75 Tahun Indonesia: Sebuah Refleksi Kebangsaan

Pada tanggal 17 Agustus kemarin saat peringatan 75 tahun umur negeri ini seorang kawan di media sosialnya menulis, 'pandemi, krisis ekon...

Pada tanggal 17 Agustus kemarin saat peringatan 75 tahun umur negeri ini seorang kawan di media sosialnya menulis, 'pandemi, krisis ekonomi, omnibus law, pilkada serentak, pelemahan KPK, UU ITE, proyek ibukota, morat-marit pembelajaran jarak jauh, korporatokrasi, oligarki kekuasaan dan deret panjang permasalahan lainnya. Ya, begitulah kado kemerdekaan yang akan diterima bangsa ini'. Sebuah ungkapan yang begitu murni dan jujur dari salah seorang anak bangsa.

Dirgahayu Indonesia Ke 75
Via https://bpip.go.id/
Suatu hal yang tidak jauh beda dari tumpahan kekesalan kawan saya itu, saat saya berseluncur di laman Instagram terdapat kekecewaan yang sama. Suara yang dibungkam, hantu resesi ekonomi, keberpihakan kepada pemilik modal, dan sekelumit morat-marit lainnya. Tentu literatur yang seperti ini baik dalam audio maupun visual sedikit mencoret kemeriahan perayaan kemerdekaan.

Stigmatisasi negatif seperti ini tentu tidak muncul dengan sendirinya tanpa didasari fakta yang ada. Pada usianya yang ke tujuh puluh lima ini mari kita melihat kembali makna kemerdekaan itu sendiri. Apakah kemerdekaan hanya sebatas seremonial tahunan belaka? Bagaimana seharusnya suatu kemerdekaan dimaknai? Bagaimana kita akan memecahkan pertanyaan ini. Pada prembul Undang-Undang Dasar 1945 alinea ketiga merefleksikan makna kemerdekaan itu. 

' Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya'. Jika yang dimaksud adalah membebaskan diri dari kekuatan imperialisme-kolonialisme tentu saja sejak Soekarno dan Hatta mewakilkan bangsa Indonesia menyatakan proklamasi kemerdekaan secara de jure cita-cita itu telah tercapai. Tapi nyatanya pendiri bangsa ini mengisyaratkan bahwa proklamasi bukanlah sekadar deklarasi terlepas dari penjajahan semata, tapi lebih dari itu. 

Pada alinea keempat termaktub tujuan dari proklamasi: melindungi segenap bangsa Indoesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, ikut melaksanakan ketertiban dunia. Artinya ada big goal di balik peristiwa besar proklamasi. Kapan cita-cita bangsa yang termaktub dalam alinea ke empat pembukaan Undang-Undang Dasar ini disebut terealisasikan? Yakni ketika apa yang tertera pada alinea kedua telah terlaksana: Negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur. 

Mungkin kita berpikir pekerjaan yang tidak terlalu penting untuk menyusun puzzle seperti ini. Tapi ketika kita buka lebih dalam ruang kreativitas berpikir kita, ternyata garis linear yang disusun dari alinea-alinea pembukaan itu menyingkap esensi dari kemerdekaan tadi. Artinya kemerdekaan tidaklah dapat direfleksikan dengan perayaan semata. Dengan cara mengadakan lomba panjat pinang, makan kerupuk, mengibarkan bendera raksasa di puncak gunung dan di dasar laut, atau lebih jauh ketika Bank Indonesia mengeluarkan uang pecahan 75.000 rupiah. 

Saya kira apa yang telah dilakukan oleh pahlawan di masa lalu yang telah memberikan segalanya, mengorbankan harta bahkan nyawa mereka sekalipun tidak layak ditebus dengan hal yang remeh-temeh seperti itu. Saya tidak bilang itu tidak penting, secara simbolik perayaan seperti itu menunjukkan kegembiraan, namun kemerdekaan tidak cukup diartikan dengan cara yang demikian. Kita seolah merayakan kemerdekaan tapi dalam kehidupan sosial, politik, ekonomi, dan bernegara kita belum menyentuh hal tersebut. 

Jika kemerdekaan kita artikan sebagai kebebasan dalam arti yang lebih dalam, jalan Indonesia menuju ke arah tersebut adalah jalan yang sukar dilalui. ada usianya yang ke tujuh puluh lima tahun, Republik Indonesia dihadapkan kepada beban kebangsaan yang demikian berat. Saat ini di permukaannya gangguan nasional kita sama dengan gangguan global, yaitu pandemi. Namun di dasarnya, kita butuh kemerdekaan, yaitu kemerdekaan yang esensial.

Indonesia memang telah terbebas dari cengkraman bangsa asing, bebas menjalankan politiknya sendiri, namun sepertinya proklamasi menjadi sekadar ganti kulit dari jajahan bangsa asing kepada jajahan yang bersifat nasional. Sekadar transisi terbebasnya bangsa dari determinasi pihak luar tapi secara kehidupan berbangsa-bernegara tidak jauh berbeda. Dikhawatirkan --jangan sampai --pemerintahan sendiri menjadi penjajah baru dengan cara yang baru pula. Di saat ada yang menyatakan gagasannya dan menyuarakan apa yang diyakininya secara massif maka ia ditangkap dengan dalih pencemaran nama baik atau pasal-pasal penghinaan. 

