Bukan hanya di sekolah saja, tetapi di lingkungan keluarga dan teman pun sering ditemukan hal seperti ini. Penyimpangan ini sering sekali terjadi di masyarakat Indonesia, Mungkin sudah membudaya. Memang pelabelan ini hal yang sepele, tapi dampaknya bisa sangat besar sekali. Perilaku kita sebagai bagian dari lingkungan ternyata menjadi faktor yang sangat signifikan.

"setiap anak itu cerdas, dan semua kecerdasan harus diapresiasi setara."

Kalau kamu cuma baca tanpa share tulisan ini. Yang tau mungkin gak banyak. Tulisan ini dibuat untuk dibaca oleh orangtua, dan guru. Jangan malu untuk share tulisan ini ke teman, orangtua, dan guru.

Penulis : Muhammad Naufal Nabilludin
Terpenjara Oleh Pemahaman Yang Sempit
Ilustrasi penjara. Photo by : Enrico Hanel. Via Pexels.com
Fianosa.com merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi generasi muda menulis tentang apa pun. Submit tulisanmu secara mandiri lewat link ini ya.
Nama

Agama,1,Agent Of Change,1,Akreditasi,1,All England,1,Anak Jalanan,1,Anti Korupsi,2,Aplikasi,1,Aplikasi Resep Masakan,1,Atambua,11,Baby Boomer,1,Badminton,1,Banjir,1,Banyuwangi,1,Bawaslu,2,Beasiswa,6,Beasiswa Jadi PNS,1,Beasiswa Pemuda Mendunia,1,Beasiswa SejutaCita,1,Belajar,2,Bencana,1,Bisnis,4,BUCIN,1,Budak CInta,1,Budaya,9,Bulutangkis,1,Bupati Nganjuk,1,BWF,1,Catur,1,Cerita,10,Cerita Pendek,5,CIASTECH 2020,1,Cinta,1,Cipta Kerja,1,Coding,1,Covid-19,15,CPNS,1,Crowdfunding,1,Damai,1,Dana Desa,1,Daniel Osckardo,6,Debat Pilkada,1,Demokrasi,1,Desa,1,Desember,1,Diego Maradona,1,Digital,1,Edhy Prabowo,1,Ekonomi,14,Empat Agenda Seorang Pemulung,1,English Corner,4,English Poem,1,Event,4,Event Hunter Indonesia,1,Fabio Carvalho,1,Featured,3,Features,1,Filosofi Stoisisme,1,Fourth Industry Revolution,1,Fulan Fehan,1,Fulham,1,Gabriel Kristiawan Suhassatya,9,Ganja,1,Gemerlap Kota,1,Generasi Alpha,1,Generasi Muda,1,Generasi Z,2,Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia,1,Gilbert Ryle,1,GMNI,1,google classroom,1,Gunung Ile Lewotolok,1,Gunung Meletus,1,Guru,2,Gus Mus,1,Hakordia,1,Hari Anti Korupsi Sedunia,1,Hari Bumi,2,Hari Guru,4,Hari Kartini,1,Hari Kebangkitan Nasional,1,Hari Kesehatan Dunia,1,Hari Lingkungan Hidup Sedunia,1,Hari Persaudaraan Manusia Internasional,2,Hidroponik,1,Himpunan Mahasiswa Islam,2,HMI,2,Home Education,1,Hubungan,1,Hujan,1,Hujan Untuk Kita,1,Hukum,23,Hukum Film,1,Ide Kreatif,1,Indonesia,6,Influencer,1,Inggris,1,Internasional,1,Isak Tangis,1,Islam,3,Islam Kejawen,1,Jhoni Lae,3,Jodoh,1,John Rawls,1,Juliari Batubara,1,Kaboax,1,Karir,14,Keadilan Sosial,1,Kemenangan,1,Kesehatan,1,Kesejahteraan Masyarakat,1,Komunikasi,1,Komunitas,2,Koperasi,1,Korupsi,2,KPK,1,KRI Nanggala 402,1,Kuliah Kerja Nyata,1,Kupang,1,Leadership,1,Lelaki Berkumis Tipis,1,Lembata,1,Liburan Kuliah,1,Lomba,4,Lomba Karya Tulis Ilmiah,2,Lomba Menulis,2,Long life learning,1,Longsor,1,Lowongan kerja,7,Mafia Tanah,1,Mahasiswa,7,Malang,1,Mama,1,Mandiri Tunas FInance,1,Maret,1,Matematika,1,Membaca,1,Meningkatkan Fokus,1,Menteri Sosial,2,Menyenangkan,1,MICIN,1,Milenial,16,Millenial,6,Miskin