Kritik Terhadap Eksistensi Masyarakat Pos Kapitalis

Ramalan Marx hampir saja menjadi kenyataan 47 tahun setelah kematiannya. Seperti yang dikatakan oleh Marx, bahwa kapitalisme akan menggali ...

Ramalan Marx hampir saja menjadi kenyataan 47 tahun setelah kematiannya. Seperti yang dikatakan oleh Marx, bahwa kapitalisme akan menggali kuburnya sendiri, pada tahun 1930 kapitalisme mencapai titik kritis. Kontrakdiksi yang merupakan penyakit utama dari kapitalisme menciptakan krisis hebat yang dikenal dengan the great depression. Hanya menunggu waktu kapitalisme diantarkan menuju pemakaman. 
Kritik Terhadap Masyarakat Pos Kapitalis
Via Indoprogress.com
Namun sebuah keajaiban tiba-tiba datang. Seorang pahlawan datang menyelamatkan kapitalisme itu. Bagaikan seorang dokter yang mampu menyelematkan pasiennya pada detik-detik terakhir. John Maynard Keyness, dialah sang dokter yang berhasil menyelamatkan kapitalisme dari kematian. Mungkin dampak dari ekonomi keynesian tidak berkaitan langsung dengan krisis ekonomi kapitalisme, namun tidak bisa dipungkiri bahwa ekonomi gaya keynes telah memberikan dampak yang signifikan bagi keberlangsungan kapitalisme.

Baca Juga : Prinsip Prestasi Dalam Kehidupan Manusia Kontemporer

59 tahun berselang, tepatnya pada tahun 1989 Francis Fukuyama mengumumkan akhir sejarah. Ia menyatakan kapitalisme-neoliberalisme telah memenangkan pertandingan dan mengalahkan musuh bubuyutannya, sosialisme-komunisme. Diktum ini tampak semakin menyakinkan, ketika satu persatu negara komunis berguguran yang diawali dari Polandia. Puncaknya adalah runtuhnya tembok Berlin di Jerman dan tentu saja runtuhnya bos besar komunis, Uni Soviet yang kemudian terpecah belah menjadi 14 negara independen pada tahun 1991. Tiba-tiba keputusan itu harus segera ditunda karena pertandingan belum benar-benar usai. Ternyata runtuhnya Uni Soviet tidak semerta-merta menjadi matinya sosialisme. Di pelbagai belahan bumi nama Karl Marx masih dielu-elukan.

Orang-orang masih yakin dengan teori-teori "nabi" berjenggot itu. Terlebih-lebih setelah kapitalisme kembali dihantam krisis besar pada tahun 2008. Orang-orang mulai mempertanyakan kembali kapitalisme? Gerakan-gerakan kiri kembali menggeliat walaupun dalam bentuk yang telah termodifikasi. Disamping fundamentalisme agama yang juga turut bangkit. Dalam sejarahnya telah begitu banyak yang menulis tentang sosialisme dan kapitalisme maupun persaingan antara keduanya, tidak dapat terhitung lagi. Baik dalam bentuk buku maupun artikel-artikel. 

Tulisan ini tidak bermaksud hendak meramaikan persaingan tersebut maupun menambah deretan tulisan tentangnya. Tapi lebih kepada pembacaan terhadap realitas sosial yang ada pada saat ini. Oleh karena itu saya mencoba untuk bersikap senetral mungkin --walaupun kita tahu itu sulit. Kapitalisme dalam keadaannya yang pincang masih mampu mempertahankan hegemoninya di seluruh dunia. Sebagai sebuah "apresiasi" terhadap sistem yang dicetuskan oleh Adam Smith ini, saya dengan senang hati melalui tulisan ini memberikan penilaian --tepatnya kritikan -- terhadap subjek yang ada dalam kapitalisme. Karena ada yang berpendapat kapitalisme buruk disebabkan oleh kapitalis itu sendiri. Bisa jadi ini benar sebagaimana yang dikatakan Marx. Atau dalih yang sering dilontarkan oleh para Theis, agama itu suci, kalau ada yang salah orang yang beragama lah yang salah, bukan agamanya. Pengamatan dan penilaian secara objektif dalam tatanan intelektual menempati posisi yang penting. 

Tulisan ini bermaksud berbuat demikian. "Keadaan masyarakat lah yang menentukan ide, bukan ide yang menentukan keadaan masyarakat", adagium yang juga sebagai genederang perang secara langsung terhadap idealisme Hegel. Marx memulai filsafatnya dari bumi ke langit. Mengikuti logika Marx, maka kesalahan primer dari masyarakat post-kapitalisme terletak pada masyarakatnya. Saya tidak berniat --setidaknya dalam tulisan ini -- mengikuti Marx sampai ke akar kritikannya: keterasingan terjadi disebabkan oleh kepemilikan pribadi atas alat produksi. Kebanyakan intelektual lainnya merasa heran kenapa Marx meletakkan alat produksi pada kritikan yang paling dominan. Padahal alat produksi adalah objek yang bersifat pasif. 

