Pentingnya Pendidikan Politik Bagi Millenial di Era Revolusi Industri 4.0

Dewasa ini, pendidikan politik sangat diperlukan terutama dalam menghadapi industri 4.0 dengan segala bentuk kemajuan teknologi seperti big ...

Dewasa ini, pendidikan politik sangat diperlukan terutama dalam menghadapi industri 4.0 dengan segala bentuk kemajuan teknologi seperti big data, artifical inteligence, internet of things, argumented reality, cyber security, addictive manufacturing, integrated system, dan cloud computing. Tentu, perubahan pendidikan politik ke arah yang lebih baik. Saat ini kurangnya pendidikan politik dirasakan banyak anak muda terutama kalangan Millenial atau kita kenal dengan Gen Y.

Ilustrasi. Via Kesbang.com
Kesempatan untuk mengenyam pendidikan politik tidaklah banyak dikarenakan politik di Indonesia punya kesan yang tidak baik atau “kotor”. Padahal yang kita harus yakini sebagai anak muda bahwa politik yang kotor adalah persoalan oknum-oknum politik tanpa harus mengartikulasikan politik secara luas dalam bentuk definisi atau praktik itu sendiri. Berdasarkan arti kata pendidikan politik menurut para ahli, Alfian mengartikan pendidikan politik lebih yang lebih dalam yakni pendidikan politik sebagai usaha yang sadar untuk mengubah proses sosialisasi politik masyarakat sehingga mereka memahami dan menghayati betul nilai-nilai yang terkandung dalam sistem politik yang ideal yang hendak dibangun. 

Sementara, Kosasih Djahiri  mengemukakan bahwa pendidikan atau bimbingan, pembinaan warga suatu negara untuk memahami, mencintai, dan memilki rasa keterikatan diri (sense of belonging) yang tinggi terhadap bangsa, negara, dan seluruh perangkat kelembagaan yang ada. 

Bentuk-bentuk pendidikan politik pun terbagi menjadi dua menurut Kuntowijoyo yaitu (1) pendidikan politik formal yakni pendidikan politik yang diselenggarakan melalui indoktrinasi, (2) pendidikan politik yang dilakukan secara non-formal, seperti melalui pertukaran pendidikan melalui mimbar bebas. Disebutkan pula tujuan pendidikan politik terbagi menjadi empat menurut M. Nur Khoiron yaitu, mempromosikan perluasan wawasan, kepentingan, dan partisipasi dalam pemerintahan di tingkat lokal, provinsi, dan nasional sebagaimana mendukung proses dan tujuan perkumpulan-perkumpulan warga di masyarakat sipil. 

Kedua, memperdalam pengertian tentang dasar-dasar sejarah, filsafat, politik, sosial, ekonomi, demokrasi dan konstitusi baik di Indonesia maupun di negara-negara barat. Ketiga, menyemaikan komitmen dan keberpihakan yang rasional atau prinsip-prinsip dan nilai-nilai fundamental sebagaimana terungkap dalam dokumen-dokumen ini, seperti Deklarasi HAM beserta konvensi yang menyertai UUD 1945, Pancasila, dan Sumpah Pemuda yang telah mengikat bersama sebagai sebuah bangsa dan menjadi wahana untuk membangun kinerja. Keempat, mempromosikan pengertian tentang peran-peran mendasar dari lembaga-lembaga berikut nilai-nilai masyarakat sipil dalam memperjuangkan kehidupan berbangsa dan bernegara yang adil, setara, dan manusiawi di Indonesia. 

Tentu, tujuan pendidikan politik adalah untuk membentuk kesadaran politik agar masyarakat terutama kaum millenial mampu untuk mengembangkan kepribadian politik ditengah-tengah masyarakat. Keterlibatan pemerintah dalam hal ini sangat lah penting guna membangun budaya sadar politik. Kaum millenial masih meraba-meraba apakah yang dimaksud esensi dari pendidikan politik secara garis besar. Namun, hal itu harus diajakaran sejak SD hingga perguruan tinggi dalam mata pembelajaran seperti PPKN atau Pendidikan Kewarganegaraan hingga Pengantar Ilmu Politik di mata kuliah perguruan tinggi secara teoritis. 

