Ketidaksempurnaan Bukan Syarat Kebahagiaan

Safira terkejut bukan kepalang ketika menyaksikan satu video yang dikirim melalui via whatsapp. Video berdurasi enam menit itu menampilkan ...

Safira terkejut bukan kepalang ketika menyaksikan satu video yang dikirim melalui via whatsapp. Video berdurasi enam menit itu menampilkan bundanya dengan wajah riang sedang mengajari seorang anak kecil mengeja huruf per huruf. Meski kesulitan berbicara, anak itu tidak menyerah demi melontarkan satu suku kata saja. Kala berhasil mengucapkan ia akan berdiri dan memeluk bundanya. Tangan bundanya mengusap-ngusap kepala bocah disabilitas tersebut dan memuji kepandaiannya. Anak itu tidak berekspresi, matanya berputar kesana kemari. Namun hal ini tidak menyembunyikan perasaan gembiranya. 

Anak Autis, Hari Kesehatan Mental Dunia
Via Hectoremanuel.com

Dalam hati, Safira mengecam habis-habisan, “Video sampah! Bunda pikir aku akan luluh dan berubah pikiran dengan hal ini? benar-benar tidak berguna. Siapa yang sudi memiliki adik angkat seperti dia? Bukannya senang malah menambah pikiran saja!.” Safira tidak menyelesaikan menonton video tersebut dan langsung menghapusnya. Baginya akan lebih baik menjadi anak tunggal dan kesepian sampai akhir hayat daripada memiliki adik yang difabel.

Tak selang berapa lama, bundanya mengirim beberapa pesan teks pesan, memohon agar Safira mau menerima anak kecil autis tersebut menjadi adik angkatnya. Tidak digubris, Safira muak dengan permohonan bundanya yang menurutnya tidak masuk akal. Memuncah panas di kepala Rasa kesal berdenyar-denyar di sanubari gadis dengan alis tebal dan lebat.. Safira memejamkan mata dan melemaskan otot-otot tubuhnya di atas kasur empuk. Ia terlelap.

Matahari menatap tajam dengan penuh cela dari balik tirai. Safira bersiap untuk mengumpat karena dipaksa bangun pagi di hari libur. Ini adalah jadwalnya untuk bermalas-malasan. Hari di mana bisa melupakan seabrek tugas perkuliahan dan bersembunyi di balik selimut yang nyaman. Bagi Safira, hari Sabtu dan Minggu adalah hari penebus dosa. Selama lima hari ia mengerahkan waktu, tenaga dan pikirannya sebagai mahasiswi teknik di salah satu institute ternama negeri ini. Karenanya, Safira dengan sukacita menghabiskan dua hari istimewa dengan streaming film atau hanya rebahan seharian. Safira bukan tipikal orang yang senang membagi waktunya dengan orang lain. Menurutnya, tenaganya sangat minim jika harus dihabiskan untuk mengobrol dengan orang-orang yang tidak satu frame dengannya. Buang-buang waktu!

Terdengar langkah kaki memasuki ruang kamarnya. Sudah menjadi kebiasaan setiap pagi bundanya membuka tirai jendela hingga sinar matahari berburai-burai menukik ke mata. Safira menyerah.

“Sudah bangun, nak?”

Safira menggosok-gosokkan matanya.

“Hari ini temani bunda ke SLB (Sekolah Luar Biasa), ya.”

Matanya terbelalak, rasa kantuk tiba-tiba hilang. “Lagi? Minggu kemarin Safira sudah kesana bun..” Menutup kepala dengan bantal. Putus asa.

“Bu Datin sakit, kasihan guru-guru lain nantinya akan kewalahan mengurus anak-anak. Kurang satu tenaga pendidik saja akan sangat merepotkan. Sehari, hanya hari ini saja. Mau ya? Kamu nanti cukup di perpustakaan merapikan buku yang bunda pesan tempo hari.”

Sebagai anak yang merasa sudah dewasa, Safira mencoba demokratis dan tidak otoriter. Semua akan dituruti kecuali keinginan bundanya mengadopsi anak autisme.

“Ya, ya, ya..” Safira tidak langsung mandi, malah menyambar HP-nya.

“Mandi, nak…”

“Ya, ya..”

Tapi Safira tak segera mengambil handuknya. Malah masih asyik berselancar di sosial media.

