Sastra dan Urgensi Redeskrispsi Sastra

Sangat urgen bahwa sastra harus dideskripsikan kembali oleh semua pihak dengan berorientasi pada realitas sosial yang ada

Daftar Isi

Pengantar

Konsep penting dari fenomena post-truth dewasa ini yakni pluralisme kebenaran. Kebenaran tidak hanya dimonopoli oleh satu otoritas kebenaran tertentu melainkan kebenaran telah digiring ke ranah subyektifitas; ‘apa yang menurut saya benar, itulah kebenaran’. Artinya bahwa, dengan mengatakan demikian maka dengan sendirinya manusia melegitimasi dirinya sebagai satu-satunya pemegang kebenaran yang otentik serentak mengeliminasi setiap otoritas kebenaran yang ada, entah itu kebenaran pada filsafat ataupun teologi.


Realitas di atas tentu membawa manusia pada suatu situasi hidup yang berada di antara pluralitas kebenaran yang de facto tidak obyektif. Karena itu, tidak mengherankan jika kebenaran yang dimaksudkan itu merupakan representasi dari sebuah usaha ego untuk sebuah tujuan parsial.

Dalam filsafat, aliran-aliran filsafat modernisme, semisal rasionalisme (Descartes sebagai pelopor rasionalisme) hadir untuk memproklamasikan kemerdekaan rasio sebagai satu-satunya otoritas kebenaran yang dimiliki oleh manusia sebagai makhluk yang berakal. Begitupun aliran-aliran filsafat yang lainnya. Semuanya menggaungkan kebenarannya sendiri-sendiri berkat kualifikasi yang dipakai untuk mematok pilar semacam apa yang harus dicapai oleh sebuah argumen untuk dinilai sebagai argumentasi yang sahih/benar.

Selain domain kebenaran dalam filsafat, Sastra pun hadir sebagai media pewartaan kebenaran. Sastra menjadi urgen dewasa ini dengan bantuan media informasi yang kian berkembang. Manusia modern yang kental dengan arus informasi dirasa lebih mudah menerima sastra sebab sastra hadir dengan argumentasi naratifnya dan dengan permainan imajinasi yang menarik untuk dicerna. Sastra pun akan lebih mudah merangsang kaum muda yang doyan kosa kata-kosa kata imajinatif kreatif. Mengapa? Kaum muda dewasa ini lebih terobsesi dengan sastra atau permainan kata (=bahasa) untuk dapat memainkan psikologi lawannya. Contoh, kalau seorang lelaki jatuh cinta terhadap seorang perempuan, dia akan menggunakan sastra (Puisi, dll.) untuk menarik simpati dan empati perempuan itu sampai perempuan itu jatuh terperosok dalam retorikanya.

Hal semacam ini lumrah dijumpai dewasa ini. Di facebook, what’s up, dll., kawula muda bahkan orang tua pun berlomba-lomba memamerkan kreatifitas imajinasi mereka dengan membuat puisi lalu di-upload. Ini berarti sastra diminati oleh banyak orang. Terlepas dari apa motivasinya, orang-orang itu sebenarnya ikut menerjemahkan sastra dalam realitas kehidupannya. Tetapi pertanyaannya, apakah kegunaan sastra hanya sebatas usaha untuk menarik simpati dan empati sesama? Atau hanya pelarian semata, dengan kata lain karena tidak ada kerja maka lebih baik saya membuat puisi lepas lalu meng-upload di media sosial.

Antara Filsafat dan Sastra

Saya berangkat dari pemilihan diksi ‘antara’ yang saya pakai. Maksudnya, kata ‘antara’ dalam ‘antara filsafat dan sastra’ hanya mau mempertegas bahwa keduanya berdiri pada bidangnya masing-masing. Filsafat tidak mereduksi sastra, begitu pun sebaliknya. Dalam mewartakan kebenaran pun demikian. Filsafat berdiri pada posisinya dengan menyusun argumentasi berdasarkan warisan pemikiran-pemikiran yang sudah ada, sedangkan sastra berdiri pada posisi argumentasi naratif imajinatif-kreatifnya.