Objek tidak memiliki makna jika tanpa subjek. Jawaban Marx adalah karena manusia itu ditentukan oleh alat produksinya. Tapi saya (juga) tidak akan menghabiskan waktu untuk membahas itu. Mark Manson dalam bukunya The Subtle Art of Not Giving A Fuck menulis suatu kalimat yang sangat menarik. Mark menulis, "masalah kesehatan yang dipicu oleh stress, gangguan kecemasan, dan kasus-kasus depresi telah melejit tinggi 30 tahun belakangan ini, meskipun faktanya setiap orang sudah punya TV layar datar dan dengan sekali klik, belanjaan anda sampai di depan rumah. Krisis kita bukan lagi soal materi; namun soal eksistensi, ranah spritual." Ya seperti inilah realitas masyarakat post-kapitalisme. Kalau Marx berpendapat bahwa kaum proletar terasing dari alat produksinya dan mereka mengasingkan diri kepada spritual (agama). Pada masa post-kapitalisme ini keterasingan kepada spritual cenderung terbalik: artinya orang mulai meninggalkan ranah spritual. Sebagai akibatnya mereka menjadi miskin eksistensial. 
Keadaan yang dipicu oleh gaya hidup hedonis dan materialis ini telah meninggalkan kegersangan pada ranah rohani. Dan disinilah letak keunikannya, termyata keyakinan manusia itu tidak pernah benar-benar kokoh, keyakinan manusia itu cenderung berubah-ubah. Pada era yang didominasi oleh saintisme dan positivisme ini, manusia ketika sains --yang menjadi kompas utama --mentok, tidak menemukan jawaban atas permasalahan hidup, mereka akan cenderung kembali lari kepada ranah spritual. Sehingga dengan sendirinya manusia menciptakan dirinya yang paradoksal. Kita coba kembali kepada pertanyaan awal dimana filsafat dimulai. Siapa itu manusia? Dan kenapa kita ada di dunia ini? Ya, ini adalah pertanyaan tentang eksistensial.

Uniknya manusia adalah keberadaan mereka sebagai makhluk yang mampu mempertanyakan tentang dirinya sendiri dan apa yang diperbuatnya. Saya, anda, dan kita semua sebagai organ dari masyarakat hari ini yang --mungkin saja-- dilanda krisis eksistensial mampu mempertanyakan kembali kondisi yang kita ciptakan sendiri. Misalnya anda adalah orang yang mengambil salah satu perguruan tinggi sebagai universitas favorit, dan anda berusaha agar diterima di universitas tersebut. Namun pada akhirnya anda gagal. Anda pasti akan bertanya-tanya kenapa saya bisa gagal, apa yang salah dengan saya. Berbeda dengan hewan lain yang hanya mengikuti naluri semata tanpa berpikir kenapa mereka ada disini, di dunia ini. Karena manusia adalah makhluk yang sadar akan eksistensi mereka sendiri. Tanpa disadari sebetulnya keberadaan manusia di muka bumi adalah untuk suatu tujuan tertentu --saya tahu para Theis akan tersenyum bangga dengan pernyataan ini. Namun manusia modern (pos-kapitalisme) terhalang oleh keegoisan dan sifatnya yang materialiatis.

Kita tahu pada akhirnya yang dituju oleh manusia adalah sesuatu yang melampaui fisik kasar mereka, dan itu tidak dapat ditemukan dalam kehidupan seperti saat ini melainkan memperkaya diri dengan sikap-sikap spritualis. Saya tidak mengatakan bahwa beragama adalah satu-satunya jalan bagi manusia untuk menegaskan eksistensi mereka, toh mereka yang beragama pun juga banyak menjalankan gaya hidup yang sekular. Tapi kita juga mesti mengakui seperangkat dogmatik yang berada dalam agama terlihat agak menjanjikan. Intinya, manusia post kapitalis kehilangan eksistensi mereka, dan tugasnya adalah bagaimana menemukan kembali eksistensi itu.

Penulis : Daniel Osckardo
Name

Aplikasi,1,Atambua,2,Beasiswa,1,Belajar,1,Bisnis,4,Budaya,6,Cerita,7,Crowdfunding,1,Dari Komunitas,1,Desa,1,Ekonomi,1,Featured,6,Features,1,Fulan Fehan,1,Hukum,13,Internasional,1,Karir,5,Kemenangan,1,Kesehatan,1,Komunitas,1,Leadership,1,Lowongan kerja,4,Menyenangkan,1,Milenial,2,Motivasi,14,Olahraga,1,Opini,107,Pemimpin,1,Pendidikan,16,Pilihan Redaksi,7,Psikologi,1,Publik Speaking,1,Puisi,19,REFLEKSI,2,Sosial,27,Teknologi,2,Tips,11,Travel,10,
ltr
item
Inspiring Everyone - Fianosa: Kritik Terhadap Eksistensi Masyarakat Pos Kapitalis
Kritik Terhadap Eksistensi Masyarakat Pos Kapitalis
https://1.bp.blogspot.com/-b1dPv_yCoaQ/X1HWWDMknuI/AAAAAAAAApY/GWat5cgvDhAXDamiWz722hTX_N5_hAKAQCLcBGAsYHQ/s640/rios.jpg
https://1.bp.blogspot.com/-b1dPv_yCoaQ/X1HWWDMknuI/AAAAAAAAApY/GWat5cgvDhAXDamiWz722hTX_N5_hAKAQCLcBGAsYHQ/s72-c/rios.jpg
Inspiring Everyone - Fianosa
https://www.fianosa.com/2020/09/kritik-terhadap-eksistensi-masyarakat.html
https://www.fianosa.com/
https://www.fianosa.com/
https://www.fianosa.com/2020/09/kritik-terhadap-eksistensi-masyarakat.html
true
3872901063732751062
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share to a social network STEP 2: Click the link on your social network Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy Table of Content