“Mandi, Saf..”

Memandang ke arah bundanya yang masih berdiri, dan mengangkat bahu, “oke..”

****

Di dalam mobil, Safira bernyanyi-nyanyi kecil mengikuti alunan lagu tahun 90-an. Kakinya sedikit menghentak dan jemarinya mengetuk-ngetuk permukaan jendela kaca mobil. Ia sangat menikmati lagu-lagu lawas. Baginya musiknya tidak berisik dan tenang. Mirip seperti dirinya. Suara nyanyian Safira cukup nyaman untuk di dengar. Bundanya menyetir dengan tenang. Jalanan pagi kota Surabaya tidak begitu ramai. Hanya menghabiskan waktu dua puluh lima menit untuk sampai di SLB (Sekolah Luar Biasa).

Begitu tiba, Safira langsung berjalan ke arah perpustakaan sekolah.

“Saf, tidak ingin ikut bunda ke kantor dulu? Sekedar menyapa guru-guru lain seperti biasanya?”

Menggeleng, “Safira sedang tidak ingin melakukannya, bun.”

“Oke baiklah, nanti segera ke kantor di waktu jam siang.”

“Ya..”

Perpustakaan sepi. Hari masih pagi, ruangan menjadi lebih remang-remang. Menjanjikan ketentraman. Dilihat sekeliling hanya ada dirinya seorang. Ia mengambil sapu dan berjalan menyusuri bagian paling pojok ruangan. Namun langkahnya terhenti karena perhatiannya teralihkan pada tembok-tembok yang dipenuhi corat-coret warna cerah seperti kuning, merah jambu, biru muda dan hijau daun. Warna-warna tersebut berisikan quotes semangat optimisme menggapai cita-cita. Safira tertegun, ia tidak menyadari sejak kapan tembok perpustakaan menjadi indah seperti sekarang.

“Apa kamu menyukainya?”

Gadis itu menoleh ke arah suara itu. Seorang lelaki muda, mungkin berusia 27 tahun. Dia membawa satu kardus bewarna coklat di tangannya sembari melangkah mendekati Safira. Semakin dekat semakin jelas bagi Safira, ia berasumsi lelaki muda itu mungkin hanya tiga sampai empat tahun lebih tua darinya. Siapa dia? Apakah guru baru disini? Tanya Safira pada dirinya sendiri. Kedua mata hitam nan jernih itu tampak seperti salah penempatan di atas wajah yang kusam. Ya meski Safira harus mengakui wajah yang kusam itu sungguh tampan. Wajah itu kini tengah memandang lurus padanya, kira-kira hanya berjarak satu meter dari tempatnya berdiri.

“Guru… baru?”

Lelaki itu tersenyum sembari menyodorkan satu dus berisi buku, “Bukan, saya hanya karyawan baru disini. Tadi disuruh Bu Gita mengantarkan buku-buku ini padamu. Beliau berpesan untuk di sampul palstik terlebih dahulu sebelum di tata ke rak buku. Semua perlengkapan sudah saya sediakan di atas meja depan. Oh iya, tidak perlu menyapu, ruangan ini sudah saya bersihkan tadi pagi.” Ia sangat fasih berbicara.

“Baiklah, terimakasih.”

****

Sudah empat jam Safira membungkuk menata buku-buku di rak perpustakaan. Ia tidak tahan melihat buku-buku yang diletakkan sembarangan. Tentu saja Safira juga membaca sebagian buku untuk menghilangkan kepenatan. Membawanya ke masa kecil yang penuh imajinasi.

Meletakkan buku terakhir, Safira menebarkan pandangan keluar jendela. Sekolah ini nampak lebih berbeda dari sebelumnya. Terlihat lebih terawat dan bersih. Ini pasti karena ada karyawan baru itu. Di hatinya tersimpan beberapa pertanyaan. Namun ia lebih memilih untuk tidak memikirkannya. Perut kecilnya sudah lapar. Membutuhkan sedikit cemilan. Segera Safira beranjak menutup pintu perpustakaan dan pergi ke ruang guru. Bunda pasti sudah menyiapkan makanan untuknya.

Astaga! Gadis itu menelan ludah. Tenggorokannya tiba-tiba terasa kering. Safira benar-benar terkejut dengan pemandangan di depannya. Raungan anak autisme menabrak gendang telinganya.