Independensi kedua bidang ini tentu sama-sama memberikan suatu refleksi terhadap kebenaran. Yang berbeda adalah cara penyusunan argumentasi kebenaran itu. Mengutip Richard Rorty, seorang filsuf neo-pragmatisme dan seorang sastrawan asal Amerika, saya mengafirmasi bahwa sastra dewasa ini sangat penting terutama untuk menyikapi persoalan-persoalan bangsa yang berkaitan dengan moralitas. Mengapa sastra penting? Sebab menurut Rorty, sastra dapat memberikan edukasi moralitas berdasarkan karya imajinatifnya. Hal ini tidak dimaksudkan bahwa filsafat tidak penting, namun wadah sastra dirasa relevan dengan zaman yang bisa menjadi wadah yang tepat untuk menyuarakan kebenaran yang berkaitan dengan moralitas (dan juga kebenaran-kebenaran lainnya). 

Dengan sastra, seorang sastrawan dapat menciptakan sebuah karya baik itu berupa cerpen, puisi maupun teater untuk mengkritisi dan mengkritik realitas sosial yang berkaitan dengan permasalahan-permasalahan moralitas, serentak menyisipkan maksud persuasifnya yang mengajak para penikmatnya untuk tiba pada transformasi diri baik secara individual maupun kelompok.

Ini berarti sastra bukan semata-mata menjadi alat pemuas kepuasan diri parsial melainkan sebagai wadah pewartaan kebenaran dengan mengumpulkan realitas lalu memasaknya dengan tungku imajinatif sehingga menghasilkan wacana transformatif bagi mereka semua yang menikmatinya.

Redeskripsi Sastra

Sastra harus dideskripsikan kembali. Bukan hanya oleh mereka yang selalu beranggapan bahwa karya sastra itu karya yang imajiner dan jauh dari realitas, melainkan kita semua harus bersama-sama mendeskripsikan sastra secara baru. Kita harus sama-sama menemukan kosa kata baru dari sastra yang dapat membantu kita pada sikap tidak menyingkirkan sastra ke ruang privat (=sekunder) melainkan menggiring sastra ke ruang publik agar dengannya kita dapat menggunakannya sebagai wadah pewartaan kebenaran.

Rorty telah memulainya dengan menginspirasi kita supaya kita tidak terjebak di dalam kesesatan berpikir tentang sastra. Bahwasanya, sastra merupakan salah satu wadah pewarta kebenaran berkat daya imajinatifnya yang dapat memberikan edukasi, semisal edukasi moral. Argumentasi Rorty kiranya jelas mengapa dia memandang sastra itu penting dan bahkan lebih penting dari Filsafat. Narasi sastra itu tidak berurusan dengan premis-premis yang logis melainkan narasi sastra lebih bersifat persuasif dengan mengedepankan kekuatan imajinasi. Sastralah yang justru mampu memperdalam cita rasa moral manusia.

Dengan demikinan sangat urgen bahwa sastra harus dideskripsikan kembali oleh semua pihak dengan berorientasi pada realitas sosial yang ada supaya kebenaran yang dibawa oleh sastra bukanlah kebenaran yang mengurung diri dalam tembok ego melainkan kebenaran yang daripadanya orang bereferensi untuk menemukan eksistensi dirinya secara baik dan benar.

