Demokrasi Menuju Liang Kubur

Dalam satu tahun terakhir ini sepertinya usaha untuk membunuh demokrasi telah berhasil dilakukan. Pembunuhan itu berawal dari wacana merevis...

Dalam satu tahun terakhir ini sepertinya usaha untuk membunuh demokrasi telah berhasil dilakukan. Pembunuhan itu berawal dari wacana merevisi UU KPK yang pada akhirnya membuat lembaga antirasuah itu tidak lagi berdaya, lalu dilanjutkan dengan penyususnan kabinet pemerintahan yang sangat kental dengan bagi-bagi jabatan. Upaya pembunuhan terus berlanjut ketika negara kehilangan kontrol oposisi yang telah menyatu dengan kekuasaan, lalu berlanjut ketika pengabaian suara publik untuk tidak menyelenggarakan Pilkada di tengah pandemi. 

Via Instagram.com

Belum puas sampai di situ, demokrasi yang nafasnya sudah tersendat-sendat itu dihabiskan dengan pengesahan sejumah RUU bermasalah yang terus digodok entah untuk kepentingan siapa, yang jelas bukan untuk kepentingan rakyat. Sebut saja revisi UU Minerba yang begitu pro investor dan oligarki, selanjutnya upaya revisi UU MK yang dinilai tidak subtansial dan tidak dibutuhkan, dan puncaknya adalah pengesahan RUU Cipta Kerja yang sejak RUU ini masih dalam wacana sudah menuai penolakan. 

Dari rangkaian perisitiwa di atas, kita mesti mencari jawaban mengapa upaya pengikisan demokrasi yang berujung pada pembunuhan (the crime of democracy) itu terjadi. Dalam buku How Democracies Die karya karya Steve Levitsky dan Daniel Ziblatt, dikatakan bahwa kemunduruan demokrasi hari ini sudah dimulai dari kotak suara. Dan pernyataan barusan ternyata benar adanya bahwa hari ini demokrasi digunakan untuk membunuh demokrasi itu sendiri. 

Paling tidak ada empat indicator penyebab kematian demokrasi yang dipaparkan oleh Steve Levitsky dan Daniel Ziblatt , yakni penolakan aturan main yang demokratis; penolakan legitimasi lawan politik; toleransi atau dorongan kekerasan; dan kesiapan untuk membatasi kebebasan sipil lawan, termasuk media. Artinya, jika penguasa yang lahir dari rahim demokrasi melakukan hal-hal demikan, itu berarti sama halnya dengan menghidupkan kembali kekuasaan yang otoriter. 

Situasi politik hukum setahun terakhir ini patut menjadi alaram penanda untuk kita semua bahwa akar-akar kekuasaan otoriter mulai kembali dihidupkan. Hari ini upaya untuk mengikis nilai-nilai demokrasi dilakukan dengan gaya baru dan terlihat konstitusional. Demokrasi dapat dipadamkan dalam keadaan terang benderang, oleh kekuasaan yang berasal dari kotak suara. 

Keberadaan pemerintahan yang demokratis makin hari semakin jauh panggang dari api. Reformasi sejatinya hanya digunakan sebagai eksperimen politik apakah bangsa ini bisa bertahan atau tidak. Ternyata tidak butuh waktu lama untuk membukitkan bahwa Indonesia telah gagal mengarungi masa transisi demokrasi. Atau paling tidak boleh dikatakan bahwa transisi demokrasi hanya berhasil di atas kertas, tapi tidak pada kenyataan yang sebenarnya. 

Demokrasi dimana kedaulatan berada pada rakyat hanya dipahami sebatas daulat untuk menentukan siapa pemimpin mereka dalam setiap ajang pemilu. Artinya pemerintah telah gagal memberi contoh bagaimana demokrasi yang sebenarnya. Peranan partai politik juga patut dipertnanyakan dalam mengemban fungsinya sebagai denyut dari demokrasi itu sendiri, yakni demokrasi yang lebih dari sekadar datang ke bilik suara. Artinya hari ini kita kembali digiring kepada cara-cara lama berdemokrasi seperti di era orde baru—dimana rakyat hanya dilibatkan ketika gelaran pemilu saja. 