Secara praktik, pendidikan politik dapat diperoleh melalui pendidikan pemilih pemula baik dalam rangka Pilpres, Pilkada, dan pemilihan legislatif di DPR dan DPRD provinsi/kota/kabupaten masing-masing daerah pemilih. Tingkat kesadaran politik di Indonesia cenderung naik dan mengalami peningkatan yang signifikan sebesar 40 % pada partisipasi politik di Pemilu tahun 2019. Oleh karena itu, budaya sadar politik juga akan memacu regenerasi pemimpin-pemimpin berikutnya yang diisi oleh anak-anak muda Indonesia dalam rangka membangun peradaban demokrasi berbangsa dan bernegara yang lebih baik.

Korupsi : Akar Masalah Pendidikan Politik
Kita tengah bertanya sebenarnya mengapa pendidikan politik tidak bisa sejalan dengan arus perpolitikan yang ada di Indonesia?. Ternyata, bila kita melihat infografis dibawah ini ada 335 aktor politik yang terjerat korupsi dan lebih dari 60 % aktor politik terjerat hukum. Lebih jauh lagi, 22 anggota DPR RI tahun 2014-2019 telah terjerat korupsi, tiga diantaranya adalah Ardiansyah dari fraksi PDIP, Patrice Rio Capella dari fraksi Nasdem, dan Dewi Yasin Limpo dari fraksi Hanura. Kita tentu tidak lupa dengan kasus korupsi massal di sejumlah daerah di Indonesia. Lebih dari 30 orang melakukan aksi korupsi berjamaah yaitu di DPRD kota Malang (41 orang), DPRD Provinsi Sumatera Utara (38 orang), dan DPRD Kota Jambi (12 orang).

Mengingat, potensi kerawanan sosial yang tinggi serta abuse of power yang dilakukan para aktor politik menitikberatkan kepada akar permasalahan yaitu kurangnya pendidikan politik di Indonesia yang mengakibatkan ketidakjelasan proses-proses politik dalam rangka membangun budaya sadar politik, tetapi malah memunculkan opini miring mengenai politik secara keseluruhan. Angka korupsi pun stagnan dari tahun ke tahun. Menurut Indonesia Corruption Watch, hasil Corruption Perception Index pada lima tahun terakhir justru Indonesia mengalami kenaikan yang tidak signifikan sepanjang tahun 2015-2018. Skornya berturut-turut adalah 36 di tahun 2015, 37 di tahun 2016, 37 di tahun 2017, dan 38 di tahun 2018.
Infografik: Korupsi Politik Dalam Angka via (KOMPAS.com/Akbar Bhayu Tamtomo)
Akan tetapi, kinerja KPK sebagai penegak hukum dalam menanganai kasus extraordinary crime patut kita apresiasi semisal di tahun 2018 ada 261 tersangka dari 57 kasus dan mengalami kenaikan dari tahun-tahun sebelumnya yang hanya berhasil diselesaikan dengan 128 orang sebagai tersangka dari 44 kasus. Menilik kepada beberapa kajian mengenai korupsi bahwa para pemimpin di Indonesia terutama aktor politik di eksekutif, legislatif, dan yudikatif atau ketiga cabang kekuasaan Trias Politica belum mampu menjadikan contoh bagi masyarakat millenial di era globalisasi sehingga menyebabkan alergi politik muncul kepada kaum millenial terhadap arus perpolitikan di Indonesia. Paradigma itu harus diubah guna membangun kepercayaan atau level of trust kepada para aktor politik dengan mengedepankan integritas, transparansi, kapabilitas dan, akuntabilitas.

Pemilu untuk Pendidikan Politik
Hal yang paling penting dari penyelenggaraan pemilu adalah keterwakilan anak muda untuk memilih siapa saja yang berhak duduk di kursi Presiden dan Wakil Presiden, DPR, bahkan Gubernur. Presentase sebesar 92,8 % pada tahun 2014 menjadi presentase yang besar bagi pemilih pemula yang didominasi banyak anak muda terutama kaum millenial. Menyoroti era keterbukaan informasi, hal ini sebuah barang yang mahal. Mengingat, partisipasi pemilih pemula tidaklah sebanyak di tahun 2014. Hal ini ditambah dengan pengetahuan kaum millenial yaitu mahasiswa yang belum merata di sejumlah daerah-daerah di Indonesia.
Survei KOMPAS atas pernyataan pemilih pemula dalam pemilu legislatif mendatang via (LITBANG KOMPAS : 2014) 
Dari tahun ke tahun tren ini dialami oleh stagnasi partisipan pemilih pemula. Jika kita melihat tabel pengetahuan mahasiswa tentang pemilu di sejumlah daerah angkanya cukup tinggi dengan di daerah Daerah IstimiewaYogyakarta sebesar 85 %, namun jika kita melihat di daerah Riau tingkat pengetahuannya masih dini. Ini menjadi pekerjaan rumah pemerintah dalam mengatasi ketimpangan pengetahuan yang tidak merata dan ada terutama bagi kalangan pemula atau millenial dalam menghadapi pemilu berikutnya. Oleh karena itu, digitalisasi di era Revolusi Industri 4.0 adalah hal yang berpengaruh terutama untuk kepentingan sosialisasi dan kampanye pemilu agar awareness anak muda dapat tercipta dengan pemikiran yang baik terhadap politik.