Penulis : Jhoni Lae

Sastra dan Urgensi Redeskrispsi Sastra
Photo by : Raimund Feher; via pixabay.com
Name

Aplikasi,1,Aplikasi Resep Masakan,1,Atambua,9,Bawaslu,2,Beasiswa,4,Beasiswa Jadi PNS,1,Beasiswa Pemuda Mendunia,1,Belajar,2,Bisnis,4,Budaya,7,Cerita,8,Cerita Pendek,1,Cinta,1,Cipta Kerja,1,Covid-19,4,Crowdfunding,1,Dari Komunitas,1,Desa,1,Diego Maradona,1,Digital,1,Edhy Prabowo,1,Ekonomi,2,Event Hunter Indonesia,1,Featured,5,Features,1,Filosofi Stoisisme,1,Fulan Fehan,1,google classroom,1,Gunung Ile Lewotolok,1,Gunung Meletus,1,Guru,1,Hari Bumi,2,Hari Guru,3,Hari Kartini,1,Hari Keehatan Dunia,1,Hari Lingkungan Hidup Sedunia,1,Hidroponik,1,Himpunan Mahasiswa Islam,1,HMI,1,Hubungan,1,Hujan,1,Hujan Untuk Kita,1,Hukum,17,Hukum Film,1,Influencer,1,Internasional,1,Isak Tangis,1,Islam,1,Kaboax,1,Karir,9,Kemenangan,1,Kesehatan,1,Komunitas,2,Kupang,1,Leadership,1,Lelaki Berkumis Tipis,1,Lembata,1,Lomba,3,Lomba Menulis,1,Lowongan kerja,5,Mahasiswa,1,Mama,1,Mandiri Tunas FInance,1,Maret,1,Matematika,1,Membaca,1,Meningkatkan Fokus,1,Menyenangkan,1,Milenial,13,Motivasi,14,MTQ Nasional 28,1,New Normal,1,NTT,5,Olahraga,2,Omnibus Law,1,Opini,133,Pahlawan Tanpa Nama,1,Pahlawan Tanpa Tanda Jasa,1,Pantai Pasir Putih Atambua,1,Paskah,2,Paus Fransiskus,1,Pemimpin,1,Pendidikan,20,Pengabdian,1,Perkawinan,1,Pilihan Redaksi,13,Politik,1,Potensi Diri,1,Psikologi,1,Publik Speaking,1,Puisi,31,Quarter Life Crisis,1,Qudwahits Reborn,1,R.A Kartini,1,Redeskripsi Sastra,1,REFLEKSI,1,Review,1,Revolusi Industri,3,sastra,10,Senja dan Rindu,1,Sentilan Pagi,1,Senyum Rembulan,1,SMA 7 September 99 Atambua,3,SMP 7 September 99 Atambua,2,Sociopreneurship,1,Sosial,42,Sumatera Barat,1,Tanggung Jawab,1,Teknologi,3,Teori Psikologi Adler,1,Teroris,1,Terorisme,1,Tips,13,Trash Hero Belu,1,Travel,10,Tuhan Bangkit,1,Universitas Muhammadiyah Malang,1,Virus Corona,3,Wirausaha,1,Wisata,2,Yayasan Nusa Timur,6,YummyApp,1,zoom,1,
ltr
item
Inspiring Everyone - Fianosa: Sastra dan Urgensi Redeskrispsi Sastra
Sastra dan Urgensi Redeskrispsi Sastra
Sangat urgen bahwa sastra harus dideskripsikan kembali oleh semua pihak dengan berorientasi pada realitas sosial yang ada
https://1.bp.blogspot.com/-eXwVKosVinA/X63mu3NWFqI/AAAAAAAAFfQ/-LJJLH8M2OoymTs4_HHkB0Ozgemh5S_6gCLcBGAsYHQ/w640-h426/philosophy-2603284_1920.jpg
https://1.bp.blogspot.com/-eXwVKosVinA/X63mu3NWFqI/AAAAAAAAFfQ/-LJJLH8M2OoymTs4_HHkB0Ozgemh5S_6gCLcBGAsYHQ/s72-w640-c-h426/philosophy-2603284_1920.jpg
Inspiring Everyone - Fianosa
https://www.fianosa.com/2020/11/sastra-dan-urgensi-redeskrispsi-sastra_13.html
https://www.fianosa.com/
https://www.fianosa.com/
https://www.fianosa.com/2020/11/sastra-dan-urgensi-redeskrispsi-sastra_13.html
true
3872901063732751062
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share to a social network STEP 2: Click the link on your social network Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy Table of Content