Uluk Till Yang Mempesona, Dan Tragedi Merenggut Nyawa

Tuhan menciptakan segalanya indah dan istimewa. Siapa sangka, bertahun-tahun lamanya, Belu ternyata menyimpan keindahan yang sangat spekteku...

Tuhan menciptakan segalanya indah dan istimewa. Siapa sangka, bertahun-tahun lamanya, Belu ternyata menyimpan keindahan yang sangat spektekuler dan tidak di ketahui selama ini. Indah memang bahkan terlalu indah untuk sekedar bagus. Lokasinya tersembunyi di tengah perbukitan Belu, dan di cela hutan belantara yang masih sama sekali belum terjamah. Alami, memang sangat alami jauh dari teknologi dan modernisasi. Letaknya tepat di antara dua desa,Yaitu Desa Aitoun (Raihat) dan desa Fulur ( Lamaknen). Jika dari kota kalian melihat megahnya Lakaan, maka Uluk Till ada di sekitar pelataran sang Gunung Tertinggi di Belu ini.

 Uluk Til, surga tersembunyi dalam Rahim Belu yang sangat menghipnotis. saya memiliki banyak rekan rekan yang melakukan kunjungan ke tempat Mahaindah ini saat Pendemi Covid-19, untuk sekedar melepas lelah dan memanjakan mata. Baru seminggu yang lalu, Tulisan sahabat saya Salu Baros, tentang Uluk til ini menjadi trending topik di Google dengan menempati peringkat pertama paling banyak di cari, jelas hal ini menjadi pembuktian bahwa, memang Uluk Till sangatlah indah dan cocok untuk di jadikan tujuan wisata. Beberapa hari terakhir ini Uluk Til begitu ramai dengan kunjungan para traveller, atunsiasme yang tinggi ini membuat masyarakat Belu, menuliskan nama Uluk Till, dalam agenda perjalanan yang siap di datangi. Masih terus ramai, dan semakin ramai, saya selalu memantau melalui sosial media, begitu banyak foto-foto yang terpost dengan caption Uluk Till.
Pengunjung Uluk Till ( Salu Santos) 

Kemarin, tanggal 5 Juli 2020, saya sempat berencana bersama teman-teman saya untuk pergi ke tempat ini dalam perjalanan rombongan, kami memang akan pergi ke tempat ini, hanya masih dalam proses mencari waktu dan penyatuan ide, karena semua dari kami memiliki kesibukan masing-masing.

Tepat pukul 11.00 WITA, saya masih sempat melihat stori whatsapp kaka saya, yang saat itu berada di Uluk Till, Saya masih sempat berdebata panjang lebar karena, Dia sangat melarang saya untuk berkunjung ke tempat itu, sedangkan dia dengan tiba-tiba sudah berada di sana dan bahkan sempat memamerkan keindahan Uluk Till di akun whatsappnya. Lantas dia masih mengingatkan saya bahwa, kondisi dan medan menuju air terjun itu sangat terjal dan berbahaya selain harus menempuh perjalanan yang sangat jauh. Saya sempat memprotes dan bilang saya akan tetap ke sana minggu depan bersama teman-teman saya, dan memang itu agenda yang akan kami tuntanskan. Dia tetap masih melarang dengan keras untuk tidak berkunjung ke tempat itu.
Uluk Till yang mempesona (https://www.fianosa.com) 

Beberapa Jam kemudian, saya kaget saat melihat pembritaan di media, bahkan di dukung oleh video-video yang beredar, bahwa seorang putra Terbaik Belu, Dari Pelataran Lakaan, Rekan Guru pada SMA Makir, Ino Koi tewas tertimpa batu yang jatuh dari tebing bagian kiri air terjun tersebut. Peristiwa ini terjadi tepat pada Hari Minggu, 05 Juli 2020 sekitar jam 12:00 Wita. Pengunjung lainnya berhasil mengevakuasi korban dan di bawa ke RSU Mrg. Gabriel Manek SVD Atambua, namun korban tidak bisa di selamatkan.