“Vino.. sudah Vino!” Beberapa guru SLB (Sekolah Luar Biasa) tak terkecuali bundanya mencoba menghentikan aksi anak tersebut. Ia memukul-mukul seorang lelaki dengan botol minuman kaleng. Beberapa murid lain ketakutan dengan amukan Vino di depan ruang kelas. Celananya basah. Entah tertumpah air atau dia sedang mengompol.Vino adalah seorang anak difabel. Ia menderita autisme, semacam gangguan pada sistem saraf pusat sehingga terkendala dalam interaksi sosial, komunikasi dan perilaku. Laki-laki itu jatuh tersungkur, ia tidak melawan. Hanya melindungi dirinya dengan menelungkupkan kedua tangannya di atas kepala.

Gila. Jam-jam begini kenapa drama itu harus muncul. Ia jadi tidak bernafsu meski perutnya terasa perih. Safira mendadak menjadi ragu apa yang harus ia lakukan. Jika ia pergi ke kantor dan makan siang, semua orang tentu akan mempertanyakan rasa kemanusiaannya. Padahal baginya, ia tidak memiliki tanggung jawab apapun terhadap anak-anak yang kurang beruntung tersebut. Bukankah sudah ada orang-orang yang bekerja untuk mereka. Seperti... Ibundanya? Gadis itu menebak-nebak sekelumit pertanyaan yang berkecamuk di batok kepalanya. Gadis itu menyadari betapa dia berada di lingkungan asing. Teritori tak dikenal. Ada satu suasana yang terus-menerus mendesaknya agar ia merasa asing dan sendiri.

****

“Saf, temani bunda keluar sebentar, ya.” Pinta bunda ketika mereka duduk satu meja menikmati makan malam.

“Kemana? Bunda ingin jalan-jalan?”

“Temani bunda ke rumah Vino, anak autis yang kemarin sempat mengamuk di sekolah.”

“Kenapa harus ke rumahnya sih bun?”

“Anak ini sudah dua hari tidak masuk sekolah, kata kakak nya sedang sakit dan susah tidur.”

“Ya.. ya” Safira enggan mendengarkan penjelasan bundanya lebih lanjut.

Mobil meluncur dengan pesat, rumah Vino ternyata masih satu wilayah dengan SLB tempat ia belajar. Malam gelap gulita hampir menipu karena begitu pekat. memasuki area perkampungan, terlihat setitik cahaya di ujung jalan. Titik cahaya itu berubah menjadi lampu yang menerangi sebuah rumah sederhana. Turun dari mobil, Safira dan bundanya di sambut oleh sesosok lelaki yang tidak asing. Sepertinya Safira mengenalinya.

Tiba-tiba saja…, ah.. mata hitam jernih yang salah tempat di atas muka kusam. Tunggu, mengapa dia ada disini?

“Silahkan masuk, Bu Gita dan Safira.” Ujarnya sopan mempersilahkan masuk.

“Eh, rupanya dia mengetahui namaku.” Guman Safira dalam hati

“Iya nak..” ujar bunda.

Kami dituntun menuju ruang kamar kecil. Disana terbaring Vino dengan wajah yang berkeringat, ia tertawa melihat kipas angin yang di pasang di atas langit-langit kamar. Sepertinya ia acuh dengan kedatangan kami.

“Vino susah tidur dari semalaman. Dia tidak mau makan nasi, jadi saya belikan roti tawar. Saya tidak tahu harus menghubungi siapa untuk membantu adik saya. Maaf terlalu banyak merepotkan.” Ujar lelaki bermata hitam jernih bersungguh-sungguh.

“Jangan seperti itu, saya sangat senang bisa membantu kalian. Kamu menghubungi orang yang tepat, nak.”

Safira tidak tahan dengan adegan drama bakti sosial di depannya. Bukannya jahat atau membenci kebaikan, ia hanya tidak suka hal-hal yang menyentuh hati. Safira memilih pergi dan duduk di kursi ruang tamu. Memperhatikan sekeliling. Rumah ini tidak memiliki barang yang berharga kecuali satu sepeda motor usang. Akan tetapi meski rumah ini kecil dan sederhana, atmosfirnya sangat meneduhkan. Entah mengapa.

Tak lama, lelaki itu keluar dengan membawa nampan berisi dua gelas teh hangat. “Silahkan diminum.”