Hasil Survei Pengetahuan Mahasiswa tentang Pemilu 2019 - (DOK FFH/SPD/KEMENDAGRI/DIAN PERMATA) (DOK FFH/SPD/KEMENDAGRI/DIAN PERMATA) via kompas.com
Sarana pendidikan politik terbaik saat ini adalah melalui pemilu. Selain itu, partisipan pemilih cenderung tinggi dan kebanyakan dari mereka mengkampanyekan anti-golput melihat dari partipasi pemilih pemula dan pemilih muda di tahun 2014 serta 2019. Menyoal hal tersebut, pemerintah harus membuat mekanisme pengelolaan pemilu yang lebih cerdas secara kemasan dalam bentuk sosialiasi yang melibatkan anak muda khususnya KPU yang telah menjalankan sejumlah program seperti RELASI atau Relawan Demokrasi pada kesempatan pemilu lalu. Menilik lebih dalam, kaderisasi kepemimpinan melalui pemilu akan semakin memperbesar cakrawala berpikir anak muda tentang pluralisme dan demokrasi besar bangsa Indonesia dalam menghadapi era industri 4.0 tanpa menghilangkan budaya politik yang cerdas dan bermartabat. Gambaran diatas menjadi contoh bahwa peran anak muda dalam pendidikan politik sangat lah penting guna menjaga tongkat estafet kepemimpinan terutama menghadapi bonus demografi 2045 serta dalam rangka berkompetisi dengan bangsa lain untuk menghadapi Revolusi Industri 4.0 yang gemilang dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dalam tatanan global.

Penulis : Ricky Donny Lamhot Marpaung 
[Pemerhati Hukum Tata Negara Universitas Trisakti]
Name

Aplikasi,1,Aplikasi Resep Masakan,1,Atambua,2,Beasiswa,1,Belajar,1,Bisnis,4,Budaya,6,Cerita,7,Crowdfunding,1,Dari Komunitas,1,Desa,1,Ekonomi,1,Featured,6,Features,1,Fulan Fehan,1,Hukum,13,Internasional,1,Karir,5,Kemenangan,1,Kesehatan,1,Komunitas,1,Leadership,1,Lowongan kerja,4,Menyenangkan,1,Milenial,2,Motivasi,14,Olahraga,1,Opini,111,Pemimpin,1,Pendidikan,16,Pilihan Redaksi,8,Psikologi,1,Publik Speaking,1,Puisi,21,REFLEKSI,2,Review,1,Sosial,28,Teknologi,2,Tips,11,Travel,10,YummyApp,1,
ltr
item
Inspiring Everyone - Fianosa: Pentingnya Pendidikan Politik Bagi Millenial di Era Revolusi Industri 4.0
Pentingnya Pendidikan Politik Bagi Millenial di Era Revolusi Industri 4.0
https://1.bp.blogspot.com/-yJBOkD5IhQY/XzZDDSegshI/AAAAAAAAAiQ/KqhGzt-Wzgw1dml3u7RNX0rXQGsCRu6IgCLcBGAsYHQ/s640/Politik.png
https://1.bp.blogspot.com/-yJBOkD5IhQY/XzZDDSegshI/AAAAAAAAAiQ/KqhGzt-Wzgw1dml3u7RNX0rXQGsCRu6IgCLcBGAsYHQ/s72-c/Politik.png
Inspiring Everyone - Fianosa
https://www.fianosa.com/2020/08/pentingnya-pendidikan-politik-bagi.html
https://www.fianosa.com/
https://www.fianosa.com/
https://www.fianosa.com/2020/08/pentingnya-pendidikan-politik-bagi.html
true
3872901063732751062
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share to a social network STEP 2: Click the link on your social network Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy Table of Content