Dapat saya banyangkan bahwa kontradiksi dua suasana terjadi saat itu, antara mama yang terbuai manis dan indah oleh kemolekan alami sang air terjun Uluk Till, yang begitu mempesona, dengan bunyi gemuruh air yang mengalir dari puncak bebatuan hingga jatuh pada kumpulan air yang membentuk kolam, di padukan dengan gesekan dahan pepohanan yang juga bersemangat diterpa air siang yang hangat, juga kicauan burung-burung yang beterbangan bebas di angkasa, juga beberapa pengunjung yang menikmati jernihnya air Uluk Till saat menerpa wajah atau tubuh bagi mereka yang berenang. Suara alam yang maha nyata dan tentu sejenak itu adalah surga dunia yang menentramkan dan menyamankan. Saat keindahan itu mencapai ekuivalensi tetinggi, saat bersamaan terjadi peristiwa yang sangat kontras dengan indah bahagia dan harmoni yang sedang di nikmati. Batu yang merupakan salah satu unsur yang memperindah uluk till, terjatuh bergelindirng di dinding batu alami besar itu, dan menimpa tengkuk salah satu Insan Tuhan, yang sedang bersyukur dan menikmati indahnya dunia itu. Hal yang begitu jauh dari dugaan dan perkiraan, siapa sangkah, sang perawan maha indah Uluk Till itu , membunuh seorang putra Lakaan sendiri. Dia rebah ke tanah, di iringi teriakan ketakutan dan kekagetan pengunjung yang lain, seakan sebuah mimmpi buruk yang tidak sempat terlintas sama sekali.
Saudara Ino, yang sebelumnya begitu bersemangat, mendaki melompati batu ke batu, melewati celah ke celah, yang mungkin saja tertawa bahagia dengan teman-temannya, bahwa bahkan masih sempat berfoto ria, mengabadikan moment, dan tiba tiba terkapar tak berdaya tertimpa batu yang menghujam tengkuknya.
Ada apa?
Bagaimana?
Kebingungan, ketakukan dan kepanikan dengan begitu kilat mengganti semua senyuman bahagia, senang dan manja di setiap wajah pengunjung saat batu naas itu membunuh saudara Ino. Canda tawa dan teriakan kepuasan seketika di ganti dengan tangisan sedih mnyayat dan sakit hati tertahan, kebingungan dan kepanikan menguasai semua hati dan wajah pengunjung di siang itu. Bagaimana tidak? dia yang beberapa detik yang lalu masih tersenyum kini terkapar tak berdaya di depan wajahmu?
Selamat Jalan pak Guru Ino Koi, Bahagia disurga teman.
siapa yang salah dengan kepergian ini? alam menghendaki dan Tuhan berkuasa atas kedidupan setiap kita di dunia ini?
tidak ada yang perlu di salahkan, jika waktunya kita di panggil pulang, maka kita harus pulang.

Uluk Till yang indah ini, belum banyak di kabarkan dan di beritakan secara detail soal sejarah eksistensinya ataupun dikaitkan dengan adat dan kepercayaan orang Aitoun dan pelataran Lakaan ini. Hemat, saya, semua tempat yang ada di Belu ini, memiliki sejarah, dan Pamali atau di sakralkan karena memiliki nilai nilai adat istiadat yang di percaya dan di pegang teguh oleh leluhur dan kita sebagai pemilik tanah Belu ini.

Air terjun ini meripakan daerah tujuan wisata baru, yang diketahui belum di buka secara resmi untuk umum. Seperti kebiasaan yang saya ketahui di oleh orang Belu, sebenarnya setiap pembukaan tempat baru harus di lalui dengan upacar adat, yakni untuk meminta ijin kepada penjaga tempat itu untuk memberikan kesepatan kepada pengunjung untuk melihat sekaligus meminta leluhur yang memiliki tempat itu untuk menjaga para pengunjung. Hal ini sebenarnya harus di pertahtikan karena, Orang Belu, adalah generasi penerus Leluhur yang memiliki kewajiban untuk mempertahan nilai nilai asli adat istiadat dan budaya kita. Saya membaca dari bebrapa artikel yang menginformasikan bahwa sebernarnya Air Terjun Uluk Till itu belum di buka secara resmi, karena mengingat mendan dan kondisi tempat itu sangat berbahaya dan beresiko. Akan tetapi Karena bebas, maka pemerintah desa tidak bisa melarang pengunjung yang semakin ramai berkunjung.
Siapa yang salah?
Tidak ada yang salah
Mari kita kembali merefleksi diri.