“Terimakasih.” Ujar Safira singkat.

“Bu Gita sedang membacakan dongeng untuk adik saya, Vino. Mungkin akan membutuhkan waktu yang tidak sebentar sampai Vino tertidur”

Safira mengangguk, “Ya, bunda dulu juga membacakanku dongeng sampai aku benar-benar terlelap. Oh iya, kamu karyawan baru di sekolah itu kan?”

“Iya, benar. Nama saya Azhar. Bu Gita sering membicarakan tentangmu”

“Oh, ya? Kalau boleh tahu sebelumnya Kak Azhar bekerja dimana?”

“Ah, jangan memanggil saya begitu, kita seumuran. Sebelumnya, saya bekerja sebagai buruh cetak batako di Manukan Wetan. Karena itu pekerjaan kasar, lama-lama tidak kuat. Lalu memutuskan berjualan pisang goreng di jalan raya depan gang gapura yang kamu lewati tadi.”

Plak!

Mulut gadis 21 tahun itu ternganga. Azhar, yang anggapannya sesosok lelaki dewasa ternyata masih belia. Safira tidak habis pikir karena baik dari penampilan, cara berbicara hingga memberlakukan orang lain cukup meyakinkan ekspetasinya. Sekelumit pertanyaan merambah akan keberadaan orang tua Azhar mulai hinggap. Ia membayangkan betapa merepotkannya harus menafkahi dan tinggal berdua mengurus adik penyandang autisme. Tetapi, Safira sangat menyadari untuk tidak masuk pada ranah yang lebih pribadi. Otaknya berputar mencari topik pertanyaan lain.

“Azhar, dari sekian banyak guru SLB mengapa Vino sangat menyukai bundaku?” Sambil menyeruput teh yang mulai dingin.

“Untuk masalah itu, saya sendiri juga tidak mengetahui jawabannya. Apakah kamu merasa terganggu dengan hal itu?”

“Aku tidak merasa terganggu sampai bunda ingin mengadopsi Vino. Hampir setiap hari aku dibujuk untuk menyetujui ide gila tersebut.” Safira menjawab seenaknya.

Azhar terdiam mendengar jawaban Safira. Ia menunduk. Ada raut sedih di wajah tampannya.

Menyadari situasi tersebut, “Maaf, sepertinya aku terlalu kasar. Ya, memang beginilah aku. Tidak berperasaan atau menjaga perasaan manusia-manusia dengan hati sensitif. Kau boleh benci padaku.” Ujarnya ringan

“Tidak, kamu memang benar. Ada beberapa hal yang memang tidak bisa dipaksakan. Mungkin ide itu muncul karena bu Gita melihat saya tidak becus merawat Vino seorang diri.”

“Mengapa engkau harus menanggung beban ini sendirian?”

Mata itu. Mata hitam yang kini menatap Safira dengan intensitas menegangkan. Gadis itu merasakan ada loncatan listrik dari tatapannya.

“Karena saya memang sendirian. Orang-orang hanya datang dan lewat. Mereka sibuk memperjuangkan hidup mereka masing-masing. Saya pun juga, memperjuangkan hidup Vino yang begitu sulit. Di tambah fakta kami adalah orang miskin. Orang-orang hanya akan mengingat kami pada momen-momen tertentu. Setelah itu menguap tidak berbekas. Barangkali, mereka tidak pernah merasakan bagaimana pedihnya diabaikan?” Tangannya mengepal. Azhar mencoba gagah. Ia mendesak masuk air matanya agar tidak menetes.

“Jangan menahan diri. Kalau ingin menangis, menagislah. Kalau ingin marah, marah saja!” ucapannya meninggi.

Menggeleng, “Saya memang harus menahan diri, agar keadaan tetap baik-baik saja.”

“Untuk kebaikan Vino? Dengan berlagak menjadi manusia kuat, begitu? Padahal mengurus diri sendiri saja tidak mampu. Cih!” Tukasnya ketus.

“Tidak, saya tidak lagi mempersoalkan apakah saya mampu atau tidak. Kuat atau lemah. Sejak dini saya memahami esensi kepahitan hidup, dan Vino anak yang memberikan saya kesempatan untuk menjalani hidup dengan gembira. Saya akan terus menjaganya dengan baik. Vino belum bisa banyak bicara, tetapi saya yakin dengan treatment dan apresiasi yang baik, Vino bisa berkembang dengan pesat. Maka, hidup saya sudah cukup.” Wajah tampannya berubah menjadi wajah lain yang tak sering ia tunjukkan di depan umum..