Pembangunan Infrastruktur
Pembangunan Via Fianosa.com
Ketika pemerintah tidak lagi mendengarkan aspirasi rakyat, melakukan penggusuran, dengan dalih menggenjot laju ekononomi. Ketika negara dan pemilik modal bermesraan untuk mengeruk habis kekayaan alam dan meninggalkan rakyat dalam kesengsaraan. Ketika kita lihat di media massa ketika seseorang ibu menggantung diri karena tidak mampu lagi membayar hutang karena ia sendiri dililit oleh kemiskinan. Ketika anak-anak desa belajar dan bersekolah di dalam ruangan yang ala kadarnya, lantai dan dindingnya terbuat dari papan, atapnya bocor, untuk menulis masih menggunakan kapur, jangankan mengakses internet untuk mengakses bacaan yang layak saja mereka tidak bisa. Di saat korupsi masih merajalela, komisi anti rasuah malah dilemahkan. 

Saat anak-anak bangsa harus rela pergi dan menjadi "babu" di luar negeri lantaran tidak mendapatkan akses pekerjaan di negeri sendiri. Saat para pekerja diberikan upah yang jauh daripada kata layak. Apakah itu yang kita sebut dengan kemerdekaan? Saya kira tidak! Selama belum ada kebebasan dalam berpendapat dan berekspresi, selama kemiskinan masih merajalela, ketika keadilan hukum belum bisa didapatkan, maka selama itu belum ada yang namanya kemerdekaan. 

Jika kita memaksakan diri dan ngotot bahwa kita telah merdeka, maka maknanya hanya mentok kepada kemerdekaan kepada segelintir orang, bukan kemerdekaan murni seluruh bangsa. Karena baru segelintir orang yang sejahtera, menikmati keadilan, merasakan kebebasan. Namun kita patut berbangga kepada seluruh rakyat Indonesia, terutama mereka yang kalangan bawah dan menjadi mayoritas --suatu rasa yang berat diberikan kepada makelar negara. 

Betapapun mereka berkawan akrab dengan kemiskinan, kemelaratan, tetap saja rasa cinta mereka tidak pernah luntur terhadap Indonesia. Patriotisme yang tidak pernah bisa ditukar dengan apapun. Kalaupun mereka merasa benci, paling jauh kebencian mereka hanyalah ditujukan kepada birokrat yang sedang berkuasa bukan terhadap Indonesia itu sendiri. Mereka selalu menjaga harapan ketika birokrat telah berganti mereka akan dapat menikmati kehidupan yang layak di negeri ini. 

Pada HUT RI yang ke 75 ini sudah selayaknya negara dapat hadir dalam kehidupan rakyat secara dekat, menciptakan bagi mereka rasa keamanan, menciptakan kesejahteraan, menegakkan hukum dengan berpedoman kepada rasa keadilan. Jalan kita memang masih panjang, dan kita sadar bangsa besar seperti Indonesia juga akan menghadapi tantangan yang juga besar. 

Salam satu cinta Indonesia, dirgahayu Republik Indonesia ke 75. Indonesia hebat, Indonesia kuat. Merdeka, merdeka..!

Penulis : Daniel Osckardo
Name

Aplikasi,1,Aplikasi Resep Masakan,1,Atambua,2,Beasiswa,1,Belajar,1,Bisnis,4,Budaya,6,Cerita,7,Crowdfunding,1,Dari Komunitas,1,Desa,1,Ekonomi,1,Featured,6,Features,1,Fulan Fehan,1,Hukum,13,Internasional,1,Karir,5,Kemenangan,1,Kesehatan,1,Komunitas,1,Leadership,1,Lowongan kerja,4,Menyenangkan,1,Milenial,2,Motivasi,14,Olahraga,1,Opini,111,Pemimpin,1,Pendidikan,16,Pilihan Redaksi,8,Psikologi,1,Publik Speaking,1,Puisi,21,REFLEKSI,2,Review,1,Sosial,28,Teknologi,2,Tips,11,Travel,10,YummyApp,1,
ltr
item
Inspiring Everyone - Fianosa: 75 Tahun Indonesia: Sebuah Refleksi Kebangsaan
75 Tahun Indonesia: Sebuah Refleksi Kebangsaan
https://1.bp.blogspot.com/-iPRJKq2GXDQ/Xz-TYUTIAhI/AAAAAAAAAkQ/OPQf-hgjwpgjzFkuv_Vb7dA8K8HLwIFwgCLcBGAsYHQ/s640/gallery-50-2020-06-25_143327.png
https://1.bp.blogspot.com/-iPRJKq2GXDQ/Xz-TYUTIAhI/AAAAAAAAAkQ/OPQf-hgjwpgjzFkuv_Vb7dA8K8HLwIFwgCLcBGAsYHQ/s72-c/gallery-50-2020-06-25_143327.png
Inspiring Everyone - Fianosa
https://www.fianosa.com/2020/08/75-tahun-indonesia-sebuah-refleksi.html
https://www.fianosa.com/
https://www.fianosa.com/
https://www.fianosa.com/2020/08/75-tahun-indonesia-sebuah-refleksi.html
true
3872901063732751062
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share to a social network STEP 2: Click the link on your social network Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy Table of Content