Uluk Till merupakan tempat pemali, dalam bahasa Bunaq Mugen Golo dan dalam bahasa Tetun Matebian fatin yang artinya tempat tinggalnya para arwah leluhur, yang jelas untuk bisa berkomuniksi dengan arwah kita harus menggunakan upacara adat. Menurut cerita para tetua desa Aitoun, air terjun ini merupakan milik suku Bunaq Aitoun, yang di percaya, Air terjun ini merupakan tempat yang sangat sakral. air terjun ini merupakan tempat mandi bagi para leluhur di zaman dahulu kala dan di yakini sebagai tempat mandi dari para roh roh leluhur. Jika tempat ini sudah sangat keramat, maka tidak sembarang orang akan dijinkan masuk ke dalamnya,kecuali yang telah di jamah oleh tetua adat pemilik tempat ini.
Pater Benediktus berkat, SVD dalam artikelnya menjelaskan bahwa Uluk till, tepatnya di puncak bukit Aitoun Tas dahulu kala menjadi sebuah sebuah tempat yang strategis bagi para leluhur suku Bunaq Aitoun dalam menyusun rencana, taktik dan strategi perang untuk melawan musuh, dan juga puncak Uluk Till menjadi tempat untuk mengintai musuh yang datang menyerang selain menjadi tempat tinggal dan persembunyian yang aman bagi para leluhur. tentu saja tempat ini menjadi tempat yang sangat di sakralkan dan di sucikan.
Sudah selayaknya dan sepantaskan kita meminta restu alam dam ijin dari lelulur untuk sekedar melihat dan menikmati pemandangan yang indah.
Kita hidup di zaman yang canggih dan moderen, tapi hal yang perlu kita ingat adalah, kita memiliki budaya dan kepercayaan adat yang kuat, yang perlu kita junjung tinggi dan kita laksanakan dalam kehidupan kita. Kita orang Belu, kita memiliki budayakita berkewajiban menjunjung tinggi budaya kira, adat istiadat kita dan identitas kita.
Tidak ada yang perlu di salahkan atas kejadian ini?
Manusia berhak mencintai alam, menikmatinya dan memujanya.
tidak ada yang perlu di salahkan.
ini adalah kisah dan cerita yang akan akan menjadi sejarah bagi kita warga Belu.

Saudara Ino,
Semangatmu akan abadi pak guru.
kau mencintai Uluk Till,
kita mencintai Uluk Till.
Uluk Till, Tidak membencimu
Alamya tidak memarahimu,
Tapi apa hebatnya kita menahanmu
Jika Tuhan pemilikmu telah memanggilmu kembali?
apa gunanya kami berteriak memanggilmu,
jika Tuhan kita telah menunggumu dengan tangan terulur?
Kau adalah putra Belu,
yang terlahir juga dari rahim Lakaan yang megah.
Pelataran Lakaan yang menajdi tempatmu berlari
dinginnya Malam yang membesarkanmu
karang karang terjan bukit yang menguatkanmu
dan tersenyumlah sekarang
kau telah mencapai garis akhir
dan kau pergi dalam pelukan Indahnya Uluk Till yang maha indah.
kami akan selalu mengenangmu, walau kau tak pernah ku kenali dan jumpai
satu yang yang pasti, kita sama-sama putra putri Lakaan yang sama tersenyum saat mentari pagi menjamah lebatnya pepohonan Lakaan kita
bahagia di sana
tempatmu yang baru tentu lebih indah dari Uluk Till
Jika nanti kau jumpai leluhur kita, kakek, nenek,
sampaikan kepada mereka
Jagalah kami di sini, Lakaan memang megah,
tapi Dia masih membutuhkan senyuman kami,

COMMENTS

GOOGLE: 1
  1. Wahh.. Turut Berduka untuk Pak Ino.

    Sukses Selalu untuk Teman Penulis

    ReplyDelete

Name

Aplikasi,1,Atambua,2,Beasiswa,1,Belajar,1,Bisnis,4,Budaya,6,Cerita,7,Crowdfunding,1,Dari Komunitas,1,Desa,1,Ekonomi,1,Featured,6,Features,1,Fulan Fehan,1,Hukum,13,Internasional,1,Karir,5,Kemenangan,1,Kesehatan,1,Komunitas,1,Leadership,1,Lowongan kerja,4,Menyenangkan,1,Milenial,2,Motivasi,14,Olahraga,1,Opini,106,Pemimpin,1,Pendidikan,16,Pilihan Redaksi,6,Psikologi,1,Publik Speaking,1,Puisi,19,REFLEKSI,2,Sosial,26,Teknologi,2,Tips,11,Travel,10,
ltr
item
Inspiring Everyone - Fianosa: Uluk Till Yang Mempesona, Dan Tragedi Merenggut Nyawa
Uluk Till Yang Mempesona, Dan Tragedi Merenggut Nyawa
https://1.bp.blogspot.com/-9xa5r4u8Hug/XwJ8SxrVLlI/AAAAAAAAA-w/dujQRRy1CPAGvkeAK7E9Xain1c0d6dCAwCK4BGAsYHg/uluk%2Btil.jpg
https://1.bp.blogspot.com/-9xa5r4u8Hug/XwJ8SxrVLlI/AAAAAAAAA-w/dujQRRy1CPAGvkeAK7E9Xain1c0d6dCAwCK4BGAsYHg/s72-c/uluk%2Btil.jpg
Inspiring Everyone - Fianosa
https://www.fianosa.com/2020/07/uluk-till-yang-mempesona-dan-tragedi.html
https://www.fianosa.com/
https://www.fianosa.com/
https://www.fianosa.com/2020/07/uluk-till-yang-mempesona-dan-tragedi.html
true
3872901063732751062
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share to a social network STEP 2: Click the link on your social network Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy Table of Content