Suasana hening menyelimuti keduanya. Safira diam tergugu. Ada kegetiran tersirat di kedua belah matanya. Bibirnya bergetar mengikuti degup jantungnya. Jiwanya terguncang dengan keyakinan Azhar meniti masa depan indah bersama adik satu-satunya..

****

Selalu ada yang tidak sempurna dalam hidup. Beruntungnya segera disadari bahwa kesempurnaan bukanlah syarat kebahagiaan.

Gadis itu menghela nafas panjang. Ada campuran perasaan yang sulit untuk dibahasakan setiap kali menemani anak-anak penderita autisme. Safira merasakan ketulusan dan kedamaian dalam jiwanya. Belum pernah sekalipun perasaan sejuk ini sekedar singgah di hidupnya.

“Hem sedapnya” Ucap Vino sebelum meminum segelas susunya. Merupakan ritual wajib yang harus ia lakukan sebelum meminum susu. Ritualnya yang lain adalah saat hendak bertemu atau berpisah denngan orang, maka harus salim (cium tangan) atau berpelukan. Jika tidak, Vino akan mengejar orang tersebut sampai dapat. Jangan pernah berusaha mencoba menolak ritualnya. Rutinitas yang tidak bisa dipahami orang normal. Rutinitas yang sama sekali tidak penting bagi orang biasa, tetapi bagi anak autis mengubah rutinitasnya sama seperti mengagetkan singa tidur.

Kini, Safira mulai memahami bahwa tidak ada yang salah dengan anak-anak penderita autisme. Malah mereka jauh lebih baik dari orang biasa. Mereka istimewa. Mereka cerdas dan memiliki kesetiaan tinggi dengan apa yang diyakininya. Hanya saja tidak semua orang memahami dunianya yang berbeda. HP-nya bergetar, ada pesan masuk dari seorang. “Saya segera ke SLB setelah jam kuliah siang nanti. Oh iya, ada kiriman buku dari penerbit kemarin. Kamu boleh menyampulnya terlebih dahulu. Semua perlengkapan ada di meja depan.” Senyum gadis itu mengembang.

Penulis : Frida Pramadipta
Name

Aplikasi,1,Aplikasi Resep Masakan,1,Atambua,2,Beasiswa,1,Belajar,1,Bisnis,4,Budaya,6,Cerita,7,Crowdfunding,1,Dari Komunitas,1,Desa,1,Ekonomi,1,Featured,6,Features,1,Fulan Fehan,1,Hukum,13,Internasional,1,Karir,5,Kemenangan,1,Kesehatan,1,Komunitas,1,Leadership,1,Lowongan kerja,4,Menyenangkan,1,Milenial,2,Motivasi,14,Olahraga,1,Opini,111,Pemimpin,1,Pendidikan,16,Pilihan Redaksi,8,Psikologi,1,Publik Speaking,1,Puisi,21,REFLEKSI,2,Review,1,Sosial,28,Teknologi,2,Tips,11,Travel,10,YummyApp,1,
ltr
item
Inspiring Everyone - Fianosa: Ketidaksempurnaan Bukan Syarat Kebahagiaan
Ketidaksempurnaan Bukan Syarat Kebahagiaan
https://1.bp.blogspot.com/-pztAsVR7umo/X4E4oqPeHnI/AAAAAAAAAwQ/DTixxRW0LBYJzUm5mEF9uCAifP1vUH6fQCLcBGAsYHQ/167276.xx_large.jpg
https://1.bp.blogspot.com/-pztAsVR7umo/X4E4oqPeHnI/AAAAAAAAAwQ/DTixxRW0LBYJzUm5mEF9uCAifP1vUH6fQCLcBGAsYHQ/s72-c/167276.xx_large.jpg
Inspiring Everyone - Fianosa
https://www.fianosa.com/2020/10/ketidaksempurnaan-bukan-syarat.html
https://www.fianosa.com/
https://www.fianosa.com/
https://www.fianosa.com/2020/10/ketidaksempurnaan-bukan-syarat.html
true
3872901063732751062
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share to a social network STEP 2: Click the link on your social network Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy Table of Content