Parlemen yang sejatinya adalah representasi dari rakyat yang diwakilkan dalam model demokrasi perwakilan agaknya telah mengalami pergesaran makna. Dengan begitu maraknya pengabaian suara rakyat atas berbagai isu yang digulirkan seperti revisi UU KPK, pengesahan UU Minerba, lambannya penanganan pandemi dan yang teranyar pengesahan RUU Cipta Kerja menandakan bahwa keterwakilan rakyat patut dipertanyakan. Dan ini kembali lagi kepada apa yang diaktakan Levitsky tadi, yakni usaha membunuh demokrasi sudah dilakukan sejak dari kotak suara. 

Jika DPR berada di rel yang benar, sejatinya RUU KPK, RUU Cipker dan polemik lainnya akan dapat dibendung. Maknanya, jika DPR mendengar suara publik, berarti ia telah berhasil menjalankan fungsi chack and balance terhadap kekuasaan (Presiden) yang begitu besar dalam sistem presidensialisme. Tapi kenyataan hari ini berbeda, DPR dan Pemerintah sama saja, sehingga kekuasaan tidak ada yang mengontrol. Persis dengan apa yang terjadi pada era orde baru, ketika parlemen dikuasai oleh presiden dan pemerintahan dijalankan dengan cara-cara militeristik. Maka dari itu suburlah kekuasaan yang otoriter, menindas dan koruptif. 

Rezim hari ini paling tidak hampir mendekati orde baru meski tak semuanya persis sama, atau paling tidak ada semacam upaya untuk kembali menghidupkan suasana orde baru. Seperti pengabaian suara publik, tindakan represif, pembatasan dalam mengemukakan pendapat, pelibatan angkatan bersenjata dalam ranah sipil dan tidak agresif terhadap pemberantasan korupsi. 

Disadari atau tidak, apa yang dipaparkan di atas adalah pertanda bahwa sisa-sisa kekuasaan otoriter itu belum benar-benar habis sampai ke akar-akarnya. Dan hari ini sisa akar otoritarian itu kembali dipupuk dan dibina untuk membinasakan demokrasi yang baru belia ini. Kekuasaan boleh berganti, tetapi kebiasaan-kebiasaan yang menyertai kekuasaan itu sulit digantikan.

Penulis : Nandito Putra
Name

Aplikasi,1,Aplikasi Resep Masakan,1,Atambua,2,Beasiswa,1,Belajar,1,Bisnis,4,Budaya,6,Cerita,7,Crowdfunding,1,Dari Komunitas,1,Desa,1,Ekonomi,1,Featured,6,Features,1,Fulan Fehan,1,Hukum,13,Internasional,1,Karir,5,Kemenangan,1,Kesehatan,1,Komunitas,1,Leadership,1,Lowongan kerja,4,Menyenangkan,1,Milenial,2,Motivasi,14,Olahraga,1,Opini,111,Pemimpin,1,Pendidikan,16,Pilihan Redaksi,8,Psikologi,1,Publik Speaking,1,Puisi,21,REFLEKSI,2,Review,1,Sosial,28,Teknologi,2,Tips,11,Travel,10,YummyApp,1,
ltr
item
Inspiring Everyone - Fianosa: Demokrasi Menuju Liang Kubur
Demokrasi Menuju Liang Kubur
https://1.bp.blogspot.com/-7agz9qbEIkY/X4KSJH6PQ2I/AAAAAAAAAwc/-5U8j2PipeY07MvV7qCYOaACE31nJ-n7ACLcBGAsYHQ/120986882_1674949862673179_5015868537574102764_n.jpg
https://1.bp.blogspot.com/-7agz9qbEIkY/X4KSJH6PQ2I/AAAAAAAAAwc/-5U8j2PipeY07MvV7qCYOaACE31nJ-n7ACLcBGAsYHQ/s72-c/120986882_1674949862673179_5015868537574102764_n.jpg
Inspiring Everyone - Fianosa
https://www.fianosa.com/2020/10/demokrasi-menuju-liang-kubur.html
https://www.fianosa.com/
https://www.fianosa.com/
https://www.fianosa.com/2020/10/demokrasi-menuju-liang-kubur.html
true
3872901063732751062
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share to a social network STEP 2: Click the link on your social network Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy Table of Content