Cinta,1,Motivasi,14,MTQ Nasional 28,1,Muhamad Sulaeman,3,Muslimah,1,Nadiem Anwar Makarim,1,Nasional,3,New Normal,1,News,2,NTT,5,Nusa Tenggara Timur,1,Olahraga,5,Omnibus Law,2,Opini,201,Opinion,3,Orleans Masters 2021,1,Pahlawan Tanpa Nama,1,Pahlawan Tanpa Tanda Jasa,1,Pancasila,1,Pandemi Covid-19,2,Pantai Pasir Putih Atambua,1,Paskah,2,Paulo Freire,1,Paus Fransiskus,2,Pemilihan Umum,1,Pemilu,1,Pemimpin,1,Pemulihan Ekonomi,4,Pendaftaran Siswa Baru,2,Pendidikan,38,Pendidikan Keluarga,1,Pendidikan Politik,1,Pengabdian,1,Penguatan Bawaslu,1,Perkawinan,1,Petuah Sukma,1,Piala Kemenpora,1,Pilihan Redaksi,19,Pilkada,1,Politik,7,Potensi Diri,1,PPPK,1,Pray For NTT,1,Print Uang,1,Printing Money,1,Profesi,1,Prostitusi,1,Psikologi,1,Publik Speaking,1,Puisi,46,Puisi Tentang Hujan,1,Puisi Tentang Ibu,1,Quarter Life Crisis,1,Qudwahits Reborn,1,Quote,1,Quotes Kata-Kata Bijak,1,R.A Kartini,1,Raiders Salomon Marpaung,3,Ramalan Zodiak,1,Redeskripsi Sastra,1,REFLEKSI,1,Regional,3,Review,1,Revolusi Industri,4,Ronaldo Filipus Nara,5,Ruang Rindu,1,Sabut Kelapa,1,sastra,30,Sejuta,1,Seminar,1,Semua Berita,7,Senja,1,Senja dan Rindu,1,Sentilan Pagi,1,Senyum Rembulan,1,Sepakbola,1,SJ182,1,SMA,1,SMA 7 September 99 Atambua,4,SMP,1,SMP 7 September 99 Atambua,3,Sobat Cinta,1,SOCIN,1,Sociopreneurship,1,Sosial,72,Sriwijaya Air,1,Status Sosial,1,Sumatera Barat,1,Tahun Baru 2021,1,Tamtama,1,Tanggung Jawab,1,Teknologi,4,Teori Psikologi Adler,1,Teroris,1,Terorisme,1,The Sunrise Of Java,1,Theory Of Justice,1,Timor Leste,2,Tips,14,Tips Kepemimpinan,1,TNI AU,1,Trash Hero Belu,1,Travel,11,Tuhan Bangkit,1,Ulang Tahun,1,UMKM,2,Universitas Muhammadiyah Malang,1,Universitas Timor,1,Urbanisasi,1,Utilitarianisme,1,Vaksin,1,Virus Corona,9,Webinar,4,Website,1,Wirausaha,1,Wisata,2,Yayasan Nusa Timur,7,YummyApp,1,Zodiak,1,zoom,1,
ltr
item
Fianosa - Website Sumber Informasi Inspiratif: Terpenjara Oleh Pemahaman Yang Sempit (Problematika Makna Belajar dan Cerdas)
Terpenjara Oleh Pemahaman Yang Sempit (Problematika Makna Belajar dan Cerdas)
Tulisan ini dibuat untuk dibaca oleh orangtua, dan guru. Jangan malu untuk share tulisan ini ke teman, orangtua, dan guru.
https://1.bp.blogspot.com/-X92OSTA2DKg/X7mxjTHl9oI/AAAAAAAAA70/6buObYTiIK8IlwSpAgGsKgqIioNT6LxlACLcBGAsYHQ/w640-h428/pexels-photo-5369188.jpeg
https://1.bp.blogspot.com/-X92OSTA2DKg/X7mxjTHl9oI/AAAAAAAAA70/6buObYTiIK8IlwSpAgGsKgqIioNT6LxlACLcBGAsYHQ/s72-w640-c-h428/pexels-photo-5369188.jpeg
Fianosa - Website Sumber Informasi Inspiratif
https://www.fianosa.com/2020/11/terpenjara-oleh-pemahaman-yang-sempit.html
https://www.fianosa.com/
https://www.fianosa.com/
https://www.fianosa.com/2020/11/terpenjara-oleh-pemahaman-yang-sempit.html
true
3872901063732751062
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts LIHAT SEMUA Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All REKOMENDASI UNTUK ANDA LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share to a social network STEP 2: Click the link on your social network Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy Table of Content